Sosoknya jarang tertangkap kamera, beliau bukan artis media sosial atau tokoh politik yang sering muncul di televisi. Tapi warga yang mengenalnya begitu menaruh hormat padanya. Beliau adalah Charles Patrick atau sering disapa Romo Carolus, seorang pastor Paroki St. Stephanus di Cilacap. Sekali melihatnya pasti paham bahwa beliau bukanlah berasal dari Indonesia. Beliau keturunan Irlandia yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sejak 33 tahun yang lalu.

Beliau pertama kali sampai di Indonesia pada tahun 1973 dan menginjakkan kaki di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Misinya saat itu adalah mengabdi dan membantu masyarakat miskin di Kampung Laut, Pulau Nusakambangan. Mengapa Kampung Laut? Karena saat itu Kampung Laut menjadi tempat pengasingan bagi simpatisan partai yang ‘dilarang’ dan seperti tak tersentuh.

Bukannya hanya iba beliau malah jatuh cinta pada Kampung Laut. Kecintaanya itu membawanya kepada misi lintas iman untuk mulai bergerak membantu kehidupan masyarakat. Awalnya beliau membangun jalan dan jembatan bertahap. Sekalipun akses untuk masuk ke Kampung Laut susah, niatnya tak pernah surut.

Sepuluh tahun menetap di Cilacap akhirnya beliau resmi bertukar kewarganegaraan dan mengembangkan sayap misi lintas iman yang digagasnya. Beliau mendirikan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) yang dengan tujuan awal memperlancar dan mengatur proses pembangunan jalan.

Setelah pembangunan jalan selesai beliau mengajak masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan dengan cara memberdayakan diri menggunakan potensi sekitar. Seperti belajar membuat ikan asin dan menanami lahan dengan tumbuhan yang bisa menambah pendapatan.

“Setiap orang memiliki kemampuan untuk maju tanpa harus menunggu bantuan orang lain asalkan mau menggunakan tiap kesempatan dan berusaha,” demikian pesan kasih yang selalu ditanamkannya dibenak masyarakat.

Romo Carolus tak sendiri, pemerintah setempat mendukung setiap programnya. Berkat kerja kerasnya, yayasan yang didirikannya berhasil membangun 25 sekolah dari tingkatan taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di Cilacap dan sekitarnya. Bahkan ada juga sekolah untuk anak berkebutuhan khusus.

Menurutnya, pendidikan menjadi kunci untuk perubahan termasuk pengentasan kemiskinan. Tak hanya itu, beliau melalui yayasannya juga memiliki program di bidang kesehatan untuk membantu masyarakat.

Romo Carolus dikenal jauh dari teknologi, bahkan dia tidak menggunakan gadget untuk mendukung kesehariannya. Mungkin, ini yang menjadi alasan mengapa Romo ini jarang tersentuh media. Beliau hanya fokus pada misi yang dibawanya sejak awal. Melayani lintas iman, dengan dasar nilai-nilai keagamaan universal.

Di tahun 2012, Romo Carolus mendapat penghargaan Maarif Award yaitu satu lembaga yang aktif mendorong, memperkuat dan memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga nilai-nilai demokrasi, HAM, kebhinekaan serta kemanusiaan. Beliau terpilih menjadi tokoh yang aktif merawat dan memperjuangkan kemanusiaan berbasis nilai-nilai keagamaan universal.

Selain pembangunan jalan, jembatan, program pengembangan usaha, pendidikan dan kesehatan beliau juga menjalankan program kemanusiaan lain seperti aksi tanggap darurat bencana, pelestarian lingkungan hidup, sampai melakukan pendampingan bagi terpidana mati di Nusakambangan. Semua itu dilakukannya tanpa memandang latar belakang agama.

Cerita kehidupan pria kelahiran 8 April 1943 ini juga telah dibukukan dengan judul,  “Mafia Irlandia di Kampung Laut,  Jejak-jejak Kemanusiaan Romo Carolus OMI Memperjuangkan Kemanusiaan” yang ditulis oleh Anastasia Anjar dan tim.

Usia Romo Carolus memang tak muda lagi, tapi semangatnya tak pernah menua. Beliau selalu merawat dan memperjuangkan kemanusiaan tanpa dibatasi sekat-sekat agama. Semoga apa yang telah beliau perbuat untuk negeri ini, mampu kita teladani dengan merawat dan memelihara kemanusiaan lintas iman. **yst

Sumber
http://maarifinstitute.org/id/maarif-award/penerima-maarif-award/7/penerima-maarif-award-2012—romo-carolus
http://www.benarnews.org/indonesian/berita/romo-carolus-08122016162503.html

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Baca juga  Banyu Urip di Tangan Cicilia Yulianti