Senin lalu (2/10) dunia memperingati apa yang dikenal sebagai Hari Tanpa Kekerasan Internasional (International Day of Non-Violence). Peringatan tersebut ditetapkan tahun 2007 oleh PBB atas usulan peraih Nobel Perdamaian asal Iran, Shirin Ebadi yang disetujui mayoritas anggota Majelis Umum PBB. Usulan tanggal 2 Oktober itu sendiri mengacu pada kelahiran tokoh perdamaian dan pejuang kemerdekaan India, Mohandas Karamchand Gandhi, atau yang lebih dikenal dengan nama Mahatma Gandhi.

Jauh sebelum itu warga India telah mengenang kelahiran Gandhi lewat festival yang dikenal dengan sebutan Gandhi Jayanti, yang merupakan salah satu dari empat hari libur nasional di India.

Mengapa perjuangan Gandhi begitu dikenal oleh seluruh umat dunia dan amat dibanggakan oleh penduduk India? Cukup banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Namun apa yang ditunjukkan Gandhi lewat religiusitas yang diajarkannya dan perjuangan yang ditampilkannya kiranya bisa menjadi dua alasan yang bisa direfleksikan bersama.

Gandhi sangat menyadari kesederhanaan adalah inti dari kehidupan. Tidak ada yang istimewa dalam masa kecil, bahkan hingga ia dikenal sebagai tokoh besar. Ia mengaku tak pernah mengharapkan gelar mahatma (sang jiwa besar) yang disematkan rakyat India atasnya.

Kesederhanaan ini pula yang mendasari konsep religiusitas Gandhi akan Tuhan. Baginya Tuhan tiada lain adalah Kebenaran. Kebenaran itu menjejak dalam suara hati nurani. Tuhan hanya menjumpai manusia rendah hati. “Bila Anda ingin berenang di samudera kebenaran…,” tulis Gandhi dalam biografinya, “Anda harus mengosongkan diri sampai titik nol.

Maka dalam pandangan Gandhi agama adalah cara dan sarana menuju Kebenaran. “Hakikat agama adalah moralitas,” akunya. “Peran agama menciptakan damai. Ritual menyiraminya dengan benih kasih dengan hujan pengampunan sehingga agama menjadi wadah agar umat untuk memainkan melodi harmoni cinta. Sesungguhnya tiada agama yang lebih tinggi selain kebenaran dan keadilan.

Menurut Gandhi bila agama kehilangan inti kebenaran dan cinta-kasih, maka saat itu juga agama menjadi invalid. Pelaku kekerasan dan ketidakadilan atas nama agama pada dasarnya adalah orang yang lemah dan tak mampu mengemban ajaran agama.

Mehamami konsep beragama yang seperti ini tentu memudahkan kita untuk melihat warisan Gandhi yang kedua yaitu perjuangan politik dan kemanusiaannya yang begitu damai namun sekaligus amat kuat. Konsep ahimsa (tanpa kekerasan) yang terwujud dalam satyagraha (perlawanan damai yang konsiten) adalah hal yang tak mungkin dicapai tanpa penghayatan keagamaan yang gigih menemukan kebenaran dan amat menghargai kemanusiaan.

Di sisi inilah perjuangan politik dengan didasari semangat religius menjadi begitu bermakna. Bukan seperti kebanyakan politik yang memperalat agama, yang belakangan kerap malah menghilangkan kemanusiaan. Gandhi telah mencontohkan bagaimana agama telah menuntun tindakan berpolitis menjadi tindakan yang begitu etis. Agama tidak diperalat oleh praktik politik yang munafik dan menginjak manusia.

Namun, tidak pula membenarkan semangat beragama individual yang apolitis. Gandhi dengan tegas menyatakan, setiap orang yang melarang agama terjun ke politik, sesungguhnya tidak mengerti agama. Politik bagi Gandhi adalah ladang perjuangan dalam mewujudkan impian religiusnya tentang kemanusiaan.

Dua warisan ini tentu patut untuk terus direnung-amalkan sembari kita memperingati, Hari Tanpa Kekerasan Internasional tahun ini, yang juga adalah ulang tahun Gandhi yang ke-148. **arms

Sumber foto: hindustantimes.com

Komentar Anda

komentar