Kuliner di Kabupaten Kudus memang punya ciri yang unik. Berbeda dengan lazimnya soto atau sate di tempat lain, di wilayah ini umumnya olahan daging itu berbahan dasar daging kerbau. Seperti yang dapat dilihat pada warung milik Sunoto, penjual sate Kudus di Jawa Tengah. Ia adalah pengusaha generasi ketiga dari warung sate yang sudah berjualan sejak 1950 itu.

Hari itu Sunoto sibuk mengipasi arang di atas panggangan sate. Saat itu hanya beberapa tusuk sate yang tersisa. “Ini sate terakhir, setelah ini habis,” kata Sunoto sambil membolak-balik agar matang satenya merata.

Sate yang Sunoto jual adalah satai kerbau, ciri khas kuliner di Kudus—kota dengan sejarah panjang kerukunan umat beragama sejak masa Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus.

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Nadjib Hasan, memberi keterangan bahwa pada masa dakwahnya Sunan Kudus melihat masyarakat setempat sudah memeluk agama Hindu yang sangat menghormati sapi. Untuk menghormati pemeluk agama Hindu, Sunan Kudus melarang para pengikutnya menyembelih sapi agar tidak melukai hati pemeluk agama Hindu. Masyarakat Muslim yang ingin mengkonsumsi daging pun memilih menyembelih kerbau sebagai gantinya.

Ini juga bisa dilihat sebagai strategi dakwah Sunan Kudus yang mengajarkan kedamaian,” ungkap Nadjib.

Kuliner khas Kudus dengan bahan daging kerbau juga termasuk soto, pindang dan masakan daging lainnya. “Bahan bakunya daging. Karena adanya daging kerbau, maka masakannya pakai daging kerbau. Dan masakan yang berbasis kerbau ini menjadi khas dari Kudus,” kata Nadjib. Sampai sekarang masyarakat Kudus masih tetap memegang teguh larangan Sunan Kudus untuk tindak menyembelih sapi, termasuk pada perayaan Idul Adha.

Sikap saling membantu masyarakat, menurut Nadjib, sangat terlihat, antara lain saat peringatan Sunan Kudus pada 10 Muharam dengan ribuan orang ikut memberi sumbangan atau mendapat pembagian nasi, termasuk warga non-Muslim. “Bahkan yang memberikan sumbangan untuk acara Haul Mbah Sunan Kudus itu juga dari masyakat non-Muslim. Artinya, kebersamaan ini masih terus terjaga sampai sekarang,” kata Nadjib Hasan.

Tradisi itu pun dipahami oleh Sunoto, baginya ini merupakan tradisi yang terus dijaga masyarakat Kudus. “Dulu Kanjeng Sunan Kudus menghormati pemeluk agama Hindu yang mensucikan sapi. Maka untuk toleransinya tidak nyembelih sapi. Biar tidak menyinggung agama lain. Sampai sekarang dilestarikan dan menjadi ikon kuliner Kudus,” ujar Sunoto.

Tidak hanya Sunoto, hal ini pun dipahami oleh penjual sajian lain dengan daging kerbau termasuk soto. Warung milik Elis Yudiani misalnya, generasi ketiga penjual kuliner ini, memahami mengapa kerbau yang dipilih saat kakeknya membuka warung soto ini. Bagi Elis ini adalah tradisi yang perlu terus dilestarikan sebagai pengingat akan sikap rukun dan toleransi di Kudus.

Sumber: bbc.com

Komentar Anda

komentar