Jika hanya menepuk dada dan berkata, “Kami orang muda bisa,” kolonial tua zaman old pun mampu melakukannya. Bila hanya besar di suara, apa bedanya dengan tong kosong?

“Pemuda adalah masa kini.” Benar! Ungkapan ini 100 % tepat. Oleh karena itu, yang muda mesti memberikan bukti! Visi dan kapasitas mumpuni. Spiritualitas dan karakter prima. Berani berkolaborasi. Lalu, mengukir karya di kekinian waktu. Inilah tantangan orang muda. Namun, sama sekali bukan tantangan baru.

1928. Pemuda dari berbagai daerah berani menjawab tantangan itu. Satukan visi: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia. Mereka berkolaborasi. Saling mengasah gagasan dan kompetensi. Menunjukkan kerendahan hati, bukti dari kedalaman spiritual. Lalu, berjuang bersama demi Indonesia merdeka!

Merdeka bukan sekadar lepas dari kolonialisme bangsa lain, tetapi juga merdeka untuk hidup secara adil, damai, dan bermartabat bersama yang lain. “Bonum commune,” kebaikan bersama. Inilah yang kita dambakan dan cita-citakan, dari masa ke masa.

Ke dalam harapan dan cita-cita itulah pemuda berjuang, termasuk di era industri 4.0 sekarang ini. Eksis atau tidaknya pemuda ditentukan oleh peranannya. Oleh karena itu, bukan membesarkan suara, apalagi membesarkan kepala. Hanya koloniallah yang besar kepala.

Dunia, negara Indonesia, agama-agama, masyakat sipil, gereja memerlukan pemuda yang besar karya. Tekun mengukir prestasi, memberi bukti. Bukan untuk diri sendiri, tetapi dalam rangka “to live together.” Maka, satu kata penting perlu dihayati: Kolaborasi.

Kolaborasi bukan bagi-bagi posisi, tetapi menyatukan potensi untuk mewujudkan mimpi bersama. Oleh sebab itu, orang muda mesti aware dan keluar dari perangkap individualisme dan hedonisme; melepaskan diri dari jebakan nafsu berkuasa, tanpa harus apolitis; tidak boleh melanjutkan praktik diskriminasi, apalagi tumbuh dalam fanatisme yang picik dan sempit.

Baca juga  Cara Mendidik

Tetaplah bangga sebagai orang Islam tanpa menjadi Arab. Banggalah sebagai orang Kristen tanpa menjadi Yahudi. Banggalah sebagai yang beragama Hindu tanpa menjadi India. Banggalah sebagai orang Budha tanpa menjadi Cina. Demikian, Soekarno mengingatkan kita. Lebih penting, banggalah karena kita menjadi bagian dari Indonesia yang majemuk. Indonesia yang mengajarkan kita masohi, gotong-royong, bekerja sama, kolaborasi!

Pertajam visi, perkuat kompetensi, perdalam spiritualitas dan perlihatkan karakter dan karya. Bukan dalam ucapan, sebab itu sama saja dengan canang yang gemerincing. Jangan bikin hidup makin bising. Jangan jadi penindas-penindas baru.

Jadilah berarti bersama dan untuk sesama di tengah masyarakat dengan hutan yang kian menggundul. Jadilah harapan bagi mereka yang kehilangan martabatnya; Yang hidup miskin di alam yang kaya. Jadilah berarti dengan berbagi bersama siapa pun yang membutuhkan. Bangun dan hidupi spirit kolaborasi dalam berbagai bidang untuk saling memberdayakan.

Selamat memperingati HUT Sumpah Pemuda.

Penulis: Hariman A. Pattianakotta (Pendeta Universitas Kristen Maranatha)
Foto: Dok. Kompas
Sumber:FOKAL.info

Bagikan

Komentar Anda

komentar