Ketenangan dan kebahagiaan sejati diperlukan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Setelah memasuki tahun kedua, semakin jelas cara kita menyikapi pandemi Covid-19. Pada awal-awal perkembangan Covid-19, kegagapan justru diperlihatkan pemerintah, padahal tidak sedikit yang mengingatkan.

Di antaranya, ahli epidemiologi Marc Lipstich dari Harvard TH Chan School of Public mengingatkan agar pemerintah melakukan investigasi agar yang terinfeksi Covid-19 terdeteksi dan terlacak riwayat penyebarannya. Namun, pemerintah mengelak (denial).

Setelah memasuki tahun kedua, denial tentu semakin tidak relevan. Menerima merupakan sikap paling realistis dan konstruktif. Setidaknya ada dua alasan untuk membenarkan sikap tersebut.

Pertama, masih dijumpai banyak kasus sehingga PPKM diperpanjang di beberapa daerah. Kedua, ketidakpastian akhir pandemi yang menimbulkan kecemasan. Ini tak bisa dipandang sepele, jika tak bisa dikelola dan diatasi dapat menggerus daya tahan seseorang.

Kecemasan dengan arti demikian justru menjadikan seseorang hati-hati mengelola aktivitasnya supaya terhindar dari penyebaran Covid-19.

Buku The Psychology of Pandemic: Preparing for the Next Global Outbreak of Infection Disease, yang ditulis Steven Taylor, antara lain membahas kerentanan terhadap tekanan emosional pada masa pandemi.

Dalam level tertentu, kecemasan menjadikan seseorang lebih waspada. Kecemasan dengan arti demikian justru menjadikan seseorang hati-hati mengelola aktivitasnya supaya terhindar dari penyebaran Covid-19.

Yang harus diperhatikan, kecemasan berlebihan yang berakibat pada gangguan psikologis.

Gangguan psikologis jika merujuk literatur psikologi tingkat dasar, misalnya Psychology: Concepts and Applications yang ditulis Jeffrey S. Nevid, melibatkan gangguan suasana hati, perilaku, pikiran, atau persepsi.

Ini mengakibatkan tekanan pribadi atau gangguan fungsi yang mencolok, dengan contoh mencakup skizofrenia, gangguan kecemasan seperti fobia dan gangguan panik, serta gangguan suasana hati seperti gangguan depresi mayor.

Fobia, ketakutan irasional atau berlebihan terhadap sesuatu, muncul bahkan sejak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi. Belum hilang dari ingatan, cerita sedih tenaga kesehatan ditolak warga. Ada pula penolakan warga terhadap pemakaman jenazah korban Covid-19.

Tak sedikit pula yang mengalami fobia sosial, yakni ketakutan berlebihan bertemu orang lain. Boleh jadi, ada orang yang terus mengurung diri di rumahnya selama pandemi, tentu karena dibekap kekhawatiran berlebihan terpapar Covid-19.

Jalan sufi
Berikutnya, yang perlu diperhatikan setelah gangguan psikologis muncul adalah dampaknya pada kesehatan fisik dan mental mulai level sedang hingga ekstrem, seperti menurunnya imunitas, yang disusul penyakit tertentu yang terkadang bisa berakibat fatal.

Sufisme merupakan jalan spiritual yang memberi titik tekan pada Tuhan sebagai realitas, yang sejatinya selalu hadir dan dekat.

Menghadapi pandemi, individu hingga institusi berskala makro seperti negara harus mengencangkan sabuk pengaman, tegas Fareed Zakaria, host Fareed Zakaria GPS di CNN dalam Ten Lessons for a Post-Pandemic World.

Sabuk pengaman bagi Fareed, memberikan jaminan keamanan dan keselamatan dalam menghadapi keadaan yang kian membahayakan.

Tulisan ini ingin menggunakan pikiran Fareed tentang sabuk pengaman dalam arti tidak sepenuhnya terlihat wujudnya secara fisik, misalnya dalam bentuk kebijakan ekonomi-politik tertentu.

Sabuk pengaman bisa berupa pandangan, keyakinan, nilai-nilai tertentu yang dapat memberikan keamanan, keselamatan, ketenangan, dan harapan dalam menjalani kehidupan yang dibayang-bayangi ancaman pandemi Covid-19.

Dalam konteks inilah, agama dapat difungsikan sebagai sabuk pengaman. Terutama, pada dimensi kerohanian agama yang dalam tradisi Islam dikembangkan menjadi suatu cabang keilmuan tersendiri, yang disebut tasawuf atau sufisme.

Sufisme merupakan jalan spiritual yang memberi titik tekan pada Tuhan sebagai realitas, yang sejatinya selalu hadir dan dekat.

Karena itu, manusia perlu berikhtiar menciptakan relasi yang dekat hingga mencapai kesadaran yang disebut Muhammad Asad dalam The Message of the Quran dengan God-consciousness, yakni kesadaran atas kemahahadiran-Nya.

Kesadaran tersebut oleh beberapa tokoh sufi dipandang memberikan jaminan melekatnya perilaku baik, yang mengantarkan pada ketenangan dan kebahagiaan sejati. Ini diperlukan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang memberi efek resiliensi.

Bagaimana menjelaskan keterhubungan God-consciousness dengan resiliensi? Menghadapi pandemi, meniscayakan beragam ikhtiar mulai yang berimplikasi terhadap imunitas hingga yang dapat membawa pandemi ke fase akhir. Setelahnya adalah pasrah.

Pasrah, alih-alih sebagai wujud teologi fatalistik, tetapi justru akan memberikan kekuatan spiritual yang membuncahkan harapan keberhasilan suatu ikhtiar. Jika sebaliknya yang terjadi, tetap saja berupaya tenang karena yakin Tuhan menyediakan pilihan terbaik.

Pasrah, alih-alih sebagai wujud teologi fatalistik, tetapi justru akan memberikan kekuatan spiritual yang membuncahkan harapan keberhasilan suatu ikhtiar.

Dengan begitu, kesadaran tentang kemahahadiran Tuhan akan meringankan seseorang melepaskan beban hidupnya. Inilah yang disebut letting go, keberhasilan melepaskan diri dari suatu persoalan yang membebani perasaan dan pikiran. 

Penulis: SYAMSUL ARIFIN, Wakil Rektor I dan Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Muhammadiyah Malang
Sumber: republika.co.id
Sumber Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bagikan

Komentar Anda

komentar