Siswi SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, berinisial Z trauma gegara diteror karena tak berjilbab. Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memastikan pihaknya bakal menyelesaikan kasus ini.

“Sudah selesai. Nanti kawan-kawan akan kita kumpulkan, guru agama, rohis dan kepala sekolah akan kita ajak bicara. NKRI harus saling hormati,” kata Ganjar saat ditemui di Bendung Cisadap, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, Selasa (14/1/2020).

Ganjar enggan merinci langkah konkret apa saja yang telah dilakukan Pemprov Jateng. Ganjar tak mau komentarnya malah menimbulkan polemik yang malah bikin kasus ini makin melebar.

“Sudah, banyak yang sudah dilakukan tapi tidak perlu disampaikan ke publik. Jangan sampai kita bicara, nanti penuh dengan noise dan malah bikin orang sakit hati. Tidak perlu teriak-teriak tapi malah bikin sakit hati. Kita sudah kerjakan satu per satu untuk kita edukasi,” bebernya.

Meski begitu, Ganjar memastikan kasus ini diselesaikan dengan hati-hati. Dia juga menyinggung soal empat pilar kebangsaan yang wajib dijaga.

“Kita Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, maka pendekatan harus dengan baik agar kerukunan tetap terjaga,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Z hingga kemarin masih trauma dan belum berani kembali masuk ke sekolah. Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugiarsi, mengungkapkan Z diduga mengalami tekanan batin sehingga terus merasa ketakutan. Pihaknya diminta orang tua untuk memberikan pendampingan sekaligus terapi agar bisa mengembalikan kondisi kejiwaan Z.

“Sudah tidak mau masuk sekolah sejak Rabu (8/1), ini sudah empat hari. Sudah izin ke sekolah, izin sakit. Tapi ini sakitnya sakit mental karena selalu ketakutan,” ujar Sugiarsi saat dihubungi detikcom, Senin (13/1).

Orang tua Z, Agung Purnomo pun meminta pihak sekolah memberikan kepastian dan jaminan anaknya akan bisa diterima tanpa diskriminasi dan perundungan. Dia berharap sekolah negeri mampu memberikan ruang seluas-luasnya bagi kebhinnekaan dan nasionalisme.

“Kepala sekolah ngomong bahwa masalah ini sudah selesai, terus anak kami yang belum dapat hidayah lah. Ini kan lucu, sejak kapan masalah hidayah, hubungan orang dengan Tuhannya itu menjadikan birokasi di sekolah. Ini sangat berbahaya sekali. Dan semua, guru ternyata ngomongnya seperti itu. Berarti ini kan sudah. Apakah bisa mewujudkan satu wadah sekolah negeri yang mengakomodir pluralisme untuk anak-anak kita,” ujar Agung.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda

komentar