Tradisi toleransi tidak hanya selalu dimaknai sebagai tradisi klasik yang mengakar sejak lama di Indonesia. Akar-akar tradisional untuk saling menghargai di tengah perbedaan pun tetap bisa diterapkan dalam konteks yang lebih baru. Dalam konteks tempat tinggal, misalnya, sering kali orang hanya membayangkan suasana toleran itu hanya ada di desa-desa yang sejak dulu sudah beragam. Padahal itu pun masih bisa dimaknai dalam kondisi rumah tinggal seperti di perumahan.

Seperti terjadi di Perumahan Bukit Mutiara, Desa Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Nilai-nilai luhur toleransi atau kerukunan antarumat beragama di perumahan yang didominasi warga yang berstatus pensiunan TNI-Polri itu telah menjadi budaya tersendiri. Mereka saling menghormati dan menebar kasih sayang meski berbeda keyakinan.

Salah satunya, ketika hari raya agama tiba. Di mana warga yang memperingati hari raya keagamaannya tak perlu resah ketika hendak mudik meninggalkan rumahnya untuk berkumpul bersama keluarga besar mereka di kampung. Warga biasanya menitipkan rumah ke tetangga untuk menjaganya.

Seperti saya hendak pulang ke Manado, Sulawesi Utara, sebentar untuk Natalan bersama keluarga. Ada tetangga saya yang muslim yang kami sudah anggap bersaudara yang rela memperhatikan atau menjaga rumah kami selama mudik,” ucap Lisa, seorang warga Perumahan Bukit Mutiara, Moncongloe, Kabupaten Maros.

Demikian sebaliknya, ketika tetangganya yang muslim tersebut menyambut Idul Fitri dan hendak merayakannya di kampungnya di Kabupaten Bone. Maka, giliran Lisa dan keluarga yang menjaga rumah sang tetangga selama ditinggal mudik.

Itulah kami yang selalu menganggap siapa pun tetangga kami sebagai saudara meski kami berbeda agama atau keyakinan,” ujar Lisa. Sebab, tetangga adalah saudara yang paling terdekat ketika memerlukan pertolongan seperti saat sakit. “Otomatis yang duluan menolong kita adalah tetangga.

Hal serupa dirasakan Harlia, tetangga Lisa yang muslim itu. Selama 20 tahun menjadi warga di Perumahan Bukti Mutiara, ia dan keluarganya sangat merasakan rasa persaudaraan dan hidup rukun dalam bertetangga meski tetangganya sendiri ada beberapa yang nonmuslim. salah satunya tetangga itu bernama Lisa.

Saling menyayangi dan menganggap bersaudara meski kami beda agama. Kami sangat merasakan indahnya kerukunan beragama atau toleransi agama di sini,” tutur Harlia.

Sumber: liputan6.com

Komentar Anda

komentar