Snap Mor menampilkan keaslian budaya Biak. Sebagai masyarakat yang tinggal berdampingan dengan pantai, sebagian dari mereka hidup dengan memanfaatkan kekayaan laut. Cara tradisional ini dipilih agar ekosistem ikan di laut tetap terjaga dan bisa dinikmati hingga ke anak cucu.

Sekretaris Kabupaten Biak-Numfor, Markus Mansnebra menyampaikan sambutan tersebut dengan nada bangga. Hari itu Selasa (2/7) ia membuka acara Snap Mor, kegiatan menangkap ikan di waktu air surut, yang merupakan tradisi tahunan masyarakat Biak. Event tahunan ini bahkan sudah semakin dikenal di dunia internasional.

Orang Biak menyebut snap mor sebagai sebuah kegiatan menangkap ikan bersama-sama di waktu air surut dengan menggunakan jaring ataupun tombak atau kalawai, dilakukan di area kampung sendiri dan biasanya juga mengundang kampung yang lain

Waktu pelaksanan snap mor yang terbaik biasanya pada musim meti (bulan mati) saat bulan tidak purnama, atau masa air surut lebih panjang, siang hingga malam hari, atau biasa disebut air tidak pasang, biasanya antara bulan Maret hingga Agustus.

Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor Turbey Onisimus Dangeubun menambahkan, snap mor adalah bentuk rasa syukur atas berkah Tuhan berupa kekayaan laut yang melimpah. Sebelum acara berlangsung, masyarakat diminta untuk tidak menangkap ikan dalam bentuk apa pun selama 3 bulan terakhir. Sehingga, ketika acara snap mor digelar, diharapkan peserta akan mendapat hasil lebih banyak.

Beberapa hari sebelum snap mor berlangsung, kita juga sudah menggelar ritual khusus. Tapi kalau kegiatan ini sifatnya hiburan. Ritual itu dilakukan secara terpisah. Artinya tidak ditampilkan ke publik,” ungkapnya.

Ketua Pelaksana Calendar of Event Kemenpar, Esthy Reko Astuty menuturkan, Biak mempunyai seni dan kebudayaan yang beragam. Salah satunya seni snap mor. Kegiatan ini semakin memperlihatkan keberadaan pariwisata Indonesia dari sisi lain, yakni budaya.

Kita melihat bahwa kekuatan budaya sangat menonjol, sehingga sangat layak untuk dipelihara dan dilestarikan. Nuansa budaya juga harus lebih dikentalkan lagi. Apalagi, Biak memiliki toleransi beragama yang kuat. Sehingga, bisa membawa kenyamanan pada wisatawan yang datang,” ungkap Esthy.

Sumber: Liputan 6

Komentar Anda

komentar