KH Ahmad Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa sebagai Gus Mus, terpilih sebagai peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2017. Kiai yang dikenal berkiprah lewat puisi dan dakwah ini dinilai sudah memperjuangkan hak asasi manusia melalui ajaran agamanya.

Keputusan itu ditentukan oleh dewan juri Yap Thiam Hien Award, yang pada tahun ini terdiri dari lima orang. Mereka adalah Makarim Wibisono (diplomat senior), Siti Musdah Mulia (Ketua Umum Indonesian Conference on Religiond and Peace, ICRP), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K Susilo (aktivis perempuan dan anak) serta Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien).

Proses penentuan peraih Yap Thiam Hien Award 2017 diawali dengan mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan masyarakat luas sejak Mei 2017. Awalnya, ada 34 nama yang muncul, dan terus mengerucut menjadi 4 nama.

Akhirnya, pada sidang dewan juri kedua yang dilaksanakan 11 Desember 2017, kami sepakat memilih KH Ahmad Mustofa Bisri sebagai peraih Yap Thiam Hien Award 2017,” kata Todung Mulya Lubis saat jumpa pers bersama dewan juri lainnya, di Jakarta, Kamis (21/12).

Todung mengatakan, Gus Mus memang tidak pernah dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia. Ia lebih dikenal sebagai kiai, pimpinan pondok pesantren, dan budayawan. “Namun buat saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang hak asasi manusia,” kata Todung.

Todung mengatakan, Gus Mus juga telah berjasa memperkuat hak beribadah dalam keyakinan setiap pribadi masing-masing. Gus Mus dinilai sebagai muslim toleran yang menghargai agama minoritas, bahkan aliran kepercayaan yang statusnya tidak diakui pemerintah.

Dia tidak bersuara lantang seperti Munir, Yap Thiam Hien, ataupun Adnan Buyung. Tapi dalam puisi, dalam ceramahnya, selalu meneguhkan komitmen untuk pluralitas dan kemajemukan,” kata Todung.

Todung menambahkan, terpilihnya Gus Mus juga mempertimbangkan konteks politik Indonesia kekinian. Kondisi di mana agama kerap dijadikan alat politik untuk meraih kekuasaan. “Dia concern dan prihatin melihat agama dipolitisasi, dijadikan alat politik. Dia tidak mengerti kenapa agama masuk dalam politik dengan vulgar,” kata Todung.

Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2017 ini rencananya akan diserahkan langsung kepada Gus Mus dalam sebuah acara seremoni yang digelar pada 24 Januari 2018 mendatang. Penghargaan yang didedikasikan untuk setiap pejuang kemanusiaan ini telah berlangsung sejak 1992 (kecuali 2005).

Sumber: kompas.com

Komentar Anda

komentar