Sumber Foto: paramadina-pusad.or.id

Beta Pattimura
Nyali seribu membela seribu pulau
Dorang gantung beta punya badan
Tidak bisa gantung beta punya jiwa
Beta Pattimura
Beta tinggal di rongga sejarah
Dada laki-laki dan perempuan
Sebab beta punya moyang dari surga

Penggalan puisi di atas adalah karya Rudi Fofid. Seorang  pejuang kemanusiaan yang jarang terendus media. Tahun 2016 lalu, beliau mendapat penghargaan dari salah satu institut karena karya-karya besarnya bagi Maluku.  Ia tak hanya terlahir sebagai seorang seniman yang berbakat, ia juga aktif memperjuangkan perdamaian dan menerobos sekat keagamaan. Langkahnya konsisten untuk menyuarakan jurnalisme yang damai dan jauh dari hasut menghasut.

Sejak kecil, seniman kelahiran 17 Agustus 1964 yang akrab dipanggil Opa ini telah bermimpi untuk menjadi wartawan. Opa berjuang untuk mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Opa tekun membaca karya orang besar dan berlatih untuk mulai menulis karyanya sendiri. Ayahnya pun mendukung dengan memberikan santapan tulisan yang baik untuk memotivasi Opa. Bagi Opa, ayah adalah guru menulis pertama di hidupnya.

Sewaktu mengenyam pendidikan menengah, Opa tak sekalipun membelanjakan uang sakunya. Opa mengumpulkan uang untuk membeli prangko dan mengirimkan tulisannya ke Jakarta. Dulu sekali, jarak tentu saja menjadi persoalan. Namun, Opa berjuang untuk terus bisa mengirimkan karyanya. Semua ini menjadi bukti bahwa Opa begitu mencintai dunia sastra.

Setelah lulus dari SMA Xaverius, Opa melanjutkan studinya di Universitas Pattimura fakultas pertanian. Masa kuliah digunakannya untuk aktif berorganisasi di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) tahun 1983. Sekalipun dipenuhi kegiatan organisasi yang padat, tak sekalipun Opa meninggalkan dunia menulis.

Pada tahun 1993, Opa bersama 15 temannya menginisiasi berdirinya media suara Maluku. Berkat loyalitasnya, Opa diangkat menjadi redaktur. Selama berkarir menjadi penulis, Opa selalu menekankan penerusnya untuk menghormati kode etik wartawan. Dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik, Opa selalu menyampaikan untuk menulis dengan santun dan tidak menghasut pembaca, menurut Opa hanya dengan cara ini seseorang bisa menjadi jurnalis yang profesional.

Kini, Opa masih aktif berkontribusi untuk Maluku. Membantu para pemuda untuk mengasah bakat dan berkarya di bidang seni. Semua karyanya sangat berguna untuk mendukung perdamaian di Maluku. Kisah hidup Opa memang tak selalu mulus, tantangan dan rasa lelah datang bergantian. Namun, semua itu dijalaninya dengan rasa syukur. Opa sepanjang hidupnya menulis dengan cinta untuk perdamaian di bumi Indonesia. **yst

Komentar Anda

komentar