Saya menyampaikan apa yang secara umum Islam pahami tentang Yesus atau Isa Al-Masih. Meski tidak mungkin mewakili seluruh umat Islam, karena di Islam sendiri ada banyak perbedaan pandangan.” Dr. Siti Musdah Mulia menyampaikan presentasinya dengan gaya yang serius namun terbilang santai, mengingat ia berbicara pada audiens yang cukup beragam. Ada lebih dari setengah yang merupakan pemuda remaja, sementara ada pula orang dewasa.

Jumat malam (13/4) ada sekitar 70 kaum muda dan remaja dan 60-an lebih warga dewasa dan simpatisan hadir di GKI Kayu Purihm Jakarta. Mereka mengikuti seminar dengan tema unik: Yesus dari Sudut Pandang Islam. Seminar itu menghadirkan pembicara Sekjen Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr. Siti Musdah Mulia dan dimoderatori oleh Pdt. Darwin Darmawan dari Gerakan Kebangsaan Indonesia.

Pdt. Natanael Setiadi dari GKI Kayu Putih menjelaskan bahwa seminar ini awalnya adalah kelas tambahan yang diperuntukkan bagi peserta kelas katekisasi untuk pemuda dan remaja. Dalam tradisi GKI seperti banyak gereja Protestan lainnya, memang ada proses katekisasi selama beberapa bulan, untuk kaum remaja dan muda, atau orang yang belum menjadi jemaat untuk diterima menjadi jemaat dewasa.

Selain tema-tema yang umum yang biasa ada di kelas katekisasi, peserta juga diminta untuk mengusulkan tema lain yang menurut mereka penting. Nah ini salah satu usulan dari banyak peserta. Karena temanya juga menarik dan penting maka dibuka juga untuk umum,” papar Pdt, Natanael menjelaskan latar belakang kenapa seminar ini diadakan.

Dr. Musdah menyambut baik keterbukaan GKI Kayu Putih mendiskusikan tema ini. Sebagai orang yang telah lama bergiat dalam berbagai forum lintas iman, ia mengajak semua peserta untuk merangkul cara beragama yang pluralis. Baginya semangat seperti itu tidak muncul begitu saja, tapi berproses lewat sejumlah pengetahuan dan lebih penting lagi pengalaman perjumpaan.

Saya sendiri berproses, mulai dari yang penuh prasangka terhadap umat lain, perlahan menjadi banyak belajar akhirnya bisa begitu menikmati dan diperkaya oleh keberagaman,” ujar Dr. Musdah lantas menceritakan pengalaman masa kecilnya yang nyaris tidak pernah bersentuhan dengan umat beragama lain. “Maka saya senang sekali anak-anakku disini selagi muda sudah beroleh kesempatan seperti ini. Apalagi ada orang tua yang juga ikut, ini kesempatan yang baik untuk sama-sama belajar.

Terkait tema yang diangkat, Dr. Musdah menyampaikan bahwa Islam sangat menghargai Isa Al-Masih, juga ibundanya. Ada banyak kesamaan dengan yang diyakini umat Kristiani. Tentu ada pula perbedaan misalnya terkait penyaliban atau keilahiannya. Tapi bisa mendiskusikan persamaan dan perbedaan itu dalam suasana bersahabat, tentu menjadi hal yang sangat indah. **arms

Komentar Anda

komentar