Meski baru sekitar setahun bergabung di Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS), I Ketut Wiguna merasa sudah sangat akrab dengan para pegiatnya. Sebagian besar, karena telah bertemu di beberapa forum kerjasama antar warga di kota Bandung.

Sebagai perwakilan umat Hindu, Ketut menyadari keberadaan forum seperti FLADS akan senantiasa dibutuhkan. Bukan sekedar mengkampanyekan keberagaman, tapi senantiasa menumbuhkan kesadaran akan kebersamaan.

Tantangannya sangat dinamis. Apalagi di era digital sekarang. Apa yang terjadi di satu tempat, bisa segera viral dan isunya kemana-mana,” ungkapnya sembari menyebut dua contoh kasus viral terkait penistaan agama saat wawancara ini dilangsungkan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bandung menyadari bahwa permasalahan kerukunan itu bukanlah tanggung jawab satu atau dua pihak saja. Namun, menuntut semua elemen untuk bahu-membahu saling merangkul.

“Kalau kita ikut-ikutan menendang saudara kita sendiri, siapa yang mau merangkulnya? Di Hindu itu ada prinsip vasudeva kutumbakan, bahwa kita semua di dunia ini adalah satu keluarga. Jadi apa yang dirasakan oleh saudara kita, juga akan berdampak pada kita semua.”

Ketut mengakui ada sejumlah keterbatasan yang ia dan rekan-rekan Hindu alami saat terlibat aktif dalam kegiatan lintas iman. Terutama, karena kebutuhan internal umat yang masih sangat perlu ditata dengan personil yang masih terbilang kurang.

Namun, pria kelahiran Singaraja ini yakin bahwa gerakan keberagaman akan selalu selaras dengan spirit keagamaan umat Hindu, terutama konsep Tri Hita Karana yang selalu mengupayakan harmoni, baik dengan Tuhan, alam lingkungan dan sesama manusia.

I Ketut Wiguna

Saya juga yakin aslinya masyarakat Nusantara itu ramah, terbuka dan senang berbuat baik. Di banyak tempat saya selalu menjumpai yang demikian. Karena itu saya selalu optimis gerakan toleransi dan keberagaman seperti yang kita lakukan akan selalu mendapat tempat di masyarakat,” lanjut Ketut.

Meski demikian, ia meyakini toleransi dan perdamaian tidak boleh berhenti sekedar di slogan, aturan atau kegiatan formal. Semangat itu harus terus ditransformasikan di masyarakat. Karenanya, gerakan keberagaman seperti FLADS perlu ditata kelola dengan lebih baik.

Ketut mengungkapkan ia senang sekali, saat FLADS mencoba melakukan revitalisasi dan mengusahakan program yang lebih rapi dan efektif.

Kalau kita mau sustain, ya memang harus ada yang mengelola. Tidak mengapa jika kecil, namun ini penting,” usulnya di beberapa kesempatan pertemuan.

Bagikan

Komentar Anda

komentar