Hari itu Robertus Suryatno sebenarnya punya beberapa agenda. Setelah mengantar putri kesayangannya mengurus surat izin mengemudi, orang yang kerap disapa Pak Robert itu pun meladeni wawancara. Selepas wawancara, rencananya ia punya beberapa agenda lagi mengisi libur di hari Sabtu (22/7). Tampak sekali Robert punya sekian banyak peran yang selalu ia coba seimbangkan.

Nggak salah nih, pilih saya jadi pengisi rubrik sosok?” Tanya Robert agak kikuk namun memasang mimik serius. Ia mengaku lebih senang mengambil posisi sebagai orang yang tidak terlalu disorot. Ia lebih memilih memfasilitasi, mempertemukan orang, lalu giat mendukung.

Persis seperti yang selama ini dikerjakannya baik di pekerjaan, forum-forum lintas agama maupun kegiatan internal gereja. Dalam Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) misalnya, pria berusia 53 tahun itu dikenal sebagai orang yang rajin menghadiri rapat, memberikan usulan strategis serta tidak kenal lelah untuk mendukung setiap kegiatan.

Berbeda dengan aktivis lintas iman lain, yang kebanyakan sudah menggeluti kegiatan bertema toleransi sejak usia muda, Robert justru lebih banyak terlibat dalam aktivitas ini selepas ia berkeluarga. Ia secara formal aktif di kegiatan lintas iman sejak 2003. Robert mengaku melihat kebutuhan dan panggilan ke arah hal ini justru lewat perjalanan spiritualitas yang ditekuninya.

Saya bukannya nggak suka pelayanan yang sifatnya altar, atau dekat dengan ritual ibadah. Saya juga terlibat disana. Pernah mengurus bidang pewartaan di gereja. Juga aktif dalam Legio Maria,” papar ayah tiga anak ini.

Keaktifan Robert dalam kelompok kerasulan awam terbesar di dunia itu membuatnya melihat satu kebutuhan. Saat bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan melakukan kegiatan membantu dengan tujuan edukatif, Robert melihat ada hal yang harus diisi. Ada yang mesti berperan sebagai penghubung, untuk mempertemukan orang dan membuat mereka bekerjasama.

Apalagi waktu itu saya ingat sekali pesan Monsinyur Joyo (Mgr. Alexander Soetandio Djajasiswaja, Uskup Bandung 1984-2006 –red), agar gereja berkarya dari ‘altar ke pasar’,” kenang Robert. Ia memaknai pesan itu sebagai satu siklus. Altar (keimanan, ibadah dan spiritualitas) yang menginspirasi seseorang untuk berkarya di pasar, sekaligus apa yang dialami di pasar itu kemudian digumulkan kembali dalam altar. Ini yang membuat ibadah itu menjadi kesatuan yang utuh dengan kehidupan.

Maka Robert pun dengan sederhana mengambil peran menjadi jembatan tadi. Ia mengaku mengalami suka cita tersendiri saat menjadi fasilitator untuk banyak ruang temu tersebut.  “Saat para kyai bisa bertemu dengan para romo, lalu bisa berlanjut dalam relasi yang kontinu. Saya merasa ada manfaat yang bisa saya berikan,” ujar Robert sambil menyebut beberapa momen perjumpaan lintas agama dengan banyak orang.

Baginya kehadiran, lewat saling bertemu, berbincang santai, dan berelasi bukanlah hal yang basa-basi. Apalagi dalam kondisi yang kini terjadi di bangsa Indonesia, dimana justru banyak yang mencoba memecah-belah sementara keguyuban makin kurang terasa di masyarakat. Robert meyakini perlu sekali semakin banyak orang yang mengemban peran ini.

Apa yang dicari lewat semua ini? Pertanyaan itu sering muncul, dari orang dekat dan rekan segerejanya. Namun Robert meyakini, justru inilah yang diamanatkan dalam ajaran Gereja Katolik. Semenjak konsili Vatikan II, lalu dibumikan dalam tiap keputusan gerejawi.

Memang masih belum semua umat menyadari, tapi dalam perkembangannya, saya kira gereja semakin banyak berbenah. Sekarang ini sudah semakin terbuka ke arah karya lintas iman. Di Bandung secara khusus dalam keputusan sinode ada dua kebijakan yang tegas menyebut tema lintas iman,” paparnya.

Di tengah sekian banyak peran yang saat ini diemban, sebagai seorang ayah, sebagai seorang karyawan di satu perusahaan BUMN sekaligus menjadi pengurus Koperasi dan Serikat Pekerja-nya, sebagai seorang aktivis lintas iman juga orang yang mengerjakan pelayanan di gereja, Robert mengaku bisa dengan nyaman menjalani semuanya. Dukungan keluargalah yang membuatnya tetap ikhlas menjalani semua amanah ini.

Dulunya sih sempat agak kerepotan. Tapi sekarang bisa dijalani ikhlas. Makanya saya jadi gemuk,” canda Robert. Robert tidak menganggap semua amanah itu sebagai tekanan. Bahkan ia tidak menganggapnya sebagai tugas organisasional semata.

Ya buat saya nggak ada jembatan yang pensiun. Kan nggak mungkin saya udah kenal dengan kawan-kawan lintas iman, terus karena sudah tidak di kepengurusan komisi, langsung jadi gak kenal,” simpulnya dengan nada memotivasi. **arms

Komentar Anda

komentar