Jadi kalau gitu Buddha tuhannya siapa?
Apa Hindu bukan politeis?
Jadi kitab mana yang dipakai sebagai kitab suci pedoman?

Pertanyaan seperti itu sering muncul dalam dialog teologis yang melibatkan agama-agama – yang kalau boleh digolongkan sebagai agama – ‘non-Ibrahimik’. Pasalnya pakem khas Ibrahimik sering terlalu kaku dipakai. Lantas, diterakan sebagai lensa untuk melihat agama lain. Hal yang wajar saja jika terjadi di permulaan dialog. Namun, sangat disayangkan jika tidak diarahkan menuju kesalingpahaman, meski di tengah perbedaan konsep.

Harus diakui, dialog teologis antar agama, baik di Indonesia maupun dunia, kebanyakan diwacanakan oleh orang dari latar belakang Ibrahimik. Entah Kristiani, Islam atau tak jarang juga Yahudi, Druze dan Baha’i. Atau kadang kala juga di kalangan Sikh, Theosofi, dan banyak gerakan kesatuan yang lumayan banyak terpengaruh konsep Ibrahimik. Ini yang membuat asumsi, kerangka berpikir, persepsi dialog, bahkan pemaknaan peristilahan, kadang agak bias saat menyikapi tradisi non-Ibrahimik.

Meski Hindu dan Buddhisme sebenarnya sangat siginifikan dari segi jumlah penganut, tapi teori-teori dialog antar umat beragama yang menjadi pakem aktivis dialog, seringnya hanya mencomot beberapa ayat dalam pemaknaan tertentu dari agama-agama ini. Bahkan, tak jarang agama-agama Asia Selatan, Asia Timur atau agama Nusantara, disemati istilah yang terkadang peyoratif. Pembedaan agama langit (samawi) dan agama bumi (ardhi) misalnya, atau sikap yang merujuk agama-agama di kawasan tersebut sekedar sebagai ‘way of life’, yang kurang baku untuk jadi ‘agama formal’.

Ketakbisaan untuk memahami ini seringkali bersumber dari beberapa hal yang diasumsikan universal, padahal bisa jadi itu hanya dimaknai dalam tradisi keagamaan kita. Dalam kasus ini, agama-agama Ibrahimik sering mengira konsepnya universal, padahal agama-agama non-Ibrahimik memaknainya secara berbeda, tak jarang lebih luas, atau malah menggarap pertanyaan yang lain.

Dalam pengalaman dialog, setidaknya ada empat hal yang boleh kita istilahkan sebagai ‘jubah Ibrahimik’ yang ternyata berpotensi membiaskan pengenalan. Beberapa jubah tersebut antara lain:

Mengasumsikan Keberadaan Satu Tuhan Yang Personal
Monoteisme Ibrahimik seringkali menganggap universal asumsi bahwa hanya ada satu Sosok Tuhan yang Mutlak dan Personal. Kadang agak sulit menerima bahwa ada orang atau agama yang tidak berkomentar resmi soal ini, atau meragukan kemutlakan persepsi akan Tuhan, atau meyakini Sang Ada yang Impersonal, atau meyakini Tuhan Yang Esa itu menyatu dengan semesta, atau menampung semesta, atau meyakini bahwa Spirit Agung itu dapat termanifestasi dalam sejumlah banyak atribut-atribut yang juga bisa berwujud personal (dewa-dewi) sekaligus juga dalam Wujud yang tak bisa diatribusikan (Sanskrit: nirguna).

Bakunya Kitab Suci
Kebiasaan menganggap agama harus mempunyai satu kitab suci yang utuh dijadikan pegangan juga menjadi khas agama Ibrahimik (khususnya Islam dan Kristen). Ini tentu membuat mereka kesulitan memahami keluasan tradisi Vedantik atau Tripitaka. Bagaimana kadang satu mazhab masih dalam agama yang sama seolah mengajarkan hal yang amat berbeda. Bagaimana ajaran yang dilabelkan sebagai monoteis, non-teis, panteis, panenteis, pandeis, henoteis, monistik, dualis dan lain-lain bisa ada dalam payung satu agama. Atau bahkan bagaimana Agama bisa tetap lestari tanpa Kitab Suci baku (seperti di Agama Nusantara).

Sederhananya Kosmologi
Dwi-konsep langit-bumi atau surga-neraka khas Islam-Kristiani seringkali kesannya amat ‘sederhana’ saat diperhadapkan pada multi-dimensi alam semesta dalam kajian Hindu, Buddha, Jainisme atau agama Nusantara. Kadang kala kedua umat Ibrahimik ini sering kurang sabar untuk merinci secara detil kosmologi tersebut, lalu menyematnya sebagai hal yang ‘klenik’. Padahal sumbangsih kosmologi ini dalam kelestarian ekologi, misalnya, ternyata amat signifikan.

Pertanyaan-pertanyaan Kehidupan yang Dianggap Penting
Keselamatan kelak terkait surga dan neraka, bisa jadi merupakan isu penting dalam Islam dan Kristen. Namun bisa jadi pertanyaan soteriologis tersebut ternyata tidak selalu diajukan dan dijawab dengan cara yang sama di tradisi lain.

Bagi yang lain pembebasan spiritual (moksa), pencerahan (Buddhisme), atau harmoni dengan semesta, harmoni dengan sesama dan hukum moral (Konfusianisme) justru jadi hal yang terkait soteriologi. Sehingga ini mempengaruhi pemaknaan dan sikap terkait beberapa hal terkait pengertian dosa, amal-baik, ritual, dan banyak hal lain. Memaksakan konsep-konsep tadi harus dalam pertanyaan dan pemaknaan Ibrahimik tentunya tidak akan mengarah pada kesalingpahaman.

Pe-er sejenak ‘melepas jubah’ ini tentu tidak dimaksudkan agar penganut agama Ibrahimik jadi berkompromi terkait konsepsi agamanya. Namun merupakan satu kebutuhan praksis demi dialog yang lebih maju. **am

Komentar Anda

komentar