Salah satu masalah di balik kontroversi terkait Jama’ah Ahmadiyah adalah bagaimana mengetahui dan memahami wahyu, ketika seseorang merasa telah menerimanya.

Menurut Al-Quran, Allah memang telah memberikan wahyu kepada banyak orang dalam sejarah manusia. Ada banyak nabi di dunia ini. Selain nabi-nabi yang namanya disebutkan dalam Quran, masih banyak pula yang tidak disebutkan. Keyakinan ini pula yang membuat beberapa bahkan menduga orang bijak dalam sejarah seperti Plato dan Sokrates mungkin dapat juga dikategorikan sebagai nabi.

Ketika semua atau setidaknya, sebagian besar umat Islam percaya bahwa nabi Muhammad adalah nabi terakhir, maka pertanyaannya adalah apakah wahyu juga berakhir?

Semua ulama Islam, setidaknya sepengetahuan saya, mengakui wahyu masih terus berlanjut. Tapi mereka tidak lagi menyebutnya wahyu (revelation) melainkan ilham (inspiration). Memisahkan wahyu dari ilham menjadi penting dalam wacana teologi Islam, karena mereka percaya bahwa wahyu merupakan revelasi tingkat tinggi yang berasal dari Tuhan, sementara ilham mungkin merupakan hal baik yang berasal dari malaikat atau inspirasi yang buruk berasal dari setan. Dengan kata lain, wahyu selalu baik sementara ilham terkadang bisa baik dan terkadang buruk.

Bagaimana kita bisa membedakan antara wahyu dan ilham? Apakah hal yang diterima Mirza Ghulam Ahmad benar-benar merupakan wahyu atau hanya ilham? Sulit untuk dijawab, karena tiap penerimanya memiliki perasaan yang sama, dalam arti ia merasa diberitahu oleh suatu sumber di luar dirinya.

Cendikiawan Iran Abdulkarim Soroush mengatakan bahwa di zaman modern ini, kita dapat memahami wahyu dengan menggunakan metafora puisi. Seperti yang dikatakan seorang filsuf Muslim: Wahyu adalah puisi yang lebih agung. Puisi merupakan alat pengetahuan yang bekerja secara berbeda dari sains atau filsafat. Penyair justru merasa bahwa dia diberitahu oleh sumber di luar dirinya; bahwa dia menerima sesuatu.

Namun, penjelasan Soroush ini nampaknya gagal membedakan dengan jelas perbedaan antara wahyu dan ilham. Tidak ada orang yang bisa memverifikasi klaim wahyu. Jadi tergantung pada orang apakah mereka mempercayai pengakuannya atau tidak. Dalam soal kepercayaan, itu sebenarnya adalah wilayah Tuhan. Oleh karena itu, orang percaya sejati tidak hanya bergantung pada teks atau kalimat yang dilaporkan didapat dari wahyu. Wahyu harus siap dihadapkan dengan akal. Teks religius harus siap dipelajari secara kritis. Penalaran independen (ijtihad) sangat dihormati dalam Islam.

Dalam kasus Ahmadiyah ada tiga masalah utama. Masalah pertama berkaitan dengan keyakinan jama’ah Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi karena dia menerima sebuah wahyu. Yang kedua adalah masalah yang berkaitan dengan terminologi, seperti terkait apakah hal yang diklaim Ghulam Ahmad diterimanya dari Allah memang merupakan wahyu, dan dapatkah pengikutnya disebut Muslim? Masalah ketiga menyangkut tuduhan penistaan agama yang disematkan terhadap pengikut Ahmadiyah.

Karena semua umat Islam pada prinsipnya sepakat bahwa wahyu atau lebih tepatnya inspirasi dari Allah masih berlanjut, perbedaan antara Ahmadiyah dan Muslim lainnya kemungkinan hanyalah masalah semantik. Ahmadiyah menyebut inspirasi yang diterima Ghulam Ahmad sebagai wahyu dan menganggap beliau sebagai nabi, sementara umat Islam yang lain akan menyebutnya sebagai ilham dan menyebut Ghulam Ahmad hanya sebagai seorang pembaharu atau pemimpin agama.

Lalu, haruskah pengikut Ahamadiyah disebut non-Muslim? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada pertanyaan lain harus ditanyakan terlebih dahulu: Apakah orang yang percaya pada enam rukun iman dan yang berkomitmen pada lima rukun Islam dapat dikatakan sebagai bukan-Muslim? Penghakiman oleh MUI melalui fatwanya bahwa para pengikut Ahmadiyah bukan Islam, menurut saya merupakan sebuah blunder.

Karena jika mereka dianggap bukan Islam, mereka akan dilarang melakukan shalat setiap hari seperti orang Muslim lainnya, atau mereka akan dilarang mengakui dua pengakuan iman bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka diizinkan melakukannya, maka mereka secara otomatis menjadi Muslim dalam praktik. Bahkan jika mereka berpura-pura menjadi Muslim, itu bukan urusan kita; itu urusan mereka bersama Tuhan.

Maka, saya setuju dengan pendapat bahwa Ahmadiyah masih berada dalam batas-batas Islam.

Jika Ahmadiyah akan diperiksa lebih lanjut, cara terbaik adalah melalui ajaran dan perbuatan mereka. Apakah Ahmadiyah mengajarkan sesuatu yang menghasut kebencian kepada orang lain? Apakah mereka melakukan sesuatu yang secara fisik akan membahayakan orang lain atau membahayakan negara ini? Mengenai tudingan penistaan dan apakah mereka telah melanggar pasal 156a KUHP, cara terbaik untuk menyelesaikannya adalah di pengadilan.

Dalam hubungan manusia, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan atau pijakan bersama dengan umat beragama lain. Lalu mengapa kita tidak bisa mencari pijakan bersama dan kesamaan antara kita dengan anggota Jama’ah Ahmadiyah?

Penulis: Dr. Nurrohman Syarif (dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Komentar Anda

komentar