Sumpah pemuda 89 tahun silam telah menjadi satu titik penting dalam era perjuangan kemerdekaan Indonesia. Barasan-batasan daerah, sekaligus pula etnisitas, bahasa, agama dan hal-hal lain telah ditembus untuk satu perjuangan bersama. Momen ini tentu pas diperingati sebagai momen refleksi akan keberagaman dan persatuan Indonesia.

Namun, jika kebanyakan merayakannya dengan seminar, diskusi atau momen seremonial lain. Ada beberapa komunitas dan lembaga yang memilih merayakan sumpah pemuda tahun ini dengan cara yang berbeda.

Gerakan Pemuda (PP GP) Ansor, misalnya merayakan Sumpah Pemuda dengan meresmikan kerjasama dengan Yayasan Generasi Indonesia Internasional (ID-Gen) dalam rangka pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan karakter anak dan pemuda melalui sepakbola sosial.

Sepakbola sosial? “Ya Kerja sama juga bertujuan mengkampanyekan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian kepada generasi muda Indonesia melalui sepakbola sosial,” ujar Harry Wijaya CEO ID-Gen.

Menurut Harry, kedua belah pihak sepakat mengadakan beberapa program jangka pendek, di antaranya pada November mendatang akan diadakan coaching clinic sepak bola di 12 provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, NTT, dan Papua.

Selama coaching clinic, jelasnya, peserta akan diajak bermain bola sambil mempraktikkan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan dan juga toleransi yang akan berdampak pada kehidupan sosial mereka.

“Metode sepakbola sosial ini diyakini cukup efektif menanamkan nilai-nilai tersebut dalam diri setiap orang yang bermain. Tanpa disadari, anak-anak atau pemuda yang menjadi peserta coaching clinic memahami pentingnya toleransi dan juga perdamaian serta akan terbentuk karakter yang baik dari dalam diri masing-masing peserta,” jelas Harry.

Selama coaching clinic, jelasnya, peserta akan diajak bermain bola sambil mempraktikkan nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan dan juga toleransi yang akan berdampak pada kehidupan sosial mereka.

“Metode sepakbola sosial ini diyakini cukup efektif menanamkan nilai-nilai tersebut dalam diri setiap orang yang bermain. Tanpa disadari, anak-anak atau pemuda yang menjadi peserta coaching clinic memahami pentingnya toleransi dan juga perdamaian serta akan terbentuk karakter yang baik dari dalam diri masing-masing peserta,” jelas Harry.

GP Ansor sendiri berencana membentuk tim atau komunitas sepakbola sosial dengan nama Ansor Football Community dan juga bersama ID-Gen menyelenggarakan Festival Sepakbola Perdamaian dan Liga Ansor Nusantara 2018.

Sepakbola terbukti bisa menyatukan semua etnis, suku, agama, keyakinan, latar belakang, dalam satu lapangan. Namun, banyak juga sepakbola menjadi momok menakutkan, ketika dipandang dalam perspektif yang salah. Kerusuhan yang kerap terjadi adalah karena salah dalam memahami sepakbola,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (PP GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Gus Yaqut, sapaan akrabnya, mengatakan, ini dapat dianalogikan dengan agama. Jika salah dalam memahami agama, maka dapat menghancurkan peradaban umat manusia. Gus Yaqut berterima kasih dan mendukung kerja sama ini karena lembaga ID-Gen, yang dikenal juga dengan ID Gen Uni Papua hadir mengajak kebaikan umat manusia untuk berbuat baik, bersatu dalam perbedaan.

Kita ini sama, sama-sama cinta sepakbola, terutama sepakbola Indonesia. Kita akan bersama-sama dengan Uni Papua untuk menggelorakan semangat olahraga, semangat memajukan sepakbola, dan menjadikan sepakbola sebagai salah satu usaha memersatukan kebhinnekaan,” tutur Gus Yaqut.

Sumber: tribunnews.com

Komentar Anda

komentar