Ia tak pernah berambisi menjadi kepala desa. Ia sadar betul, ketiadaan modal untuk kampanye dan sebagai seorang beragama Kristen, ada kemungkinan muncul sentimen agama, mengingat sebagian besar warga desa menganut agama Islam. Tapi beberapa orang mendorongnya agar maju.

Saat itu calonnya ada empat termasuk saya. Kalau pemilihan itu kan biasanya ada politik uang dan itu hal biasa. Tapi saya satu-satunya calon yang berani mengatakan ‘saya mau dicalonkan asal menerima saya apa adanya’,” katanya, mengenang pengalamannya enam tahun silam. Syarat kedua yang diajukan kepada orang-orang yang memaksanya maju adalah jika terpilih nanti, ia ingin masyarakat mengawal penuh program-programnya.

Kalaupun saya saya melakukan kesalahan, tolong diingatkan,” katanya sambil tersenyum.

Ia adalah Sugeng Mulyadi, yang kini menjadi kepala desa di Desa Nglinggi, Klaten. Desa ini adalah rumah bagi sekitar 2.400 penduduk dengan beragam keyakinan, tapi sebagian besar beragama Islam. Sugeng pun masih ingat betul, saat mencalonkan diri menjadi kepala desa pada tahun 2013, jumlah warga Kristen hanya 20 orang. Namun pihak-pihak yang mendukungnya kala itu kebanyakan Muslim.

Justru yang men-support saya itu kebanyakan Pak Haji-Pak Haji,” ujar Sugeng.

Selama kampanye, ia tak pernah mau menyinggung agama. Hal pokok yang dibicarakan hanya program. Dia bercita-cita menjadikan desanya sebagai kawasan ekonomi baru yang damai. Tak disangka, saat hari pemilihan, Sugeng meraup perolehan 52 persen suara, menang telak dari lawan-lawannya. Menurutnya, kemenangan itu tak lepas dari potret kehidupannya sehari-hari.

Saya ini kan punya anak asuh yang berbeda agamanya. Mereka ada yang jadi pemuda masjid, tapi kehidupan kami bagus-bagus saja. Saya juga tidak pernah memaksa mereka masuk Kristen. Mungkin warga melihat itu,” ungkapnya.

Selama memimpin, Sugeng mengaku tak pernah menghadapi teror dari kelompok agama lain. Itu karena ia membentuk paguyuban kerukunan umat beragama. Dimana tokoh-tokoh agama kerap bertemu dan ngobrol. Setiap kali ada peringatan hari raya keagamaan, semua pihak saling membantu dan mengunjungi.

Saya sendiri sering hadir di pengajian, ikut tahlilan. Kalau Idul Fitri, saya mengkoordinir, jaga sepeda.

Namun demikian, kencangnya isu sentiman agama di media sosial jelang Pilpres, membuatnya ikut was-was. Apalagi baru-baru ini, ia memasang sembilan hot spot internet di desa yang tujuannya sebetulnya ingin menjadikan warganya melek internet.

“Wi-fi itu kan biar warga bisa jualan online, mempercepat komunikasilah. Selain itu supaya petani kalau mau mencari bagaimana mengatasi hama tanaman, tinggal buka internet. Tapi kita ajarkan juga etika bermedia sosial,” imbuhnya.

Sumber: bbc.com

Komentar Anda

komentar