Pada 2018, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mencoba menyuguhkan bukti-bukti arkeologis tentang jejak-jejak toleransi di Nusantara. Dalam penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa para leluhur Nusantara ternyata sudah merajut toleransi sejak dahulu kala.

Rangkuman hasil penelitian Puslit Arkenas tentang tradisi toleransi tersebut kemudian dikemas dalam buku seri satu Rumah Peradaban berjudul Jejak Silam Toleransi yang ditulis arkeolog Bambang Budi Utomo dengan editor Prof Harry Truman Simanjuntak.

Buku Jejak Silam Toleransi sengaja dikemas dengan ringkas menjadi semacam buku saku agar mudah dipahami oleh masyarakat. Buku tersebut memuat penjelasan-penjelasan ringkas tentang bagaimana jejak-jejak toleransi sudah lama mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara di masa lampau.

Para peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional  ingin arkeologi bisa menjawab masalah-masalah masyarakat saat ini, seperti maraknya kasus-kasus intoleransi dan massifnya penyebaran berita-berita bohong. Selain menyampaikan nilai-nilai kearifan budaya, para peneliti juga berharap arkeologi bisa menyumbangkan kebijakan-kebijakan publik berbasis hasil-hasil riset.

Beberapa tempat yang sarat dengan toleransi di masa lampau adalah Goa Harimau, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Di Goa Harimau misalnya, para arkeolog menemukan fakta bahwa gua tersebut pernah dihuni oleh dua ras manusia berbeda, yaitu Austromelanesoid dan Mongoloid sekitar 22.000 tahun  lalu hingga awal masehi.

Para arkeolog menyatakan bahwa dari cara-cara penguburannya, ditemukan adanya keterlibatan dua ras manusia tersebut yang pernah hidup berdampingan pada masa-masa awal ras Mongoloid hadir sekitar 3.500an tahun lalu. Hidup yang berdampingan inilah yang kemudian menandakan bahwa kedua ras tersebut menerapkan sikap yang sangat toleran.

Selanjutnya, pada abad ke 8 hingga 10 masehi, di antara Gunung Sumbing-Sindoro dan Merbabu-Merapi berkembang peradaban tinggi Dinasti Syailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Yang menarik adalah, meski mayoritas penduduk kerajaan ini beragama Budhha, namun agama lain, yaitu Hindu juga dibiarkan berkembang.

Baca juga:  Bagaimana Soeharto Merepresi Santri NU dan Gus Dur Melawannya?

Para arkeolog menyajikan bukti nyatanya yakni keberadaan candi-candi Hindu seperti Candi Prambanan yang dibangun berdampingan dengan Candi Sewu yang bersifat Buddhis. Kompleks candi Buddhis Plaosan Lor, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah bahkan dahulu dibangun dengan gotong-royong oleh masyarakat.

Nama-nama penyumbang stupa candi tersebut terukir di dinding-dinding batu. Salah satu tulisannya adalah “asthupa sri maharaja rakai pikatan” yang artinya persembahan stupa oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan yang merupakan penganut agama Hindu.

Penemuan ini menunjukkan bahwa pada abad ke-9 masehi, pemeluk agama Buddha dan Hindu hidup berdampingan dengan damai, bahkan bersama-sama saling membantu mendirikan bangunan suci.

Dari hasil penelitian tersebut, masyarakat Indonesia mestinya tak perlu menanyakan lagi bahwa rasa toleransi sudah menjadi sifat dasar penduduk Nusantara. Pada institusi kerajaan di masa lampau, toleransi diakomodir ke dalam sruktur pemerintahan dan diwujudkan dalam pendirian bangunan-bangunan suci.

Sikap toleransi juga tercermin saat para penguasa turut membantu meski berbeda keyakinan. Sejak dulu, masyarakat Insonesia sudah memiliki toleransi dalam kehidupan beragama dan seharusnya sikap tersebut jangan sampai hilang tergerus zaman.

Toleransi mestinya tidak perlu dipermasalahkan lagi sebab masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan perbedaan yang ada. Di Indonesia, perbedaan adalah sebuah keniscayaan karena keanekaragaman budaya dan etnik bangsa ini terbentuk seiring perjalanan waktu.

Keberagaman yang tumbuh di Indonesia tidak mungkin terjadi tanpa adanya sikap toleransi dan rasa kebersamaan di antara kelompok-kelompok masyarakatnya. Para leluhur sudah mengajarkan. Kini, giliran kita yang meneruskan.

Sumber: Kompas.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar