Seni budaya adalah rahmat yang mengagumkan! Sebab seni budaya itu mempersatukan, persatuan yang menghadirkan keindahan dan kegembiraan,” ungkap Romo Aloys Budi Purnomo, Pr. Romo yang menjabat sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang itu lantas memaikan saxophone-nya membawakan lagu populer Kristiani, Amazing Grace.

Momen itu muncul dalam seminar nasional bertajuk “Menjaga Harmoni, Merawat NKRI Melalui Seni Budaya Dari Jakarta Menuju Ambon,” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Rabu (8/8).

Selain Romo Budi, seminar yang dipandu Prita Laura ini juga menghadirkan Kepala BNN Komjen Pol. Heru Winarko, perwakilan Staf Kepresidenan Theofransus Litaay, penyanyi Lisa A. Riyanto dan musikus Brian Prasetyoadi. Sekitar 200-an peserta menghadiri seminar tersebut.

Menurut Romo Budi, Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci dalam setiap agama dan kebudayaan. Inilah landasan teologis dirinya dalam membangun gerakan seni budaya dalam berbagai ekspresinya (lukis, musik, tari dan nyanyian) yang selama ini dilakukannya dalam rangka srawung dan membangun persaudaraan sejati yang rukun dan bersatu dalam sikap saling hormat dalam keberagaman.

Melalui jalur seni dan budaya, saya mempromosikan terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermatabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya,” katanya. “Bagi saya seni budaya adalah jalan strategis pemersatu keberagaman dengan semangat saling memperkaya dan menopang, bukan menghancurkan dan menghambat. Maka, seni dan budaya itu pemersatu umat manusia, pemersatu bangsa, pemersatu NKRI,” tandas Romo Budi.

Bagi Pastur Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang ini, seni dan budaya sebagai pemersatu umat bukan teori dan berhenti pada ruang diskusi, melainkan nyata dalam berbagai gerakan dalam keberagaman. Romo Budi lantas mencontohkan apa yang ia kerjakan dengan sejumlah kalangan untuk menjalin persatuan lewat seni dan budaya.

Sejak sepuluh tahun belakangan, ia bekerjasama dengan berbagai komunitas lintas agama untuk sejumlah performa keberagaman di panggung-panggung populer. Yang terbaru sejak Maret hingga Oktober 2018 nanti, seni budaya juga menjadi sarana untuk peristiwa Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama se-Keuskupan Agung Semarang.

Orang muda menggunakan seni dan budaya sebagai sarana pemersatu NKRI di tingkat akar rumput. Jadi benarlah bahwa bukan politik praktis yang mempersatukan NKRI, melainkan seni dan budaya. Itulah pemersatu bangsa,” pungkas Romo Budi.

Sumber: beritasatu.com

Komentar Anda

komentar