Dari enam karyawan gereja, dua di antaranya beragama Islam yang bekerja tanpa khawatir kehilangan prinsip beragama.

Selama puluhan tahun, kehangatan toleransi di Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi, Klaten, terawat tanpa cacat. Dari enam karyawan gereja, dua di antaranya beragama Islam yang bekerja tanpa khawatir kehilangan prinsip beragama.

Adalah Mujiono, 60, dan Suparji, 51, dua muslim yang menjadi karyawan gereja tersebut. Mereka menjadi pembantu umum gereja.

Muji warga Dukuh Dupuk, Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno. Muji bekerja menjadi karyawan gereja di Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi itu selama 37 tahun atau sejak 1984. Meski sudah lewat usia pensiun, Muji masih setia bekerja di gereja tersebut dan pernah mengalami pergantian 17 pastor. Awal bekerja memiliki seorang anak hingga dia memiliki lima anak.

Muji menceritakan awalnya bekerja di Sendang Sriningsih, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Baru sebulan bekerja di tempat itu, seorang pastor bernama Rama Biyanto menawarinya untuk bekerja menjadi petugas kebersihan gereja. Saat itu, Muji belum mengiyakan lantaran harus berembuk dengan keluarga. Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga, Muji mulai bekerja menjadi petugas kebersihan gereja di Wedi.

Muji tak menyangka ketika kali pertama bekerja menjadi petugas kebersihan gereja. Dia diterima dengan hangat. Bahkan, Muji menerima sajadah dan peci untuk sarana beribadah agar dia semakin rajin beribadah sesuai keyakinannya. Setiap kali azan berkumandang, Muji kerap diingatkan pastor gereja untuk menjalankan salat. Muji pun bergegas ke masjid yang berdekatan dengan gereja.

Tak jarang, Muji mengumandangkan azan di masjid tersebut. Meski pastor berulang kali berganti, mereka sama-sama rajin mengingatkan Muji untuk taat beribadah sesuai keyakinannya.Tak hanya pastor, umat gereja pun tak pernah memberikan sikap diskriminasi terhadap Muji. Justru sebaliknya, mereka mendukung Muji untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

Ketika Ramadan tiba, Muji tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang. Begitu pula ketika Idulfitri atau hari besar agama Islam lainnya, Muji dan karyawan gereja yang muslim lainnya mendapatkan jatah libur. Selain jatah libur, Muji serta satu karyawan muslim yakni Suparji menerima bingkisan yang salah satu isinya sarung.

“Saat Lebaran saya pernah masuk mau kerja. Justru saya dimarahi dan diminta pulang untuk merayakan Lebaran,” kata Muji saat ditemui di Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi, Senin (1/11/2021) siang.

Sehari-hari Muji bertugas membersihkan halaman gereja. Selain itu, dia bertugas mendatangi rumah umat gereja yang menyiapkan makanan untuk pastor. Muji dikenal sebagai peracik minuman teh nasgitel yang handal yang kerap disajikan ketika ada kegiatan di gereja. Enam hari dalam sepekan, Muji bekerja dari pukul 08.00 WIB dan biasa pulang pukul 15.30 WIB. Muji memilih libur pada Hari Jumat agar fokus menjalankan ibadah Salat Jumat.

Muji sejatinya pensiun sebagai karyawan gereja pada 2019 lalu bertepatan dengan usianya 58 tahun sesuai dengan aturan yang diterapkan di gereja. Namun, Muji memohon agar bisa tetap bekerja di gereja hingga raganya tak kuat lagi. Keinginan Muji itu diiyakan hingga Muji kini tetap setia menjadi karyawan gereja.

Selama puluhan tahun bekerja di gereja, Muji membaur dengan umat gereja hingga dikenal umat gereja dari generasi ke generasi. Pria yang dikenal jenaka itu tak sungkan bercanda dengan pastor gereja.

Tidak Menyangka
Bagi Muji, bekerja di rumah ibadah umat yang berbeda keyakinan dengannya tak jadi soal. Muji pun mengaku tak pernah menerima pertentangan dari berbagai pihak. Dia berprinsip selama bisa membina pertemanan, siapa pun bisa diterima meski berada di lingkungan berbeda keyakinan.

Pun halnya dengan Suparji, 51. Pria yang tinggal di Dukuh Pule, Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi itu tak pernah menerima diskriminasi dari umat gereja sejak dia menjadi karyawan sejak April 2014. Suparji pun menegaskan hingga saat ini tak pernah ada yang memengaruhi dirinya untuk berpindah keyakinan.

Suparji mengatakan dia bisa bekerja di gereja tersebut setelah ditawari oleh pastor gereja saat itu yakni Rama Bambang. Awalnya, Suparji ragu-ragu. Hingga dia mendapatkan persetujuan dari keluarga bekerja di gereja.

Suparji sangat terkejut ketika awal-awal bekerja di gereja. Dia tak menyangka bisa tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinanya. “Ada rasa trenyuh bisa bekerja di sini dan tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan. Sampai saat ini saya betah bekerja di sini,” kata Suparji dengan mata berkaca-kaca.

Sama halnya dengan Muji, Suparji juga mengatakan tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinannya sebagai umat Islam. Ketika Lebaran, dia juga mendapatkan jatah libur. Tak hanya jatah libur, pastor dan perwakilan umat gereja mendatangi rumahnya dan rumah Muji untuk bersilaturahmi saat Lebaran.

Vikaris Parokial Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Rama Emanuel Maria Supranowo, Pr, mengatakan selama ini Muji dan Parji diterima dengan hangat meski berbeda keyakinan. Dia pun menegaskan tak pernah ada umat maupun pastor gereja setempat yang berpikiran maupun mencoba memengaruhi kedua karyawan muslim itu untuk berpindah keyakinan. Muji dan Parji tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan dengan tenang.

Rama Supranowo menjelaskan Muji dan Parji diterima dengan hangat bekerja di gereja sebagai bentuk implementasi toleransi. Hal itu pula yang diajarkan pada agama Katolik untuk hidup rukun saling menghargai dan berdampingan dengan umat beragama atau berkeyakinan lain.

Sumber: solopos.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar