Dengan sekian banyak kekacauan yang terjadi di dunia belakangan ini, sangat mudah untuk menganggap bahwa hanya ada sedikit harapan yang tersisa bagi umat manusia.

Namun meski kebanyakan tidak diketahui, agenda untuk perdamaian dunia sebenarnya sudah sangat aktif dikerjakan dan diadvokasi. Sebagai contoh, agenda The Congress of Leaders and Traditional Religions senantiasa ditanamkan ulang, dipermak, diperbarui dan ditegaskan ulang tiap tiga tahun, saat para pemimpin agama dari berbagai agama dan negara bertemu satu sama lain.

Saya punya kesemparan untuk menghadiri pertemuan terakhir kongres tersebut, yang berlangsung di Astana, Kazakhstan (Oktober 2018). Secara esensinya pertemuan kali ini tidak berbeda dengan penyelenggaraan pertama di tahun 2003. Tiap orang mulai dari para rabbi, mufti, hingga para biarawan dan imam bersilaturahmi satu sama lain dan mereka bekerja bersama untuk mengurai apa makna dari perdamaian duni dan bagaimana mencapainya.

Istana Perdamaian dan Rekonsiliasi di Astana

Tetapi apa yang membuat kongres keenam ini berbeda secara mencolok dari sebelumnya adalah terkait upaya agar agama sebagai pandangan dunia diterjemahkan ke dalam praktik. Setiap edisi pertemuan memang memiliki tema sendiri. Pertemuan tahun 2015 lalu, secara khusus, telah dilalui dengan meninjau berbagai diskusi panjang antara pemimpin agama dan tokoh politik, yang memuncak dalam pembentukan standar perdamaian dan bahkan pembangunan Istana Perdamaian dan Rekonsiliasi di Astana pada 2006.

Tentu saja, sesi tahun ini meninjau apa yang telah diwariskan dan disepakati oleh para peserta tiga tahun lalu, dengan fokus khusus pada bagaimana komunitas agama dapat menghadapi masalah keamanan global, mengubah lanskap geopolitik, ekstremisme dan terorisme, serta tantangan dan tanggapan khusus yang mereka emban.

Jika ditinjau kembali, narasi yang dikumpulkan selama kongres menegaskan apa yang sudah lama saya duga: bahwa toleransi beragama adalah satu-satunya jalan kita menuju perdamaian dunia. Dalam era kemajuan teknologi ini, keyakinan agama menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah penurunan jumlah.

Tetapi pengurangan jumlah orang beriman ternyata tidak begitu drastis. Penelitian yang dilakukan oleh ahli demografi Conrad Hackett dan David McClendon pada tahun 2015 menunjukkan bahwa hanya 16 persen dari populasi dunia (yang saat ini mencapai 7,7 miliar orang) menganggap diri mereka “tidak terafiliasi” dengan suatu agama; sisanya masih menganut satu agama atau setidaknya bertindak berdasarkan sistem kepercayaan mereka. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengimani suatu keyakinan, masih dan mungkin akan terus percaya pada kekuatan yang lebih tinggi yang membuat kita semua menjadi kuat.

Saya percaya perdamaian dunia mungkin tidak sesulit yang mungkin dipikirkan oleh para skeptis. Dasar pemikiran di balik itu sebenarnya logis. Bahwa kita semua, tidak peduli betapa berbedanya warna kulit, status sosial ekonomi, dan sistem kepercayaan kita satu sama lain, kita tetap hidup di planet yang sama yang disebut bumi. Hal ini sangat menunjukkan singularitas yang kita percayai, meski dalam setiap cara dan metode yang unik.

Kekuatan ini yang mengikat kita semua datang dalam berbagai nama – Allah, Tuhan, Yahweh, Brahman, dan banyak lagi. Kita sama dalam kemanusiaan kita, meski dalam penyampaiannya kita berbeda. Ada begitu banyak penafsiran dan mode pemujaan terhadap Yang Ilahi. Dan kita memiliki banyak bahasa untuk berkomunikasi dan memetakan makna yang kita maksud.

Beberapa dari kita telah menemukan cara untuk benar-benar mengerti mengapa kita semua ada di sini. Beberapa orang cukup dengan merasa bahagia karena mengetahui bahwa kita ada di sini.

Jika kebersamaan adalah yang terbaik yang bisa kita dapatkan saat ini, maka sudah saatnya untuk memanfaatkan sepenuhnya kebersamaan itu. Ketidakharmonisan apa pun yang ada, bukanlah hasil dari perbedaan agama kita, tetapi ketidakmampuan kita untuk hidup dalam damai.

Agama adalah pandangan dunia yang membawa kita pada jalan menuju kehidupan moral. Kehidupan yang hidup secara etis adalah kehidupan yang damai. Dan kehidupan yang damai adalah kehidupan yang dihidupi dalam damai pula.

Diterjemahkan dari Religious Tolerance Key to World Peace Ahmad Kushairi (Editor New Straits Times)

Komentar Anda

komentar