Fenomena politik identitas dan isu-isu perpecahan yang terjadi belakangan ini memunculkan bebagai pertanyaan. Diantaranya, benarkah semangat kebangsaan di Indonesia sudah mati atau setidaknya sudah kurang relevan lagi?

Menanggapi itu Sri Sultan Hamengku Buwono X menghimbau, hendaknya setiap elemen bangsa mengambil peran strategis untuk membangun ‘Semangat Kebangsaan yang Meng-Indonesia’ dengan menegaskan semua kepentingan sempit atas suku, agama, ras dan antar golongan.

Sri Sultan juga mengharapkan peran kaum intelektual untuk melakukan transformasi ide-ide kebangsaan dengan metoda yang mudah dicerna Generasi Muda. Ia mencontohkan, fenomena yang terjadi di negara lain.

Di Amerika Serikat, misalnya, jiwa Nasionalisme ditanamkan sejak dini pada jenjang pendidikan pre-school. “Jadi globalisasi pun adalah perluasan semangat nasionalisme-ekspansif Amerika Serikat,” katanya. “Lewat soft-campaign, AS melakukan penetrasi politik, ekonomi dan budaya memasuki ke negara-negara berkembang dengan aman, dan malah nyaman dirasakan oleh penduduknya.

Pendapat itu disampaikan Ngarsa Dalem dalam pidato kebangsaan di hadapan akademisi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Gedung Pertemuan Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Madura, Rabu (12/12). Dalam pertemuan itu juga hadir tokoh Madura Prof Dr Mahfud MD, serta para pejabat Provinsi Jawa Timur dan kabupaten Bangkalan, Sumenep, dan Sampang.

Mahfud MD dalam komentarnya juga mengajak, para hadirin untuk merefleksikan kembali peran penting Yogyakarta di era revolusi kemerdekaan dan era reformasi. Mahfud menegaskan, bahwa Yogyakarta punya peran penting dalam sejarah terbentuknya NKRI.

Tahun 1946 Belanda melalui bendera PBB mau merebut kembali NKRI, tapi Jogja memberi tempat kepada Presiden Soekarno agar Ibukota dipindah ke Jogjakarta,” ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu. Sri Sultan Hamengku Buwana IX kemudian membiayai keberlangsungan pemerintahan sampai tahun 1949, sampai Belanda mengakui Kedaulatan NKRI.

Selanjutnya, Mahfud menceritakan kesaksiannya saat menjelang reformasi 1998. Ia menyaksikan sendiri dan ikut mengawal saat Presiden Soeharto akan jatuh. Kondisi masyarakat serba khawatir dan tidak kondusif. Melihat hal itu, Sri Sultan Hamengku Bawono X lalu mengadakan pisowanan agung agar peralihan kekuasaan berjalan dengan tertib.

Dalam konteks pendekatan Yogyakarta yang demikian, Mahfud menilai perlunya mendengarkan Pidato Kebangsaan Sri Sultan Hamengku Bawono X tentang pendekatan kebudayaan dalam membangun bangsa dan merajut keindonesiaan. Sebab hal-hal seperti ini tidak cukup hanya didekati dengan pembangunan politik atau ekonomi semata.

Sumber: suaramerdeka.com

Komentar Anda

komentar