Saya Solehudin, saya dari Cililin,” ujar pria bertopi itu. Tangan kanannya kokoh memegang gunting. Tangan kirinya menenteng ember bekas wadah cat. Matanya sigap mengamati sumbu lilin mana yang kiranya sudah cukup waktu untuk dipotong.

Soleh, biasa ia dipanggil, bekerja sebagai penjaga paruh waktu di Vihara Dharma Ramsi, Gang Ibu Aisyah, Jalan Cibadak Bandung. Sabtu lalu (16/2), ia terlihat sangat siap siaga menjaga agar nyala lilin Imlek tetap menyala maksimal. Idealnya, lilin-lilin besar itu memang dipajang di depan vihara hingga perayaan Cap Go Meh.

Ini dipotong ujung sumbunya aja, kalau enggak dipotong nanti apinya mati,” ujar Soleh menerangkan kerjanya hari itu. “Saya seorang Muslim, saya sudah 20 tahun bekerja menyediakan fasilitas ibadahnya orang yang agamanya beda dengan saya. Saya kira itu bukan persoalan, toh kita saling menghormati,” ujar Soleh dengan nada bicara pelan, di tengah kekhusyuan para tamu yang tengah beribadah.

Ya, alhamdulillah saya nyaman dengan pekerjaan ini dan hidup tenang. Yang penting bagi saya ini halal karena dari keringat sendiri,” sambung bapak tiga anak tersebut.

Bekerja di vihara memang dirasa santai saat hari-hari biasa, namun jika kegiatan seperti imlek, kesibukan Soleh, cukup bertambah. “Tapi alhamdulilah suka dapat rezeki tambahan juga hehe,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Bagi Soleh, rezeki yang didapat dari keringat sendiri adalah halal selama tidak merugikan orang lain. Meski Soleh hanya bekerja di vihara tatkala ada panggilan saja, namun diakuinya ia dapat penghasilan yang lumayan mencukupi. “Yang penting kan kita bersyukur, kecil besarnya mah belakangan lah,” ajarnya.

Menjaga vihara diakui Soleh bukan perkara sulit, bahkan ia sama sekali tak mendapat stigma negatif baik dari tetangga, saudara bahkan keluarganya sakali pun. “Selama ini keyakinan saya tetap tidak berubah, dan di sini pun tidak ada misalnya memaksa pindah keyakinan atau apa, kita di sini saling menghargai aja,” lanjutnya.

Sebagai seorang yang merasakan besarnya sikap toleransi secara langsung, Soleh merasa keheranan dengan banyaknya isu intoleransi di Indonesia. Soleh yakin bahwa nilai dasar kehidupan bernegara adalah menghargai perbedaan, terlepas dari kondisi politik, yang bagi Soleh dalam banyak sisinya tak ubahnya sekadar dagelan.

Bagi saya, menjadi petugas vihara bukan cuma pekerjaan, tapi bagaiamana caranya bisa memperlakukan orang sebaik mungkin meski ia berbeda, bahkan secara kepercayaan sekalipun,” tutupnya dengan bijak.

Sumber: bandungkita.id

Komentar Anda

komentar