Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Meskipun tidak ada konflik, Desa Ngargoyoso, Desa Puntukrejo, Desa Berjo, dan Desa Kemuning di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah mendeklarasikan diri sebagai desa sadar kerukunan (Solopos, 10 April 2021).

Deklarasi itu juga bukan dalam rangka rekonsiliasi konflik, tapi upaya mempertegas komitmen bersama untuk menjaga kerukunan. Oleh karena itulah disebut sadar kerukunan. Secara linguistik, kesadaran mencerminkan pengetahuan, pemahaman, keyakinan pribadi maupun kelompok. Ada kontrol diri dan keadaan normal atau ideal.

Menurut Camat Ngargoyoso, Dwi Cahyono, dalam sambutannya pada acara Festival Toleransi Ngargoyoso 2021, menjaga kerukunan jauh lebih penting dan menjaganya harus dengan kesadaran penuh. Jika sudah ada konflik, dampaknya bisa melebihi pandemi Covid-19.

Keseriusan merawat dan menjaga kerukunan juga diungkapkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Ia meminta institusi kesatuan bangsa dan politik membentuk tim terpadu penanganan konflik sosial di setiap daerah di Indonesia.

Dalam rancangan tim ini mencakup tiga subtim. Pertama, untuk identifikasi dan pencegahan konflik. Kedua, untuk penghentian kekerasan. Ketiga, pemulihan dan rekonsiliasi konflik. Dengan demikian 70% penanganan konflik sosial adalah pencegahan.

Kesadaran pemerintah dalam merawat kerukunan perlu diapresiasi, namun kesadaran pemerintah saja tidak cukup. Perlu peran aktif masyarakat agar program dan pendekatannya tidak terkesan top down. Pelibatan masyarakat penting karena mereka yang paling mengerti konteks wilayah, paling merasakan manisnya kerukunan, dan juga yang paling merasakan dampak apabila kerukunan itu hilang.

Tugas berat di balik gagasan pembentukan tim penanganan konflik adalah membangun kesadaran masyarakat untuk merawat kerukunan. Situasi rukun tidak datang dengan sendirinya. Kerukunan lestari karena keseimbangan, keadilan, dan nilai-nilai luhur yang disepakati bersama. Mayoritas masyarakat Indonesia jauh dari konflik terbuka dan merasakan kerukunan tanpa harus bersusah payah.

Akhirnya banyak mengemuka anggapan persoalan kebinekaan, toleransi, dan kerukunan sudah selesai, padahal dinamika sosial selalu berubah dan konflik adalah bagian dinamika itu, apalagi dalam negara seplural Indonesia. Oleh karena itulah, konflik adalah keniscayaan. Tidak ada masyarakat yang lepas dari potensi konflik.

Masyarakat yang sadar kerukunan bagaikan orang sudah mendapat vaksin. Mereka mempunyai antibodi yang merespons secara otomatis ketika potensi ”penyakit” konflik muncul. Makna sadar kerukunan adalah mau menciptakan keadaan selaras, tenang, tenteram, tanpa perselisihan, dan bersatu dalam arti saling membantu.

Sadar kerukunan juga berarti ada kontrol dari masing-masing warga, sanggup membawa diri, bisa menyesuaikan diri dengan keragaman. Kesadaran adalah kunci pengendalian diri dan pengendalian diri membutuhkan pengetahuan terhadap yang berbeda agar terbangun kesalingan dan rasa empati.

Lintas Iman
Deklarasi desa sadar kerukunan di Kecamatan Ngargoyoso diikuti penandatanganan prasasti kerukunan oleh komunitas lintas iman (Janur Lawu, Sekar Ayu, Komunitas Rotan) dan pemerintah setempat. Selain menunjukkan komitmen antara pemerintah dan masyarakat, prasasti seperti dalam sejarah kerajaan dahulu menunjukkan peristiwa penting, sakral, dan dihormati.

Jika melihat sejarah Ngargoyoso, deklarasi dan penandatanganan prasasti ini merupakan bentuk formalisasi. Kerukunan sudah ada di Ngargoyoso sejak dulu. Tentu bukan berarti deklarasi dan prasasti tidak penting. Ini merupakan bentuk perjanjian sosial, pemahaman bersama dalam rangka tertib sosial.

Eksistensi masjid, gereja, dan pura dalam satu kompleks di Desa Ngargoyoso adalah simbol kerukunan dan menjadi infrastruktur keras untuk membangun toleransi. Tidak pernah ada catatan konflik dalam pengelolaan tiga rumah ibadah yang saling berhadapan tersebut.

Itu menunjukkan infrastruktur lunaknya juga terbangun. Lestarinya kerukunan dalam kemajemukan merupakan cerminan mutu keagamaan dan keadaban masyarakat. Dipilihnya gong sebagai bagian deklarasi yang mempunyai akar tradisi Jawa menandakan kearifan lokal adalah bagian akar kerukunan di masyarakat.

Gema gong yang mengiringi deklarasi membawa pesan dan harapan kerukunan atas semua golongan. Gong juga digunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai simbol perdamaian dunia. Di sisi lain, gong sebagai alat seni menandakan pemahaman agama dan sikap sosial harus seperti seni yang bisa diterima dan bersifat menggembirakan bagi semua.

Menjaga kearifan lokal berarti menjaga kerukunan. Nilai-nilai kearifan lokal dalam bentuk tradisi dan norma sosial dapat memperkuat modal sosial dan kerukunan. Upaya menjaga kearifan lokal bisa dimulai dari lingkup keluarga. Penggunaan bahasa Jawa untuk komunikasi misalnya, apalagi dengan basa krama, adalah contoh kearifan lokal yang harus dijaga.

Penggunaan bahasa lokal akan menjadi tata bahasa kehidupan yang terekspresikan dalam perilaku, cara berpikir, dan cara membawa diri. Bahasa lokal juga digunakan dalam deklarasi dan prasasti di Ngargoyoso. Pada akhir sesi diungkapkan dengan lantang sesanti rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.

Kesadaran Toleransi
Ngargoyoso mampu menumbuhkan kesadaran tentang kerukunan, toleransi, karena mereka adalah masyarakat yang terbuka. Contohnya, saat  perayaan Natal, para tokoh agama dan pejabat pemerintahan setempat diundang. Para tokoh menyampaikan selamat dan memberi sambutan di dalam gereja.

Pengelola gereja juga menyesuaikan dengan komunitas lintas iman, salah satunya acara Natal dibuat lebih nasionalis dan para tokoh diundang bukan saat peribadatan. Lebih jauh lagi, dalam pembangunan rumah ibadah juga melibatkan masyarakat lintas iman. Contohnya Pura di Kemuning. Masyarakat lintas agama secara suka rela membantu membangun sehingga pura itu dinamakan Pura Tunggal Ika.

Agama dalam masyarakat toleran, seperti yang disampaikan Durkheim, memiliki fungsi integratif, perekat, pemersatu secara sosial melalui spirit ketuhanan dan kemanusiaan. Ini bisa terjadi karena narasi keagamaan yang berkembang kontekstual, lentur, dan inklusif.

Masyarakat yang demikian mempunyai daya adaptif, gradualistik, estetik, dan toleran. Mereka mampu berpikir sintesis, bisa menjembatani agama, budaya, dan realitas. Perbedaan dalam pandangan mereka diterima dengan kegembiraan, bagian dari kesempurnaan, yang melahirkan sifat welas asih dan saling menghormati.

Kesadaran toleransi adalah tantangan berpikir kritis. Ketika bertemu dengan yang berbeda, kita dituntut memahami dari perspektif mereka. Dengan demikian, secara otomatis kita dibimbing untuk melihat keterbatasan dan kekurangan pemahaman kita. Dari sini, kita akan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih luas.

Intinya, hubungan lintas iman akan membawa pada pemahaman luas dan mendalam bagi mereka yang terlibat. Itulah masyarakat terbuka. Dalam era keterbukaan informasi dan digitalisasi, menjadi masyarakat modern yang terbuka adalah keniscayaan. Keterbukaan tidak hanya untuk toleransi, tapi juga untuk menghindarkan dari ancaman disinformasi, distorsi, dan disharmoni dalam masyarakat.

Menjadi masyarakat modern berarti menjadi individu yang mempunyai kontrol diri, individu yang otonom: melakukan kebaikan berdasarkan kesadaran dan kehendak hati, bukan karena intervensi atau untuk membanggakan diri. Masyarakat terbuka bukan berarti meninggalkan tradisi, tapi masyarakat yang mampu melakukan integrasi antara tradisi dan modernisasi.

Membiarkan pikiran dan hati tertutup berarti membiarkan relung jiwa berkabut. Kalau cermin hati dan pikiran tertutup akan gelap, segala cahaya kebenaran akan terpental. Oleh karena itulah, kegelapan hati dan pikiran harus diterangi dengan jalan cahaya. Satu-satunya jalan adalah menjadi terbuka.

Kalau iman merupakan cahaya maka setiap orang beriman harus memancarkan cahaya dan hal ini juga hanya bisa dilakukan jika ada keterbukaan. Keterbukaan bisa diusahakan dengan memperluas ruang perjumpaan, memperluas jaringan, memperluas jangkauan pertemanan, serta memperkuat semangat kebinekaan.

Sumber: solopos.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar