Paññañ ce puriso kayirā, kayirāthetaṁ punappunaṁ. Tamhi chandaṁ kayirātha, sukho puññassa uccayo. Apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah ia mengulangi perbuatannya dan bersuka cita dengan perbuatan itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik.(Dhammapada, Syair 118)

Buah kebajikan setiap orang tidaklah sama. Ada yang langsung berbuah namun ada yang lama baru berbuah. Semua itu bergantung pada timbunan kebajikan yang dimiliki masing-masing orang.

Fenomena kehidupan yang sangat berkaitan dengan buah kebajikan itu antara lain adalah pencapaian atau prestasi seseorang. Sering kita melihat ada orang yang cepat berhasil mencapai prestasi atau kesuksesan, namun tidak jarang kita juga melihat ada orang yang selalu gagal atau kalah dalam meraih sukses.

Kondisi yang berbeda tersebut, dapat menimbulkan perasaan iri hati yang kuat. Manakala perasaan irihati itu semakin kuat, dampak yang ditimbulkan adalah sikap tidak senang melihat orang lain berhasil dan bahagia.

Disadari ataupun tidak, jika sikap iri dan benci membelenggu diri, maka pikiran yang selalu muncul adalah mengharapkan orang yang dianggap berhasil atau sukses itu mendapat celaka. Orang yang susah melihat kebahagiaan orang lain, dalam dirinya tersimpan niat yang tidak baik.

Bagaimana kita sebagai umat Buddha menyikapinya? Sadarilah bahwa sangat tidak baik jika pikiran selalu diliputi kebencian dan irihati. Jauhkan pikiran kita dari harapan adanya penderitaan bagi orang lain. Akan lebih baik jika kita fokuskan untuk membahagiakan diri sendiri dan juga orang lain.

Guru Agung Buddha, mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mengembangkan welas asih, menjauhkan diri dari sikap irihati dan membenci. Dengan jelas disampaikan beliau, bahwa “kebencian tidak akan berakhir jika dibalas dengan kebencian, namun kebencian hanya akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih”. Pesan penting yang dapat kita peroleh adalah untuk selalu mengembangkan batin dengan turut berbahagia (mudita) atas kebahagiaan yang diperoleh oleh orang lain.

Baca juga:  Mencontoh Marinus

Marilah kita tumbuhkan rasa suka cita yang sesungguhnya. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkannya. Kita ucapkan selamat ulang tahun kepada sahabat yang sedang merayakannya. Kita ucapkan selamat bahagia kepada sahabat yang merayakan keberuntungannya. Demikian pula kepada sahabat yang melangsungkan pernikahan, yang sedang mendapatkan karir dalam pekerjaan, dan lain sebagainya, kita ucapkan selamat berbahagia.

Teruslah belajar bersama untuk senantiasa menemukan dan mencari suka cita dalam diri dan selanjutnya turut berbahagia atas suka cita yang diperoleh oleh orang lain. Buddha Dhamma senantiasa menuntun kita selangkah demi selangkah untuk meraih kebahagiaan. Melalui batin yang hening dan damai kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dedikasikan kebahagiaan kepada semua makhluk dengan harapan “semoga semua makhluk tidak kehilangan kesejahteraan yang telah mereka peroleh” (sabbe satta ma laddhasampattito vigacchantu).

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi, Dirjen Bimas Buddha

Sumber: kemenag.go.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar