Untuk kesekian kalinya. Lagi, dan lagi. Terorisme mencabik-cabik rasa kemanusiaan kita. 

Kali ini Gereja Katedral Makasar menjadi sasaran. Tepat ketika umat Kristen memperingati Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara Kristus. Bummmbb! Bom bunuh diri meledak!

Dalam Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara, umat Kristen biasanya diingatkan bahwa sukacita dan dukacita adalah bagian dari realitas kehidupan yang dapat hadir dalam satu momen yang sama. Seperti Kristus yang dieluh-eluhkan dan sekaligus akan diadili dan dijatuhi hukuman walaupun Ia tidak bersalah.

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Minggu Palmarum dan Minggu Sengsara ini seperti sudah diantisipasi oleh spiritualitas yang memberikan kepada kita daya tahan dan kekuatan untuk bersabar. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan! Sebab, hal itu hanya akan menghasilkan lingkaran setan kekerasan. 

Terorisme Musuh Kemanusiaan dan Agama!
Namun demikian, semua rakyat Indonesia dan pemerintah tetap harus mengatakan dengan tegas bahwa terorisme adalah musuh kemanusiaan! Terorisme anti kehidupan! Bahkan, terorisme adalah ancaman bagi agama-agama itu sendiri!

Mengapa? Sebab salah satu akar terorisme adalah ajaran agama. Hal ini tidak bisa kita tutup-tutupi. Jika kita ingin memberantas terorisme, maka kita harus jujur mengakui bahwa agama-agama menyimpan potensi terorisme. Saya katakan agama-agama, berarti bukan hanya satu agama tertentu.

Ketika orang lain dianggap kafir, kegelapan, bahkan dipandang sebagai anak-anak setan, saat itu agama sudah melakukan kekerasan sejak dalam pikiran! Lalu, ketika kekerasan secara fisik dipakai untuk memberangus orang yang berbeda dengan iming-iming surga, maka saat itu agama sudah memberikan stempel yang melegitimasi kekerasan terbuka, bahkan bertindak sebagai aktornya!

Kita mesti jujur untuk mengatakan bahwa tafsir yang keliru atas ayat-ayat suci telah berperan sangat besar dalam memperkuat narasi-narasi kekerasan! Tafsiran yang keliru itu telah membangun kesadaran palsu, yang membuat agama menjadi mesin pemisah dan pembunuh! Kalau hal ini tidak bisa kita akui dan atasi, maka rasanya terorisme akan sulit untuk kita hentikan!

Baca juga:  Militer Afrika Selatan Kini Izinkan Tentara Wanita Muslim Pakai Jilbab

Oleh karena itu, agama-agama, setidaknya melalui para elitnya, perlu menyatakan secara terbuka bahwa ada ayat-ayat suci yang diplintir oleh kelompok-kelompok tertentu dan mereka menjadikannya sebagai ideologi pembunuh! 

Lalu, agama-agama bersama dengan negara bahu-membahu memerangi terorisme! 

Jika hal-hal itu tidak dilakukan secara serentak, maka kita akan terus dibelenggu oleh kuasa yang menceraikan agama-agama. Umat beragama akan terus dipolitisasi!

Lantas, generasi milenial akan semakin muak dengan agama! Tak ada lagi pesona agama di mata mereka, selain daripada kengerian kuasa kematian yang diletupkan lewat aksi-aksi terorisme.

Dengan demikian, kita mesti menyelamatkan kemanusiaan dan kehidupan, barangkali dengan pertama-tama menyelamatkan agama itu sendiri. Hans Kung pernah berujar, tak akan ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antara agama-agama. Tidak ada perdamaian agama-agama tanpa dialog antar-agama.

Dengan demikian, dari pada kita saling menuding satu dengan yang lain, dan hal itu justru menjadi celah politisasi agama, lebih baik kita duduk bersama untuk berbicara terbuka! Jujur-jujuran! Paling tidak, hal itu dimulai dari para tokoh dan pemimpin agama, seperti PGI, KWI, NU, Muhammadiyah, MUI, Matakin, Parisada Hindu-Dharma, dan lain-lain.

Setelah itu, agama-agama menyatakan dukungan terbuka bagi aparat negara untuk bersama-sama memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya.

Sel-sel Terorisme
Menurut hemat saya, negara dengan sistem intelegen yang lengkap, bahkan mempunyai satuan khusus anti terorisme, pasti tahu betul sel-sel terorisme. Ditambah dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki negara, mestinya tidak sulit untuk mendeteksi dan melumpuhkan sel-sel terorisme. Kecuali, kalau negara melalui oknum tertentu mau “bermain-main” dengan terorisme.

Hanya saja, menurut saya, negara perlu didukung, terkhusus oleh agama-agama melalui para elitnya, sebab di Indonesia, kita tak bisa memungkiri peran signifikan agama-agama. 

Baca juga:  Forkompinda-Tokoh Agama Poso Gelar Pertemuan Imbas Kasus Sigi

Dalam situasi genting, negara dapat memakai seluruh alat kelengkapan yang dimiliki untuk menyelamatkan kehidupan, kemanusiaan, bahkan menyelamatkan agama-agama itu sendiri, dengan melumpuhkan sel-sel terorisme.

Mari, kita terus doakan dan perjuangkan Indonesia yang damai!

Penulis: Pdt. Hariman A. Pattianakotta
Sumber Foto: Shutterstock

Bagikan

Komentar Anda

komentar