Ahok mengatakan terpilihnya Sadiq Khan merupakan “cerita inspiratif demokrasi, prestasi dan toleran.” Gubernur Daerah Istimewa Jakarta ini mengucapkan dengan senang di akun twetternya. Ia menilai kemenangankan adalah wujud toleransi dalam demokrasi.

Ketika ia mengucapkan itu seakan menegaskan posisi demokrasi dalam sebuah negara. Dengan kemenangan Khan, Ahok menyiratkan pesan bahwa politik sektarian sudah tidak baik untuk meraih kekuasaan. Saqid Khan adalah fakta demokrasi non-sektarian, non-agama berlangsung secara baik.

Dengan kata lain, Sadiq Khan memberi pelajaran bagi dunia agar fokus pada persoalan kewargaan, bukan saja memikirkan sekte agama atau etnis.

Dari itu pula, mari kita telisik siapa Gubernur Muslim London itu? Ya, Sadiq Khan berhasil terpilih sebagai Wali Kota London setelah mengalahkan rivalnya, Zac Goldsmith dari Partai Konservatif dalam pemilu pada Sabtu (7/6). Namun, tak banyak yang mengenal sosok anak seorang sopir bus dari London Selatan ini hingga dia memenangi dukungan rakyat untuk menjadi pemimpin ibu kota Inggris.

Sadiq Khan (45) lahir dari keluarga keturunan Pakistan yang menetap di kota kecil, Tooting di London Selatan. Ayahnya merupakan sopir bus, sementara ibunya seorang penjahit. Bersama dengan tujuh saudara kandungnya, Khan dibesarkan di perumahan yang disubsidi pemerintah setempat, menurut laporan USA Today.

Khan memiliki semangat juang yang tinggi. Sejak awal, kemenangannya tidak mengejutkan karena ia mewakili Partai Buruh unggul jauh dalam jajak pendapat dari calon Partai Konservatif, Zac Goldsmith. Selisih 56.8% lawan 43.2% yang diraih Khan merupakan kemenangan yang telak.

Dalam dunia interbational, Khan tidak populer. Padahal, ia sudah lama bergelut dalam politik lokal London. Dalam rekam jejaknya, ia pernah menjadi anggota parlemen untuk daerah pemilihan Tooting di London pada 2005. Pada 2009-2010, Khan menjadi Menteri Perhubungan dalam pemerintahan Perdana Menteri Gordon Brown.

Oleh karena itu, ketika Khan terpilih menjadi walikota London, ia mengajari buah demokrasi yang bagus. Ia adalah seorang Muslim yang mayoritas warganya sekitar 90% warganya tidak beragama Islam. Dalam urusan, hal seksualitas dan moralitas lebih menyerupai pandangan masyarakat London pada umumnya, daripada para pemeluk Islam di negara-negara mayoritas Muslim.

Khan mendukung kesetaraan hak bagi kaum LGBT, termasuk perkawinan sejenis. Walau dia bukan peminum alkohol, Khan meluncurkan kampanyenya dalam pemilihan umum di sebuah pub yang terancam tutup. Di Inggris, pub mempunyai fungsi sosial sebagai tempat warga berkumpul dan bergaul.

Dengan kata lain, secara sosial dan politik Khan berada dalam arus besar kehidupan London yang kosmopolitan dan liberal. Karena itu tidak tepat apabila kemenangan Sadiq Khan diartikan sebagai awal masuknya nilai-nilai moral atau sosial Islam, seperti yang umum dipahami di dunia Islam, dalam politik Inggris.

Rekam jejak Khan sebagai politisi non-sektarian membuat kampanye hitam yang diajukan tim Goldsmith tidak mempan. Partai Konservatif berusaha menggambarkan Khan sebagai seorang ekstremis karena pernah tampil sepanggung dengan seorang aktivis yang dituduh sebagai pendukung ISIS bernama Sulaiman Ghani pada tahun 2004. Khan tidak membantah bahwa dia pernah berada di forum yang sama dengan Ghani, tetapi dia meluruskan bahwa ketika itu dia adalah seorang pengacara hak asasi manusia yang tampil dalam acara tersebut bersama belasan aktivis lainnya.

Partai Konservatif juga berusaha memainkan kartu agama dengan mengirim pamflet kepada para pemilih beragama Hindu atau Sikh yang memberi kesan bahwa Khan adalah seorang Muslim yang tidak bersahabat terhadap komunitas mereka. Kampanye sektarian ini justru menjadi bumerang bagi banyak pemilih yang anti-sektarian, dan bahkan membuat risih sebagian aktivis Partai Konservatif sendiri.

Rekam jejak Khan juga mematahkan pandangan bahwa kemenangannya membuktikan bahwa London secara perlahan berubah menjadi Londonistan, sebuah sebutan pejoratif yang menggambarkan bahwa London akan menjadi sarang gerakan Muslim radikal.  Banyak pengamat konservatif Barat yang menyuarakan kecemasan bahwa imigrasi masal warga Muslim dari Turki, Afrika Utara, dan Asia Selatan akan melunturkan identitas Judeo-Kristiani dan mengancam sekularisme di benua Eropa.

Kemenangan Khan menunjukkan London sudah melangkah jauh dibanding tahun 1970an ketika warga kulit hitam dan coklat menjadi sasaran umpatan rasis secara terang-terangan.  Sebagai perbandingan, Zac Goldsmith adalah anak seorang jutawan bernama Sir James Goldsmith, sedangkan istrinya Alice adalah anggota keluarga Rothschild yang kaya raya.

Sukses Khan juga menunjukkan bahwa London buta status sosial. Dia akan menggantikan Boris Johnson, seorang politisi Partai Konservatif lulusan Eton College dan Universitas Oxford, dua institusi yang melambangkan privilese di Inggris.

Johnson berpeluang besar menjadi perdana menteri apabila dalam referendum bulan depan Inggris memutuskan untuk keluar dari Eropa. Johnson sendiri menggantikan ‘Red Ken’ Livingstone (2000-2008), seorang politisi kiri yang bulan lalu diskors dari Partai Buruh karena komentarnya yang dianggap anti-Yahudi.

Penduduk London akan merangkul pemimpin dari segala macam latar belakang pribadi, asalkan dia menerima nilai-nilai sosial yang mereka pegang. Nilai-nilai sosial yang liberal, sekuler dan tidak diskriminatif. (Disarikan Dari Berbagai Sumber).

Komentar Anda

komentar