Kompleks itu kini dibangun dengan semakin modern, meski tidak meninggalkan bangunan asli yang berasal dari abad ke-19. Klenteng Xie Tian Gong kini menjadi bagian dalam kompleks Klenteng Besar Bandung yang terdiri dari tiga vihara.

Kelenteng pertama di Kota Bandung ini selesai didirikan pada 1885. Ini merupakan klenteng tertua dan terbesar di Kota Bandung. Sejarah kelenteng ini berawal dari etnis Tionghoa yang hijrah ke Bandung sejak 1810.

Keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung semakin berkembang semenjak Belanda membuka daerah Priangan yang tadinya tertutup bagi orang asing di pertengahan abad ke 19, terlebih ketika dibangunnya jalur kereta api di wilayah Priangan di akhir abad ke 19 dimana orang-orang Tionghoa ikut berperan dalam pembangunannya.

Selain menetap dan mencari nafkah, etnis Tionghoa merasa memerlukan tempat berkumpul untuk menjalankan adat, tradisi dan kepercayaan tradisional. Bupati Bandung Wiaranakusuma IV mewakafkan tanah untuk mulai dibangun Klenteng pada 1863.

Dalam pembangunan kelenteng ini, Tan Djoen Liong Luitennant der Chinesschen (pemimpin seluruh kawasan etnis Tionghoa) Bandung saat itu mendatangkan seorang arsitek dan ahli teknik sipil langsung dari Tiongkok. Mereka adalah Chui Tzu Tse dan Kung Chen Tse, yang ahli dalam pembuatan kelenteng. Chinese Kerkweg (sekarang Jalan Kelenteng) dipilih sebagai tempat untuk mendirikan kelenteng ini. Jalan Kelenteng saat itu memang menjadi salah satu kawasan Pecinan yang banyak ditinggali etnis Tionghoa.

Tan Djoen Liong kemudian menamakan kelenteng ini Shend Di Miao, yang berarti Istana Para Dewa. Nama ini diambil karena kelenteng ini digunakan sebagai tempat ibadah bersama etnis Tionghoa dari berbagai tempat dengan kepercayaannya yang berbeda-beda. Nama kelenteng ini memang sangat sesuai, mengingat pembangunannya pun didanai secara bersama-sama dari seluruh etnis Tionghoa yang tersebar di Indonesia.

Kelenteng ini sempat beberapa kali berganti nama. Tahun 1917, berganti nama menjadi Xie Tian Gong atau Hiap Thian Kong dalam dialek Hokkian, seiring dengan dilakukannya renovasi pada kelenteng. Di era Orde Baru dengan dilarangnya nama dan segala sesuatu yang berbau Tiongkok nama kelenteng ini dirubah menjadi Vihara Satya Budhi.

Baru pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, ketika etnis Tionghoa diberi kebebasan dalam menjalankan budaya, tradisi dan kepercayaannya, nama Kelenteng Xie Tian Gong kembali muncul tanpa menghilangkan nama Vihara Satya Budhi.

Selain Vihara Satya Budhi di kompleks ini ada dua vihara yang lebih baru dibangun yaitu Vihara Samudra Bhakti dan Vihara Buddhagaya.

Komentar Anda

komentar