Minggu pagi (19/5) umat Buddha Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, berbondong-bondong menuju Vihara Budha Bhumika. Mereka umumnya mengenakan atasan berwarna putih. Tampak khusyuk dan penuh persiapan. Ini merupakan puncak perayaan Waisak bagi umat Buddha dusun Thekelan.

Di luar vihara Budha Bhumika, tampak masyarakat Thekelan yang beragama Katolik, Protestan dan Islam berbaris untuk menyambut umat Buddha seusai menjalankan upacara waisak. “Sudah terjadi selama tiga tahun ini, tiap kali perayaan Waisak, umat muslim dan Kristiani mengunjungi kami. Mereka datang untuk mengucapkan selamat sekaligus bersilaturahmi. Hal serupa juga terjadi ketika perayaan Natal dan Idul Fitri, ini adalah cara kami menjaga toleransi,” jelas Mandar selaku Upacarika Vihara Budha Bhumika.

Ucapan permohonan maaf silih berganti terdengar diantara kehangatan suasana pagi itu. Masyarakat Thekelan saling berpelukan, air mata haru runtuh dari mata mereka, seolah menjadi cara membebaskan hati dari amarah dan rasa bersalah.

Seorang ibu rumah tangga bernama Paini, sesekali menyeka air mata dari pipinya. Sudah sejak pagi, seusai mencari rumput, ia berdiri di halaman Vihara Budha Bhumika. Hal itu ia lakukan untuk turut serta menyambut kerabatnya yang sedang melaksanakan upacara waisak di dalam vihara.

Lega rasanya mas, kalau bisa memeluk saudara, mengucapkan selamat dan meminta maaf. Hati jadi plong, dan persaudaraan kami semakin kuat meski berbeda agama,” terang Paini.

Dari keterangan Kepala Dusun Thekelan, Supriyo, aktivitas toleransi di Thekelan harus dilihat dari sudut pandang tradisi masyarakat setempat. Sebagaimana diteladankan leluhur mereka sejak lama, ia bersama 720 lebih masyarakat Dusun Thekelan sepakat, untuk teguh menjaga persaudaraan tanpa membeda-bedakan keyakinan.

Tentu sudut pandang orang berbeda-beda, tetapi ya inilah Thekelan, rumah kami. Kami tidak memaksa masyarakat di luar meniru yang terjadi disini, sebab belum tentu perbedaan itu mudah diterima. Namun jika kita sadar, hidup dalam perbedaan, maka tak ada pilihan lain selain saling menghargai,” tandas Supriyo.

Dusun Thekelan ada di jalur tertua pendakian Gunung Merbabu, ada sekitar 156 KK yang menghuni dusun ini. Kerukunan yang mereka tunjukkan jelas menjadi teladan bagi Indonesia.

Sumber: detik.com

Komentar Anda

komentar