Ulama terkemuka Arab Saudi, Syekh Mohammad al-Issa, berpandangan bahwa memerangi antisemitisme adalah tugas keagamaan, demikian pendekatan ketua Liga Muslim Dunia yang mendapat penghargaan dari kelompok-kelompok Yahudi.

Baru-baru ini ulama terkemuka Arab Saudi, Mohammad al-Issa dianugerahi penghargaan oleh Combat Antisemistism Movement dan American Sephardi Federation, dalam sebuah upacara secara virtual yang merayakan para pemimpin muslim yang memerangi antisemitisme dan rasisme.

“Memerangi antisemitisme adalah kewajiban agama dan kewajiban moral,” kata Issa kepada AFP dari ibu kota Saudi, Riyadh.

Mantan menteri kehakiman Arab Saudi itu bersumpah bahwa Liga Muslim Dunia akan “terus melanjutkan upaya tersebut sampai tidak ada lagi antisemitisme dan rasisme.”

Organisasi ini didanai oleh negara petrodolar Arab Saudi dan dipandang sebagai perpanjangan tangan diplomatik kerajaan, serta instrumen Wahabisme, doktrin yang dipegang kelompok Sunni.

Konflik politik telah menyebabkan ketegangan antara Islam dan Yudaisme, ujar Issa seraya  menyerukan orang-orang untuk mengesampingkan perbedaan seperti itu.

“Pandangan politik berubah seiring waktu tetapi nilai-nilai kita, moral kita seharusnya tidak pernah berubah,” katanya.

Kunjungan ke Auschwitz
Ulama Saudi itu dipuji pada bulan Januari oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, karena berkunjung ke Polandia untuk ambil bagian dalam acara yang menandai 75 tahun pembebasan kamp Auschwitz.

“Ini adalah pertanda lain dari perubahan sikap badan-badan Islam dan, tentu saja, negara-negara Arab terhadap Holocaust dan orang-orang Yahudi,” kata Netanyahu pada saat itu.

Mengunjungi kamp Nazi di masa Perang Dunia II, di mana lebih dari satu juta orang yang terbunuh adalah kaum Yahudi, menandai titik balik bagi Issa. “Kami pergi ke Auschwitz untuk memberi tahu dunia bahwa kami menentang kejahatan ini dan agar hal itu tidak terulang lagi,” katanya.

Baca juga  Mencontoh Marinus

Israel tingkatkan hubungan di kawasan Teluk
Pemerintahan di Riyadh tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, tetapi keduanya memiliki musuh bersama, Iran.

Kedua negara itu menuduh pemerintahan di Teheran ingin memperluas pengaruhnya di Timur Tengah dan mengembangkan senjata nuklir.

Sementara Mesir dan Yordania memiliki hubungan dengan tetangganya Israel, negara-negara Arab lainnya menetapkan perjanjian damai dengan Palestina sebagai syarat normalisasi hubungan.

Namun pemerintah Netanyahu telah berupaya meningkatkan hubungan dengan negara-negara Teluk pada khususnya. Pejabat Israel yang muncul di acara-acara olahraga di Uni Emirat Arab.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat  Donald Trump berpendapat bahwa hubungan diplomatik lebih lanjut antara Israel dan negara-negara Arab akan meningkatkan prospek perdamaian dengan Palestina.

Sumber: dw

Bagikan

Komentar Anda

komentar