Ketua Jurusan Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Deni Miharja, tampil ke podium dengan begitu bersemangat. Ia menegaskan bahwa kongres FORMASAA yang kali ini diselenggarakan di kampusnya menekankan bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa-mahasiswi studi agama-agama, bisa merumuskan peranan yang signifikan bagi perkembangan dialog agama di Indonesia.

Di tangan kalian lah masa depan dialog antar umat beragama itu. Saat ini kelihatan sekali bahwa kita benar-benar membutuhkannya. Apalagi di tengah kondisi sekarang dimana perpecahan atas nama SARA dan berita bohong menyebar dengan cepat,” ungkap Deni dalam sambutannya.

Sambutan itu merupakan bagian yang membuka Kongres Forum Mahasiswa Studi Agama-agama (FORMASAA) yang digelar selama empat hari (16-19/4) dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung bertindak sebagai tuan rumah. Kongres ini dibuka dengan seminar yang meibatkan peserta kongres beserta sejumlah tamu undangan.

Dalam seminar yang bertajuk Peranan Generasi Muda dalam Menjalin Kerukunan Umat Beragama itu, disampaikan sejumlah unggahan ide yang patut dipertimbangkan untuk perkembangan dialog umat beragama, yang dapat diembankan pada mahasiswa Studi Agama-agama yang ada di sejumlah perguruan tinggi Islam Indonesia.

Sangat menarik saat perspektif perbandingan agama sudah bergerak lebih maju sehingga sekarang menjadi studi agama-agama,” ungkap Wawan Gunawan, sekretaris Lakpesdam NU Jawa Barat. Wawan mengungkapkan bahwa perubahan ini akan membuat studi agama lebih dinamis dan dilakukan dalam perspektif dialog serta lebih bersahabat.

Jadi jangan cuma namanya yang berganti, tapi harus menyeluruh. Program dan metode pembelajarannya pun harus terus-menerus disesuaikan dengan praktik dialog yang relevan,” lanjut Wawan.

Pdt. Mulyadi yang turut menjadi salah satu panelis dalam seminar juga mengungkapkan hal serupa. Baginya refleksi mendalam dalam perjumpaan dan dialog yang keseharian merupakan perspektif yang perlu lebih banyak dikembangkan. “Ini bukan sekedar menjejali dengan pengetahuan yang berjarak dari kenyataan, tapi menuntut kita untuk terlibat aktif dalam perjumpaan lalu merefelksikannya,” ungkap pendeta GKI Muara Karang yang juga dosen di STFT Jakarta itu. **arms

Komentar Anda

komentar