Ada cukup banyak pura di Banyuwangi yang sering didatangi umat Hindu Bali, antara lain Pura Luhur Giri Saloka di Alas Purwo dan Pura Agung Blambangan di Muncar. Jumlah umat Hindu Bali yang datang ke pura-pura yang ada di Banyuwangi ini bisa mencapai ratusan orang. Apalagi jika menghitung kunjungan yang dilakukan saat hari raya, seperti saat Pagerwesi atau Kuningan.

Melihat kebutuhan itu, Yayasan Sad Jaya Abadi mendirikan rumah toleransi di Desa Sembulung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Rumah toleransi itu dibangun untuk tempat singgah umat Hindu dari Bali yang akan beribadah di beberapa pura yang ada di Banyuwangi.

Umat Hindu Bali bisa tinggal di rumah toleransi secara gratis karena banyak saudara-saudara dari Bali yang melakukan perjalanan ke tanah leluhurnya di Jawa, salah satunya Banyuwangi. Jadi, mereka bisa beristirahat dan menginap di sini secara gratis,” kata Ketua Pengurus Rumah Toleransi, Sodi pada Sabtu (25/2).

Saat ini, rumah dengan desain yang berciri arsitektur Jawa  itu memiliki kapasitas 300 orang dengan halaman yang cukup luas untuk parkir kendaraan serta dilengkapi kamar mandi dan pendopo yang cukup memadai. Menurut rencana, rumah toleransi ini juga dimaksudkan agar digunakan untuk kegiatan bersama antarumat beragama yang sifatnya memperkuat tolerensi.

Rumah toleransi diharapkan dapat menjadi wadah dan memfasilitasi terjadinya hubungan yang harmonis dengan ketiga penyebab kebahagiaan yaitu Tuhan, alam, dan manusia,” tambah Sodi.

Rumah toleransi tersebut dibangun secara swadaya dari dana yang disumbangkan sejumlah donatur, mulai dari yang jumlahnya kecil seperti kebanyakan umat. Selain pendopo, terdapat rumah tinggal, asrama putra putri, dan lahan pengelolaan sampah pembuatan kompos, yang juga dimaksudkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Sodi juga menjelaskan sejak peresmiannya rumah toleransi ini pun telah digunakan untuk sejumlah kegiatan masyarakat. Termasuk dialog lintas iman.

“Tadi malam kami juga menggelar pengajian untuk meresmikan rumah toleransi. Acaranya dihadiri Gus Nuril dan masyarakat sekitar, kebanyakan merupakan umat Muslim. Sementara panitianya dari masyarakat yang beragama Hindu,” jelas Sodi bangga.

Sumber: kompas.com

Komentar Anda

komentar