Toleransi, sebuah kata yang menjadi menu wajib untuk diperdengarkan dan didengungkan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Keragaman suku, agama, ras, dan kebudayaan yang ada di di bumi pertiwi mendorong kata toleransi untuk terus didengungkan di berbagai kesempatan. Mulai dari seminar, dialog, hingga regulasi atau kebijakan negara. Semua demi menjaga keutuhan nusantara. 

Namun, setiap usaha yang dilakukan seakan tak berbekas, kala muncul konflik yang dipicu oleh pihak-pihak  yang selalu merasa benar dengan keyakinannya sendiri. Ini menampar kita untuk tersadar bahwa wacana toleransi belum sepenuhnya berhasil.  

Maka, melalui tulisan ini izinkan aku untuk memberikan kesaksian bagaimana toleransi betul-betul mewujud di tempat kelahiranku, tana para raja, Tana Toraja. Di sini, toleransi bukan hanya sebuah kata abstrak. 

Toleransi benar benar terintegrasi dalam pola hidup dan bermasyarakat Tana Toraja. Tak pernah ada saling banding membandingkan, tak ada kata saling hujat, bahasa-bahasa penolakan. Kehidupan mengalir seiring sejalan dengan keyakinan masing masing. Saling memberi ruang, saling mengerti bahkan saling tolong. Yah “tolong menolong” tanpa melihat latar belakang.

Lahir dan besar di Tana Toraja betul-betul membuatku bersyukur. Sebagai seorang muslim yang terlahir dari keluarga majemuk,  aku ingin hidup penuh kedamaian ini terus berlangsung. Hidup bersama dengan keluarga, rekan, dan sahabat yang berbeda keyakinan tetapi menjunjung nilai-nilai saling menghargai dan menghormati. 

Hanya di Toraja kita akan menyaksikan pengecoran Masjid dilakukan secara gotong royong oleh jemaah bersama warga gereja. Aku katakan bersama karena jumlah jemaah masjid dan jemaah gereja yang terlibat, kadang berbanding lurus. 

Bukan hanya sekedar pencitraan dengan mengutus beberapa orang atau beberapa perwakilan. Mereka bekerja bersama. Sama-sama mengangkat, sama sama kotor, sama-sama tertawa dan sama-sama lelah. 

Ini pun terjadi sebaliknya. Indahnya pemandangan itu. Damainya hati saat menjalani rutinitas hidup penuh kegotong royongan tanpa sekat. Kebersamaan ini pun terlihat pada hajatan besar di kabupaten. 

Selalu ada ruang yang dibuka untuk warga muslim. Bahkan, untuk menandai sebuah momen penting, maka bunyi beduk akan disandingkan dengan bunyi lonceng dan gong. Simfoni yang indah bukan? 

Pernah suatu ketika, lomba Hifdzil Qur’an bahkan digemakan pada aula di sebuah gereja katolik. Lomba lain dalam hajatan yang sama juga dilaksanakan di aula Gereja Toraja. Bahkan, para peserta dan juri pun melaksanakan salat Magrib berjemaah di sebuah ruangan yang telah disiapkan pada areal gereja. Luar biasa bukan? 

Bagi kami umat muslim di Toraja, menyambut hari besar juga terasa makin istimewa. Ruang publik diberikan akses seluas-luasnya, lengkap dengan para saudara kami para pemuda-pemuda gereja yang bersiap mengamankan. Ini dilakukan tanpa komando, tanpa diminta. Semua berjalan layaknya memang sudah semestinya begitu. 

Tak hanya itu, masyarakat muslim di Tana Toraja juga tidak perlu khawatir ketika ada perjamuan di acara bersama. Dalam hajatan rambu Tuka ‘(acara suka cita) dan rambu solo’ (acara dukacita) maka selalu ada pihak pihak sesama jemaah yang diberi kepercayaan untuk mengelola makanan. 

Mereka akan menjaganya dari ketakutan bercampur dengan yang “non halal” bagi kita,  serta mendistribusikannya lengkap dengan peralatan yang memang steril dan dipersiapkan khusus. Jadi, kita tak perlu ragu untuk menikmati hidangan itu. 

Bagi pelancong muslim pun tak perlu khawatir bila ingin berburu kuliner. Warung makan dan jajajan yang juga bertebaran lengkap dengan label halal dan tulisan tulisan Arab sebagai penanda dan simbol bagi yang ingin mencicipi kuliner.

Memang, di beberapa tempat ada restoran yang juga menyajikan menu non-halal. Wajar saja, ini Tana Toraja. Tapi ini bukan masalah, kami yang lahir dan besar disini sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Dan untuk bisa hidup disini, kita wajib beradaptasi dengan itu semua. Dan,  Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah ada istilah salah makan, atau salah diberi makan. 

Ya, begini lah Toraja. Negeri elok dengan kultur budaya yang sangat unik dengan kemajemukan yang tetap harmonis.

Ini Toraja dengan rumah Tongkonan sebagai simbol tempat berkumpulnya seluruh keluarga dan diatasnya kadang kadang kita temukan, patung Yesus, kaligrafi Al Qur’an, serta kalung Rosario, bahkan persiapan sesajen bagi pemeluk kepercayaan. 

Ini Toraja, yang sampai saat ini hidup tentram, berdampingan dan berpegang satu sama lain. 

Dan aku Islam, lahir dan besar sebagai Islam, dan Insya Allah hingga tutup usia kelak. Merdeka dalam beribadah, bebas mengembangkan bakat dan minat, diberi peluang yang sama dalam berkarir dan tak pernah risih dengan busana yang mengidentikkan keislamanku. 

Untuk itulah aku bangga, bersyukur hidup bumi ini. Bahkan jika ada pertanyaan untuk di kehidupan berikutnya jika saya terlahir kembali, saya tetap akan memilih di sini. Land Of The King. Tana Toraja 

(Ammy Sudarmin, Tenaga Pendidik Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja di SMK Negeri 1 Tana Toraja)

Sumber: kemenag.go.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar