Aneka mural merefleksikan pesan toleransi mewarnai Gang Ruhana, Kota Bandung. Ada lukisan barongsai merah di ujung tembok dan gambar wadah berisi kerupuk di bawahnya. Goresan huruf putih bertuliskan ‘HARAPAN’ menghiasi wadah biru itu.

“Harapan kami tetap hidup rukun dan menjaga keberagaman tanpa memandang suku-agama,” ucap Rini Ambarwulan (65) kepada detikcom di Gang Ruhana, RT 2 RW 2, Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jumat (6/8).

“Mau kerupuknya gosong dan tidak gosong, kami tetap bersatu. Analoginya, warga Gang Ruhana berada dalam satu wadah dan menyatu seperti kerupuk ini,” kata Tince, sapaan Rini, sembari telunjuk tangan kanan mengarah ke gambar wadah kerupuk.

Gang Ruhana menyandang julukan Kampung Toleransi yang diresmikan Pemkot Bandung pada 2018. Kendati berlabel kampung, lokasi gang ini sebenarnya berada di tengah kota. Butuh dua menit berjalan kaki dari gerbang gedung SMAN 7. Hanya berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Masjid Agung Bandung dan Gedung Merdeka.

“Sebelum diberi nama Kampung Toleransi, sebenarnya semua warga di sini sejak dulu memupuk toleransi. Turun-temurun sampai generasi sekarang,” tutur Tince yang menjabat Ketua RW 2.

Pernyataan Tince diamini Daniel Sriyoto. Ia menjelaskan warga Gang Ruhana senantiasa menyemai kebaikan.

“Kita menjalaninya dengan keakraban. Masyarakat di sini baik-baik, nggak ada masalah” ujar Daniel, pimpinan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Lengkong Kecil (LK).

5 Lokasi Kampung Toleransi di Kota Bandung
Lima lokasi berjuluk Kampung Toleransi tersebar di Kota Bandung. “Hadirnya Kampung Toleransi ini menunjukkan bahwa warga Kota Bandung saling menghormati keberagaman dan menjaga kerharmonisan antarumat beragama. Berbeda-beda agama, tetap akur,” kata Kepala Bidang Bina Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Kesbangpol Kota Bandung Aswin Sulaeman. Dia mengajak semua masyarakat tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang berpotensi merusak kerukunan antarumat beragama. “Selalu gunakan akal waras,” ucap Aswin.

Kerukunan antarumat beragama di kawasan ini sudah mendarah daging dan terbentuk sejak lama. Warganya teguh menghormati perbedaan dan menjauhi perselisihan.

“Jadilah menjadi manusia yang saling menghargai,” kata Daniel.

Senada diungkapkan Lili (59) selaku penjaga Vihara Giri Metta. Dia sejak usia anak hingga remaja tinggal di Gang Ruhana. Sempat pindah tempat karena ikut sang suami, kini Lili kembali ke kampung halaman.

“Baru setahun lebih kembali ke sini. Ternyata nggak ada perbedaan. Sudah empat generasi ini warga Gang Ruhana tetap santun dan saling menghargai. Selalu mempererat kebersamaan. Warga di daerah ini kayak saudara,” tutur Lili.

Tiga Rumah Ibadah Berdampingan
Tiga tempat ibadah berjejer sebaris di Gang Ruhana. Bangunan GPdI LK letaknya di mulut gang. Berikutnya, Masjid Al Amanah yang terpisah dua bangunan dari gereja. Kemudian, Vihara Giri Metta saling berdampingan dengan masjid.

“Bangunan masjid dan vihara bersebelahan. Kalau dari gereja ke masjid dan vihara tinggal jalan, ya dekat,” kata Tince.

Gereja tersebut dibangun pada 1931. Sedangkan vihara didirikan oleh Wong Yun Lin sejak 1946. “Kalau Masjid Al Amanah ini berdiri 2014. Asalnya rumah, kemudian dibangun masjid,” ucap Tince.

Di masa pandemi COVID-19, masing-masing jemaah tetap beribadah dengan menerapkan protokol kesehatan. Jemaat GPdI LK, misalnya, rutin ibadah meski via daring.

“Pelaksanaan ibadahnya sementara virtual,” ujar pimpinan GPdI LK, Daniel Sriyoto.

Sebaran Penduduk Berdasarkan Agama di Kota Bandung
Jumlah penduduk menurut kecamatan dan agama yang dianut di Kota Bandung (2019). Kota Bandung terdiri dari 30 kecamatan. Jumlah penduduk dari 30 kecamatan ini meliputi Islam (2.269.680 jiwa), Protestan (130.504 jiwa), Katolik (54.067 jiwa), Hindu (1.675 jiwa), Buddha (11.607 jiwa), Konghucu (167 jiwa), Lainnya (121 jiwa).

Semangat toleransi tak kendur dilakoni warga. Mereka kompak saling membantu saat persiapan hari keagamaan (lebaran, natal dan imlek) serta turun bareng menggelar bakti sosial.

Karakter merawat kebinekaan itu dituangkan dalam gambar tiga orang berbeda agama saling bergandengan tangan. Nama mendiang Ruhana, perempuan yang tersohor di kawasan ini, turut diabadikan lewat mural dengan akronim: ‘Rukun, Unggul, Hijau, Aman, Nyaman dan Amanah’.

“Berbeda itu indah. Warga saling menghormati dan menjaga kebinekaan sehingga tak terjadi perpecahan,” kata Tince.

Nama mendiang Ruhana, perempuan yang tersohor di kawasan ini, turut diabadikan lewat mural dengan akronim: ‘Rukun, Unggul, Hijau, Aman, Nyaman dan Amanah’. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Sumber: detik.com

Bagikan

Komentar Anda

komentar