Seperti telah dibahas di banyak pemberitaan, keputusan Pemerintah Amerika Serikat tentang Yerusalem memang mengundang sejumlah protes. Simpati banyak ditujukan pada para warga Palestina yang dinilai semakin termarginalkan oleh keputusan itu.

Ungkapan simpatik pada penderitaan bangsa Palestina ternyata bisa ditunjukkan dengan berbagai cara. Sebagaimana dilakukan di Nazareth, salah satu wilayah yang kini ada di bawah otoritas pemerintahan Israel.

Nazareth, kota tempat Yesus atau Nabi Isa Almasih menghabiskan masa kanak-kanak, tahun ini tidak merayakan Natal. Wali Kota Nazareth Ali Salam,  membatalkan  seluruh rangkaian Perayaan Natal, sebagai protes atas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Identitas dan iman kami tidak untuk diperdebatkan,” kata Salam yang beragama Islam, seperti dilaporkan The Times of Israel, Jumat (15/12).  “Keputusan itu telah melenyapkan kegembiraan karena itu kami membatalkan festival tahun ini,” lanjut Salam.

Dewan Kota mengumumkan pembatalan seluruh rangkaian acara, termasuk festival dan pasar Natal, Kamis (14/12). Kota itu memang tetap akan menyalakan Pohon Natal, tapi tidak menggelar perayaan apapun.

Nazareth adalah salah satu dari kota suci bagi umat Kristen, di sanalah Malaikat Gabriel (atau Jibril dalam ajaran Islam) memberitahukan kepada Bunda Maria bahwa dirinya sedang mengandung bayi Yesus. Menurut Kitab Perjanjian Baru, Yesus juga dibesarkan di kota itu.

Nazareth juga dikenal sebagai ibu kota warga Arab di Israel. Dua pertiga penduduknya beragama Islam, dan sepertiganya beragama Kristen.

Perayaan Natal di kota itu bukan sekadar peringatan keagamaan, melainkan acara yang mendatangkan pendapatan yang cukup besar bagi kota tersebut. Perayaan Natal di Nazareth mengundang banyak turis mancanegara setiap tahunnya.

Tiadanya perayaan Natal tahun ini, yang diputuskan Dewan Kota sebagai protes terhadap langkah Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, tampaknya bakal berdampak pada kota tersebut. Meski demikian, bagi warga Kristiani dan Muslim di kota ini, peniadaan ini adalah bentuk simpati yang mereka bisa lakukan untuk rekan-rekan mereka di Palestina.

Sumber: cnnindonesia.com

Komentar Anda

komentar