Indonesia dikenal sebagai bangsa yang rukun. Wajar, jika potret kerukunan warganya bisa dijumpai di banyak tempat, termasuk di Aceh, provinsi yang terletak di wilayah paling barat di Indonesia dan menerapkan hukum pidana Islam (Jinayat).

Wajah kerukunan masyarakat Aceh antara lain tampak di Gampong (Kampung) Peunayong. Tahun 2019, Gampong Peunayong ditetapkan sebagai Kampung Sadar Kerukunan oleh Kementerian Agama. Ini merupakan kampung ke-2 di Banda Aceh yang menjadi wilayah percontohan dalam kerukunan warganya..

Bagaimana aktivitas keagamaan di Gampong Peunayong, khususnya etnis Tionghoa? Bagaimana pula peran dan aktivitas warga sini saat bencana Tsunami 2004? Simak perbincangan Tim Humas Kemenag Kurniawan dan Romadaniel (fotografer) dengan tokoh Agama Buddha Tionghoa Banda Aceh Yuswar dan Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Provinsi Aceh Ketut Panji Budiawan di Gampong Peunayong Banda Aceh.

Sejak usia berapa pak Yuswar tinggal di Aceh?
Saya sudah lahir di Aceh. Kakek nenek saya  tahun 1910 datang ke Aceh. Saya lahir tahun 1951. Sekarang umur sudah  70 tahun. Jadi dari kecil saya sudah di Aceh.

Kalau Vihara ini tahun berapa pak berdirinya?
Vihara ini berdiri tahun 1936.

Wah cukup lama ya, Pak?
Betul Mas. Awalnya tempat ini bukan Vihara, tapi mess untuk warga Chinese suku Hokkian. Jadi di sini ada beberapa suku Chinese, di antaranya suku Hokkian, Hakka, Kanton, Tiochio, dan Hainan. Karena dulu belum ada hotel, maka para warga keturunan jika ke Aceh menginap lah di sini.

Lama kelamaan, seiring waktu berkembangnya kota, tempat ini menjadi Vihara untuk tempat ibadah umat Buddha di Aceh.

Bagaimana umat Buddha melaksanakan ibadah di Aceh, apakah ada kendala?
Saya keturunan Tionghoa, tapi saya adalah orang Aceh. Dari berpuluh tahun lalu saya tinggal di sini, belum pernah mendapatkan masalah dalam melaksanakan ibadah. Kami hidup rukun. Meskipun Aceh didominasi warga muslim, tapi kami sangat nyaman berada di sini.

Pada acara tahun baru Imlek misalnya, kami beribadah, membuat kegiatan. Banyak warga yang datang ke daerah sekitar vihara. Tapi kedatangan mereka bukan untuk mengganggu ibadah kami. Warga mungkin ingin tahu bagaimana kami beribadah, bagaimana kami merayakan hari raya dan itu merupakan kehormatan bagi kami.

Sangat menarik ya Pak, lalu bagaimana sikap warga non Islam menjalani keseharian di tengah pemberlakuan hukum pidana Islam atau Jinayat di Aceh, Pak?
Kami menjalani keseharian seperti biasanya. Kami umat non muslim tidak pernah merasa terganggu oleh hukum ini. Memang dalam aturannya, hukum jinayat itu berlaku juga non muslim, bagi yang mau. Jadi warga non muslim bisa memilih akan dihukum dengan hukum KUHP atau dengan hukum Jinayat. Perlu saya tekankan, pemberlakuan hukum ini bagi non muslim tidak ada paksaan. Semua pelanggar ditanya akan dihukum dengan cara apa?

Jadi banyak isu yang beredar dan membuat keruh suasana, sehingga jadi banyak isu sara yang ada. Kami sangat rukun dan tidak ada paksaan melaksanakan hukum ini.

Kami warga non Islam mendukung kearifan lokal yang dibuat oleh pemerintah, dan sekali lagi, tidak ada paksaan. Bahkan, saat pembahasan tentang ini, kami warga non muslim turut diundang untuk ditanyai pendapatnya.

Boleh Pak diceritakan, bagaimana Gampong Peunayong ini bisa menjadi kampung sadar kerukunan di Aceh?
Kampung ini menarik. Kalau nanti sempat, bisa melihat di kampung ini terdapat beberapa rumah ibadah dengan agama berbeda-beda, ada beberapa masjid, beberapa gereja, beberapa vihara, juga kuil. Masyarakat juga hidup berdampingan, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda. Kami yakin menyembah Tuhan yang Esa, meski dengan cara berbeda-beda.

Saya juga meyakini, setiap agama mengajarkan kebaikan. Apapun agamanya, pasti diajarkan cara mencintai sesama, saling menghormati, dan daling menghargai.

Inilah Indonesia yang sesunggunya. Karena dari zaman dahulu, hidup berdampingan merupakan ciri dari negara kita. Tentu ini perlu kita pertahankan.

Tahun 2019 lalu, kami juga menerima penghargaan Harmony Awards dari Kementerian Agama. Kami sangat berterima kasih untuk itu. Ini bukti bahwa kampung kami sangatlah rukun hingga pemerintah memberikan kami penghargaan ini.

Dari dulu, banyak warga dari provinsi lain bahkan warga negara tetangga bertanya tentang bagaimana menjaga toleransi di Aceh ini? Bagaimana warga non muslim bahkan warga keturunan dapat dengan nyaman beribadah dan menjalankan keseharian di tengah aturan pemberlakuan hukum Jinayat di Aceh? Pertanyaan yang membuat kami bangga, ini pujian. Kami hidup layaknya keluarga, meski beda keyakinan.

Saya dengar, Vihara ini juga dijadikan tempat barang-barang bantuan dan dapur umum pada saat bencana Tsunami tahun 2004 lalu, apa benar Pak?

Iya benar sekali, saya tidak akan lupa momen itu. Vihara ini berubah menjadi tempat penampungan barang-barang bantuan, ada juga dapur umumnya. Jadi semua ruangan kami sulap menjadi semacam gudang yang waktu itu mungkin sekitar tiga bulan menjadi tempat penyaluran bantuan, juga sebagai dapur umum. 

Kami juga menyadari mungkin ada kekhawatiran masyarakat sekitar untuk memakan makanan yang kami masak, karena mungkin kehalalannya. Maka dari itu, kami meminta warga sekitar yang muslim untuk memasak agar semua warga dapat menikmati makanan yang berasal dari Vihara ini.

Kalau menurut Pak Panji, bagaimana pola kerukunan yang ada di Aceh, Pak?
Saya bertugas di Aceh sudah masuk tahun kedua. Jadi informasi yang saya terima tentang kerukunan di Aceh awalnya memang miring, Mas. Bahkan, ketika saya diperintahkan untuk  tugas ke Aceh, orang-orang di sekitar saya yang terkesan khawatir, kenapa harus di Aceh? Bagaimana nanti di sana?

Namun, ketika saya sudah masuk ke Aceh, semuanya berbanding terbalik dari informasi yang saya dapatkan. Bahkan, ketika saya mendarat di bandara, saya masih seperti merasa di kampung halaman saya, suasananya damai, seperti saya di Bali.

Bagaimana dengan aktivitas ibadah di wilayah binaan, Pak?
Kami sudah melakukan pembinaan ke beberapa wilayah. Sejauh ini tidak ada masalah, apalagi yang berhubungan dengan sara. Ritual pun berjalan dengan baik. Semua lancar sesuai dengan harapan, saya juga berharap terus damai seperti ini. Sehingga, stigma tentang intoleransi di Aceh dapat hilang karena kami nyaman berada di sini.

Terima kasih pak, wawancara ini sangat menginspirasi. Sehat dan sukses selalu ya, Pak.

Sumber: kemenag.go.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar