Ketua Pokja Moderasi Beragama Kemanag, Prof. Dr. Oman Fathurahman menjelaskan tentang pentingnya penerapan moderasi beragama ditengah kemajemukan Indonesia.

Menurutnya, sebagai bangsa yang masyarakatnya amat majemuk, kita sering menyaksikan adanya gesekan sosial akibat perbedaan cara pandang masalah keagamaan. Ini tak ayal dapat mengganggu suasana rukun dan damai yang kita idam-idamkan bersama.

Ia memberi contih, pada waktu tertentu misalnya, ada umat beragama yang membenturkan pandangan keagamaannya dengan ritual budaya lokal seperti sedekah laut, festival kebudayaan atau ritual budaya lainnya. Diwaktu yang lain pula juga disibukkan dengan penolakan pembangunan rumah ibadah disuatu daerah meski syarat dan ketentuan nya sudah tidak bermasalah karena umat mayoritas daerah itu tidak menghendaki, masyarakat menjadi berkelahi diwaktu lainnya.

“Kita disibukkan dengan sikap eksklusif menolak pemimpin urusan publik negara beda agama ini terjadi mulai dari tingkat pemilihan gubernur, bupati, walikota, camat, RW/RT hingga ketua OSIS,” ungkapnya.

Ia juga mengimbuhi, selain itu ada lagi orang yang atas nama agama ingin mengganti ideologi negara yang sudah menjadi kesepakatan bersama bangsa kita, yang juga mengkhawatirkan ada pula seruan atas nama jihad agama untuk mengkafirkan sesama bahkan boleh membunuh, menghunus pedang, memenggal kepala dan menghalalkan darah. Ini semuanya fakta yang kita hadapi karena keragaman paham umat beragama di Indonesia memang amat tak mungkin alias mustahil kita bisa menyatukan cara pandang keagamaan umat beragama di Indonesia.

Melihat permasalahan-permasalahan yang ada tersebut, kerap timbul pertanyaan dari masyarakat tentang bagaimana upaya yang dapat dilakukan guna menyikapinya. Menurut Oman hal tersebit tentu tidak bisa dibungkam, namun walaupun demikian juga harus ada upaya yang tetap dilakukan agar persatuan tidak terganggu.

“Membungkamnya jelas tidak mungkin karena itu bagian dari kebebasan ekspresi beragama. Tapi membiarkan tanpa kendali keragaman pandangan yang ekstrem juga bisa membahayakan persatuan dan kesatuan, apalagi ihwal agama adalah hal yang teramat sensitif untuk disepelekan,” jelasnya.

Tentang Moderasai Beragama
Oman menjelaskan, Kementerian Agama sudah menawarkan sebuah solusi beragama jalan mana yang disebut moderasi beragama. Namun, ia juga mengingatkan Jangan buru-buru menilai bahwa beragama Jalan Tengah berarti beragama setengah-setengah, liberal.

Secara bahasa, moderat adalah sebuah kata sifat, turunan dari kata moderasi yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti kesenangan, tidak kelebihan dan tidak kekurangan alias seimbang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata moderasi didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan atau penghindaran, maka ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama menjadi moderasi beragama.

Adapun lawan kata moderasi adalah yang dalam bahasa Inggris mengandung makna ekstrem radikal dan ekspresif, bisa juga dalam pengertian berlebihan. Jadi tidak ekstrem adalah salah satu kata kunci paling penting dalam moderasi beragama karena ekstrimitas dalam berbagai bentuknya diyakini bertentangan dengan esensi ajaran agama dan cenderung merusak tatanan kehidupan bersama baik dalam kehidupan beragama maupun bernegara

“Karenanya kalau mau dirumuskan moderasi beragama itu adalah cara pandang sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil dan berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa,” jelasnya.

Pentingkah Moderasi Beragama di Indonesia?
Menurut Oman, moderasi beragama sangat penting, karena Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat religius dan sekaligus majemuk, meskipun bukan negara berdasar agama tertentu masyarakat Indonesia sangat lekat dengan kehidupan beragama tidak ada satupun urusan sehari-hari yang tidak berkaitan dengan agama. Itu mengapa kemerdekaan beragama juga dijamin oleh konstitusi kita.

“Tugas kita adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air,” paparnya.

Praktik Agama Ekstrim Seperti Apa?
Ada 3 ukuran yang bisa menjadi patokan, Menurut Oman, pertama dianggap ekstrem kalau atas nama agama seseorang melanggar nilai luhur dan harkat mulia kemanusiaan, karena agama diturunkan untuk memuliakan manusia

Dua, dianggap ekstrem kalau atas nama agama seseorang melanggar kesepakatan bersama yang dimaksudkan untuk kemaslahatan

Ketiga, dianggap ekstrem kalau atas nama agama seseorang kemudian melanggar hukum. Jadi orang yang atas nama menjalankan ajaran agamanya tapi melanggar ketiga batasan tadi itu bisa disebut ekstrem dan melebihi batas logikanya.

“Kemuliaan agama itu tidak bisa ditegakkan dengan cara merendahkan harkat kemanusiaan, nilai moral agama juga tidak bisa diwujudkan melalui cara yang bertentangan dengan tujuan kemaslahatan umum, begitu pula esensi agama tidak akan bisa diajarkan dengan cara melanggar ketentuan-ketentuan hukum yang sudah disepakati bersama,” tegasnya.

Ia menuturkan tentang pentingnya belajar dari pengalaman berdasarkan perbedaan karena potensi konflik sangat mungkin terjadi disana.

“Kita harus belajar dari pengalaman yang ada, keragaman dibidang apa pun memang pasti menimbulkan adanya perbedaan. Apalagi yang terkait dengan agama dan harus diakui bahwa perbedaan itu apalagi yang tajam dan ekstrem dimanapun selalu memunculkan potensi konflik. kalau tidak dikelola dengan baik potensi konflik seperti ini bisa melahirkan sikap ekstrem,” imbuhnya.

Dalam membela tafsir, klaim kebenaran versi masing-masing kelompok yang berbeda terjadi, padahal dalam hal tafsir agama yang maha mengetahui kebenaran sejatinya hanya Tuhan belaka, seringkali perbedaan yang diperebutkan itu sesungguhnya sebatas kebenaran tafsir agama yang dihasilkan oleh manusia, bukan kebenaran esensial yang merupakan pokok agama itu sendiri yang dikehendaki oleh Tuhan yang maha kuasa.

Konflik yang berlatar belakang perbedaan klaim kebenaran tafsir agama tentu daya rusaknya akan lebih dahsyat lagi karena agama itu amat berkaitan dengan relung emosi terdalam dan terjauh didalam jiwa setiap manusia. Itulah mengapa moderasi beragama penting hadir di Indonesia.

Ia bisa menjadi solusi untuk menciptakan kerukunan, harmoni sosial sekaligus menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama, menghargai keragaman, tafsir dan perbedaan pandangan serta tidak terjebak pada ekstrimisme intoleransi dan kekerasan atas nama agama.

“Yang disebut moderat itu bukan orang yang dangkal keimanannya, bukan orang yang menganggap sepele tuntunan agama dan bukan pula orang yang ekstrim liberal. Orang yang moderat adalah mereka yang saleh, berpegang teguh pada nilai moral dan esensi ajaran agama serta memiliki sikap cinta tanah air, toleran, anti kekerasan terhadap keragaman budaya lokal ,” paparnya.

Moderasi dan Kemajuan Indonesia
Menurutnya, semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrim dalam beragama. Disatu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem yang meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama lalu menganggap sesat mereka yang memiliki tafsir yang berbeda dengannya, disisi lain ada juga umat beragama yang ekstrem mengabaikan kesucian agama atau mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya atas nama toleransi kepada pemeluk agama lain.

Kedua, sikap ekstrem ini perlu dimoderasi dan harus diingat moderasi beragama adalah tanggung jawab bersama, beragama tidak mungkin berhasil menciptakan kerukunan kalau hanya dilakukan oleh perorangan atau institusi tertentu saja seperti Kementerian Agama.

“Kita perlu bekerjasama dan saling bergandengan tangan mulai dari masyarakat luas, kegiatan pendidikan formal keagamaan, media, para politisi, dunia birokrasi dan aparatur sipil negara,” tegasnya.

Beragama itu sesungguhnya adalah jati diri kita sendiri jati diri bangsa Indonesia, kita adalah negeri yang sangat agamis, umat beragama kita amat santun, toleran dan terbiasa bergaul dengan berbagai latar keragaman etnis, suku dan keragaman budaya. Toleransi ini pekerjaan rumah atau PR kita bersama karena kalau intoleransi dan ekstrimisme dibiarkan tumbuh berkembang cepat atau lambat keduanya akan merusak sendi-sendi ke Indonesia kita

“Itulah mengapa moderasi beragama menjadi sangat penting dijadikan sebagai cara pandang sikap dan perilaku dalam beragama dan bernegara,”.

Terakhir, ia menyatakan moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dengan komitmen berbangsa dan bernegara. Yakinlah bahwa bagi kita, bagi bangsa Indonesia beragama pada hakikatnya adalah Indonesia dan Indonesia itu pada hakekatnya adalah beragama.

Beragama harus kita jadikan sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang rukun, harmonis, damai toleransi serta konstitusi sehingga kita bisa benar-benar menggapai cita-cita bersama menuju Indonesia maju. (Rio P).

Sumber: kabardamai.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar