Kunjungan Grand Sheikh al-Azhar, Prof. Ahmad Muhammad ath-Thayyeb ke Indonesia menjadi pemberitaan tersendiri dalam minggu ini. Ulama dari universitas Islam terkemuka itu bertemu dengan sejumlah tokoh, termasuk dengan presiden Joko Widodo pada Senin (30/4).

Dalam pertemuan dengan presiden Sheikh ath-Thayeb membahas revitalisasi konsep wasathiyah, yakni Islam yang penuh toleransi serta mencari jalan tengah dari permasalahan. Sebagaimana dijelaskan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban Din Syamsuddin konsep tersebut juga akan dibahas keduanya bersama 100 ulama dan cendekiawan muslim dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama di Bogor Selasa (1/5). Tujuannya, agar umat tidak terjebak dalam ekstrimisme agama.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 100 ulama, 50 ulama di antaranya berasal dari luar negeri dan sisanya dari dalam negeri. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga ingin menampilkan konsep wasathiyah Islam yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini pun mendapat apresiasi dari Ath-Thayeb.

Sheikh ath-Thayeb juga berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta pada Rabu (2/5) dan disambut Ketua Umum PBNU Prof KH Said Aqil Siradj bersama jajaran pengurus PBNU.

Grand Sheikh ath-Thayyeb menyampaikan, ia berkunjung ke Indonesia untuk memperkuat Islam wasathiyah. Di PBNU dia juga mengingatkan bahwa sekarang umat Islam dan semua umat beragama lain berhadapan dengan media sosial. Di dalam media sosial ada informasi yang memecah belah dan mengadu domba.

Oleh karena itu, walau mazhab kita berbeda-beda harus kembali ke jalan yang benar dan jalan persatuan,” kata Grand Sheikh ath-Thayyeb di gedung PBNU. Kepada umat Islam, Grand Sheikh ath-Thayyeb mengingatkan, umat Islam harus mencari persamaan, bukan mencari perbedaan. Selain itu, umat Islam dilarang mengafirkan orang yang shalat dan kiblatnya sama. Kalau ada orang yang berbuat dosa juga jangan langsung dikafirkan.

Ulama Mesir ini juga mengajak dan menyeru umat Islam untuk bersatu. Umat Islam dengan mazhab apa pun tidak boleh terlalu fanatik. Sebab, orang yang fanatik cenderung salah dan masih awam pemahaman agamanya.

Kepada Nahdlatul Ulama, ia pun meminta agar organisasi Islam terbesar di Indonesia ini harus mampu mempersatukan umat Islam. Nahdlatul Ulama juga harus mampu menjadi duta persatuan.

Hal itu diamini oleh Prof KH Said Aqil, ia menegaskan umat Islam di Indonesia menjadi kebanggaan di dunia karena masih mempertahankan sifat moderat dan toleransi, meski umat Islam Indonesia hidup di tengah keberagaman agama. Oleh karena itu, Islam Indonesia akan menjadi contoh.

Sumber: republika.co.id

Komentar Anda

komentar