“Ibu Ayu, kerusuhan su dekat. Hati-hati sama orang Kristen!”
“Loh, Ambon itu sudah aman. Lagi pula itu jauh toh? Kita di Halmahera.”
“Kerusuhannya su naik pesawat, Ibu,”

Dialog unik dengan anak-anak kecil itu dialami Ayu Kartika Dewi saat ia menjadi penggajar di wilayah Halmahera Selatan sektiar tahun 2010-an. Dampak kerusuhan Ambon dahulu memang membuat sejumlah kecil daerah di Maluku dan Maluku Selatan menjadi tersekat dan sensitif. Sering ada ketakutan dan prasangka yang berhembus, padahal tanpa bukti. Mirisnya, anak-anak yang pemahamannya masih minim ternyata bisa tergerus kecurigaan dan kebencian yang mencengangkan seperti itu.

Ayu mulai berpikir untuk lebih banyak mempertemukan anak-anak sedari muda agar mereka lebih terbuka wawasan dan toleransinya. Ia pun berinteraksi dengan banyak temannya yang pernah menjalani pertukaran pelajar. Dari situlah tercetus ide untuk menyelenggarakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia.

Semangat kebhinekaan yang dilakukan melalui pendidikan itu akhirnya mewujud dalam program Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali, disingkat dengan akronim hebat SabangMerauke. Lewat program ini Ayu bersama rekan-rekannya mengajarkan makna toleransi dan kebhinekaan kepada anak-anak. Program yang dirintis sejak 28 Oktober 2012 itu sudah dilaksanakan lima kali sampai tahun ini.

Anak-anak yang ikut itu usia SMP, kita sebut sebagai Adik SabangMerauke. Mereka berasal dari berbagai daerah. Selama liburan sekolah, sekitar tiga minggu, mereka diundang ke Jakarta. Dalam proses pertukaran ini berinteraksi secara positif. Mereka saling bertukar tempat tinggal dengan keluarga beda agama dan ras, kita sebut Famili SabangMerauke. Ada anak dari agama Islam lalu tinggal di keluarga kristen keturunan Tionghoa. Agar saat mereka kembali ke daerahnya masing-masing bisa menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi,” papar Ayu.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga dan pascasarjana Duke University, Amerika Serikat ini menceritakan bahwa mulanya agak sulit memulai dan meyakinkan orang untuk terlibat.

Memang di awal-awal terasa sekali anak-anak mungkin merasa takut karena mereka akan tinggal di keluarga yang berbeda. Namun akhirnya mereka paham bahwa berbeda keluarga bukan orang jahat kok, mereka beragam orang Indonesia juga,” jelasnya.

Fauzan, salah seorang peserta kegiatan tersebut merasa begitu senang karena telah berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang, ada umat Kristen, Hindu dan Buddha. Ia berharap saat kembali ke desanya di Maluku Selatan, ia bisa membagikan pengalaman itu.

Senada dengan itu, Hanni salah seorang ibu yang menjadi Famili Sabang Merauke menceritakan pengalamannya saat menampung Yohanna, peserta beragama Kristen dari Banyuasin, Sumatera Selatan.

Waktu itu bulan puasa, dan ada dua kali hari Minggu. Saya yang berkerudung ini mengantar Yohana ke gereja. Itu pengalaman unik yang belum pernah saya alami,” kisah Hanni. “Melihat interaksi Yohana dengan anak-anak saya, saat cerita dan mendorong agar masing-masing giat ibadahnya, itu benar-benar sulit diungkapkan keindahannya.

Keindahan seperti ini diharapkan dapat terus ditularkan semangatnya pada sebanyak mungkin orang. Juga sebisa mungkin telah dialami oleh anak-anak sejak usia dini.

“Anak-anak harus punya pemahaman dan pengalaman yang positif  tentang perbedaan agama suku dan budaya, menghargai dan toleransi melalui pendidikan karakter,” tutup Ayu

Sumber berita: Jawa Pos dan Dokumentasi Program Mata Najwa.

Komentar Anda

komentar