Masa itu disebut dengan romantis sebagai Chunqiu Shidai, Zaman Musim Semi-Musim Gugur. Mengacu pada judul tarikh yang ditulis oleh Kong Zi (Konfusius) terkait sejarah Negara Lu sepanjang 771-479 SM. Itu adalah masa dimana kejayaan Dinasti Zhong, dinasti kuno ketiga Tiongkok, mulai meredup. Zaman Musim Semi-Musim Gugur ini berakhir saat dimulai perang antar tujuh negara kuno Tiongkok (disebut Zaman Negara Perang atau Zhanguo shidai, 403-221 SM).

Nampaknya ada satu kebetulan yang unik, sebab di belahan bumi lain, masa-masa itu juga ditandai dengan mencuatnya sejumlah pemikiran dan filsafat. Di Yunani mulai muncul Thales disusul filsuf alam lain, lalu dipuncaki oleh tiga filsuf besar Sokrates, Plato dan Aristoteles (di rentang 600-320 SM). Sementara di India, Hinduisme mulai menginstitusi tradisi Brahmanik, bersamaan pula dengan berkembangnya sejumlah tradisi Sramana, termasuk Buddhisme dan Jainisme (600-400 SM).

Di Tiongkok, melemahnya dinasti justru berimbas pada kebebasan berpikir dan beradu pemikiran. Banyak guru dan perguruan yang mulai mengajarkan penekanan penafsiran atas apa yang disebut sebagai agama tradisional Tiongkok.

Di masa inilah mulai terjadi identifikasi, pengelompokan serta sintesis antar begitu banyak aliran pemikiran. Sampai-sampai orang menyebut masa selama zaman musim semi-musim gugur dan zaman negara perang itu sebagai Pertarungan Seratus Aliran Pemikiran (Baijia zhengmíng). Meski mungkin jumlahnya tidak tepat seratus, tapi istilah ini menggambarkan beragamnya pemikiran kala itu.

Memahami keragaman Agama-agama Tionghoa nampaknya perlu ditumpukan pada zaman ini. Meskipun sejumlah teks suci, konsep, ritual, tradisi dan pemikiran keagamaan telah berkembang jauh sebelumnya, tapi zaman Seratus Aliran Pemikiran telah mewariskan khasanah pemikiran yang mungkin takkan pernah muncul jika kekaisaran tetap dalam dinasti yang stabil.

Adalah Kong Zi (551–479 SM), yang mulai mengajarkan secara sejumlah etika dan hukum moral, yang awalnya hanya untuk warga istana. Pemikirannya kemudian diteruskan murid-muridnya (Yan Hui, Zeng Zi dan Zi Si), kemudian dilanjutkan dengan kritisi oleh sejumlah penerus seperti Meng Zi (Mencius, 371–289 SM) dan Xun Zi (300-237 SM). Ajaran-ajaran Kong Zi dikumpulkan bersama sejumlah kitab kuno yang disempurnakan ulang olehnya, demikian pula dengan tulisan beberapa penerusnya.

Ada lagi Lao Zi yang diperkirakan hidup beberapa puluh tahun sebelum Kong Zi (beberapa riwayat menyebut mereka pernah bertemu langsung), yang menyurat kebijaksanaan dalam langgam yang lebih spiritual dan bersalut misteri. Kitab Dao de jing adalah tulisan hikmat yang menyoal banyak tema. Ajarannya diteruskan oleh para murid semisal Lie Yukou (± 400 SM) dan Zhuang Zhou (389-286 SM) sehingga membentuk apa yang kita kenal sekarang sebagai kanon kitab suci umat Tao (Dao Zang).

Tapi selain kedua guru besar tersebut, zaman Seratus Aliran Pemikiran masih diwarnai oleh banyak guru lain semisal Mo Zi (470-391 SM, aliran Mohisme yang menekankan kesetaraan dan cinta-kasih), Li Kui (455–395 SM, pencetus aliran Legalistik), Zou Yan (305 – 240 SM, penerus aliran Naturalis/Yin-Yang) dan Gongsun Long (325–250 SM, pakar logika).

Adalagi sejumlah mazhab pemikiran yang menekankan keilmuan tertentu seperti kaum diplomat, kaum pertanian, kaum militer. Ada pula yang mencoba menggabungkan sejumlah pemikiran seperti Lu Buwei (291–235 SM). Atau sekian banyak kelompok kecil lain yang dijuluki Kelompok Pembicaraan Kecil (Xiaoshuojia).

Namun menyebut semua itu sebagai aliran tersendiri, tampaknya tidak sepenuhnya benar.

Tawarikh Kong Zi, tidaklah dapat dianggap sebagai ajaran yang baru. Bagi para pengikutnya, Guru Besar Kong ini hanyalah meneruskan dan menyempurnakan ajaran Ru, yang telah ada sejak zaman Tiongkok Kuno. Hal yang sama juga berlaku buat Lao Zi dengan konsep Tao (Dao)-nya.

Sekian banyak pemikiran itu pun masih berbagi tradisi yang sama. Kitab Yi-jing (I-Ching, Kitab Perubahan) misalnya, adalah salah satu kitab kuno yang jadi teks suci, baik bagi pengikut Ru maupun Tao. Atau beberapa elemen tulisan Mo Zi, meski sudah tidak ada pengikutnya, tapi masih dikutip dalam Dao Zang. Kong Zi sendiri justru menjadi sosok suci dalam ajaran Tao. Sementara Wang Bi salah seorang komentator Daodejing yang paling terkemuka, justru adalah pengikut Kong Zi.

Juga perlu dicatat selain Kong Zi dan Mo Zi, tidak ada guru yang membuat institusi pendidikan yang sistematis, sehingga ajaran-ajaran lain umumnya menyebar dan diperdebat-amalkan secara luas.

Di tataran masyarakat bawah, sejumlah praktik spiritual lokal juga tetap dipraktikkan. Orang bisa saja mempraktikkan ritual kuno Tionghoa yang amat beragam, sembari menganut falsafah Konfusianisme atau Taoisme. Atau bisa saja mengikuti sepenuhnya ritual Ru, atau praktik meditatif Tao, yang bisa dianggap sebagai keagamaan yang terpisah dari tradisi lokal masing-masing. Inilah yang membuat ragam agama di Tiongkok menjadi amat unik. Tak ada pemersatu tunggal, tapi saling bersintesis sekaligus saling mengidentifikasi.

Stabilnya negara saat Dinasti Qin dan kemudian Han, memang menutup sekian banyak perdebatan tadi. Namun Masa Seratus Aliran Pemikiran telah melahirkan banyak sintesis yang tak mungkin bisa dihilangkan sepenuhnya. Di periode berikutnya, hadirnya Buddhisme di daratan Tiongkok pada abad pertama Masehi, menambah khasanah sekaligus juga larut dalam kontestasi pemikiran spiritual yang telah dimulai sejak Masa Seratus Aliran Pemikiran ini. **am

Komentar Anda

komentar