Bagaimana Natal mesti dirayakan? Ritual tahunan umat Kristiani itu memang dihayati dengan berbagai macam cara. Ada yang lebih mengutamakan kegiatan-kegiataan keagamaan seperti missa dan kebaktian malam Natal yang khusyuk di gereja, ada pula yang menjadikannya sebagai ajang dakwah populer dengan memakai gedung atau tempat luas mengundang ribuan orang. Bagi tiap keluarga Kristiani pun Natal sering pula dirayakan sebagai momen silaturahmi dan reuni keluarga. Tak ketinggalan dunia usaha sering mengemas momen ini menjadi upaya yang menghibur dan komersial.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun pernah mengusulkan agar Natal juga turut dirayakan di Monumen Nasional. Area yang telah sekian lama menjadi representasi Jakarta juga Indonesia. Wilayah yang sempat steril dari kegiatan publik keagamaan ini, memang kini dibuka lagi untuk kepentingan tersebut.

Tapi, tahun ini nampaknya mayoritas umat Kristiani tidak mau terlalu menanggapi usulan yang demikian. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), sebagai salah satu wadah terbesar gereja-gereja yang beraliran Prostestan menyerukan pesan kesederhanaan untuk perayaan Natal. Sebisa mungkin mereka meminta Natal tetap dirayakan dengan bersahaja dan dilakukan di gedung gereja. Tidak perlu pengerahan massa di tempat publik yang mencolok.

Kami menyarankan perayaan Natal yang berlangsung sederhana, tertib dan hikmat, dan damai Natal dirasakan dengan kejernihan hati,” ungkap Kepala Humas PGI, Jeirry Sumampow pada Rabu malam (20/12).

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Vincencius Adi Prasodjo, Pr. Baginya perayaan Natal itu pada hakikatnya adalah ibadat, karena itu tempatnya memang di gereja. Ia kurang menyetujui apabila Natal dirayakan di tempat terbuka seperti Monumen Nasional. Sikap ini pun menjadi himbauan organisasional Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang merupakan representasi umat Katolik di negeri ini.

PGI dan KWI pun telah menerbitkan surat penggembalaan bersama untuk perayaan Natal 2017, yang mengangkat tema perdamaian dan persatuan. Tema ini dinilai relevan untuk memperteguh kesatuan bangsa guna melawan berbagai potensi perpecahan.

Gesekan-gesekan akibat perbedaan pandangan hendaknya tidak ditanggapi dengan tergopoh-gopoh. Kami mengingatkan untuk menggunakan jalan perdamaian dalam menyelesaikan perbedaan sikap. Persatuan bangsa hendaknya harus tetap dijada,” ungkap ketua umum PGI, Pdt. Henriette Lebang.

Situasi terkini terkait bahaya ekstrimisme agama, potensi perpecahan di pilkada, hingga politik luar negeri semisal pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dinilai berpotensi untuk menimbulkan konflik. Untuk itu umat Kristiani diharapkan agar selalu mengedepankan perdamaian dan persatuan dalam keseharian. Termasuk dalam menerapkan sikap bersahaja saat mengkhidmati Natal.

Sumber: kompas

Komentar Anda

komentar