Ada hal yang patut digarisbawahi dari penelitian Balai Litbang Agama (BLA) Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2018. Perhatian itu tertuju pada toleransi antar kelompok agama dalam komunitas heterogen di Jawa Barat.

Penelitian itu berusaha mengkaji berbagai wilayah di Jawa Barat dengan komposisi penduduk yang heterogen namun mampu merawat kerukunan. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kelurahan Karangmekar di Cimahi, Kelurahan Cigugur di Kuningan, Desa Pabuaran Gunung Sindur di Kabupaten Bogor, Desa Kertajaya di Kabupaten Bekasi, Kampung Sawah di Kota Bekasi dan Kampung Panggulan di Kota Depok.

Hasil penelitian mendapati bahwa kerukunan yang terjaga di sebagian besar wilayah penelitian merupakan akibat dari ikatan kekerabatan hasil dari proses perkawinan antar warga yang sudah terjadi sejak lama. Ikatan kekerabatan sebagai hasil dari proses perkawinan yang sudah berlangsung lama ini kemudian memunculkan berbagai kearifan lokal yang menyatukan setiap warga sebagai sebuah keluarga.

Kerukunan yang terjaga ditopang oleh ikatan kewargaan yang bersifat keseharian (quotidian) seperti gotong-royong, menjaga keamanan wilayah secara bergantian, saling membantu dalam upacara siklus kehidupan, saling kunjung pada hari raya keagamaan, dan perayaan hari besar nasional.

Di sebagian besar wilayah penelitian belum banyak terbentuk perkumpulan-perkumpulan asosiatif, yakni perkumpulan yang mampu menjembatani (bridging) berbagai elemen warga yang berbeda latar belakang agama, suku, etnis. Sebagian besar upaya kerukunan adalah kerja keseharian masyarakat.

Juga terlihat peran pemerintah dalam memelihara kerukunan umat beragama di sebagian wilayah penelitian, memang masih sangat minim serta lebih bersifat seremonial dan formalistik. Minimnya peran pemerintah ditandai dengan absennya berbagai program atau kegiatan yang secara sengaja ditujukan untuk memperkokoh hubungan antaragama, baik di kalangan tokoh maupun warga.

Kerukunan antarumat beragama yang terjaga di berbagai lokasi penelitian menunjukkan kondisi kerukunan yang terjadi secara alamiah dan sudah berlangsung lama. Mereka merasa bahwa selama keyakinan agama mereka tidak diganggu dan setiap umat beragama menjalankan ajaran agamanya masing-masing sesuai keyakinan yang dianut maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi alamiah ini membuat warga di berbagai lokasi penelitian merasa bahwa tidak perlu ada lagi usaha yang patut dilakukan untuk meningkatkan kerukunan.

Meski demikian, berdasarkan temuan-temuan tersebut, maka penelitian ini juga merekomendasikan beberapa hal. Pemerintah membantu memfasilitasi warga untuk membuat wadah aktivitas warga yang terdiri dari berbagai elemen warga dari berbagai agama hingga tingkat desa/kelurahan.

Berikutnya, meningkatkan upaya pemerintah dalam menyosialisasikan berbagai peraturan mengenai kerukunan umat beragama, terutama tentang pendirian rumah ibadah dan kelompok keagamaan bermasalah. Hal ini sebagai upaya menginternalisasi aturanaturan mengenai kerukunankepada khalayak yang lebih luas.

Kerukunan yang terjaga di banyak lokasi penelitian merupakan hasil dari proses panjang yang turun-temurun. Hal ini telah menghasilkan juga berbagai kearifan dan memori kolektif warga mengenai kerukunan di tempat di mana mereka tinggal.

Karenanya, konservasi nilai-nilai dan kearifan lokal mengenai kerukunan dari setiap wilayah penelitian perlu dilakukan. Upaya konservasi ini dapat berbentuk penulisan sejarah dan berbagai kegiatan literasi merawat memori kolektif warga mengenai kerukunan.

Sumber: Kemenag RI

Komentar Anda

komentar