Senyum ceria ditampilkan oleh tiap relawan Jumat sore (17/5). Sembari membagikan takjil, mereka juga memberikan striker dengan pesan kerukunan. Kepada pengendara yang melintas di jam jelang buka puasa itu, mereka memberikan karya sederhana.

Karya itu kini hadir di hampir 30 titik di kota Bandung dan Cimahi. Antara lain di bundaran Cibiru, Bawah Jembatan Cikapayang, Jl. Kebonjati, Kopo, Jl. Setiabudi, Jl.Cibadak, Antapani, Arcamanik serta banyak tempat lain. Itu adalah cerita yang sejak tahun 2014 bagian dari hal yang mengisi Ramadan di Bandung.

Berbeda dengan kebanyakan kegiatan berbagi takjil yang dilakukan banyak komunitas, perusahaan atau lembaga lain, apa yang dikerjakan oleh FLADS dan berbagai elemen lintas agama di kota Bandung ini tidak sekedar momen karitatif. Ini bukan sekedar soal beberapa detik momen memberikan takjil. Bukan pula soal berapa banyak paket takjil yang disediakan.

“Yang disasar adalah kebersamaan tiap elemen masyarakat saat mempersiapkan acaranya. Orang-orang dari latar yang berbeda punya ruang perjumpaan, bahkan bekerja bersama, tanpa pamrih untuk mempersiapkan bagi takjil ini,” ungkap Kiagus Zaenal Mubarok ketua FLADS.

Bagi para relawan, kegiatan ini adalah cerita yang sepenuhnya berasal dari masyarakat. Mereka meyakini sesederhana membagikan takjil dan pesan damai pada yang sibuk berkendara, sesederhana kerja dan obrolan saat mempersiapkannya, solidaritas dan kesehatian antar warga bisa selalu dihadirkan dalam laku keseharian.

Hal tersebut diyakini oleh pendeta GKI Maulana Yusuf, Pdt. Wee Willyanto. Sebagai salah satu komunitas yang terlibat sejak kegiatan ini ada di 2014, ia meyakini karya dan kerjasama keseharian seperti ini cukup berdampak.

Karena aksi itu lebih berbicara daripada omongan. Kalau kita hanya bicara, banyak orang yang akan mempertanyakan, apalagi tidak disertai aksi nyata kepada suadara-saudara yang berbeda. Ini adalah bentuk aski nyata baik dalam mempersiapkan maupun saat membagikan takjilnya,” komentar Pdt. Wee.

Tahun ini panitia yang terdiri dari sekitar 30 lembaga dan komunitas ini mengangkat tema Sahate ti Urang Bandung (Bandung Sehati), dimana kesehatian umat berbagai agama dalam mempersiapkan acara ini diharapkan jadi inspirasi agar cerita damai ini terus berlanjut. **arms

Komentar Anda

komentar