Anggota Dewan Tertinggi Majma’ Fiqh Sunni Irak, Shaikh Dr. Abdul Sattar Abdul Jabbar terang-terangan mengakui untuk urusan kerukunan antar beragama, Irak kalah dari Indonesia. Apresiasi ini disampaikan Abdul Sattar saat menerima Delegasi Indonesia yang akan mengikuti Konferensi Internasional tentang Moderasi dan Islam Wasathiyah, pada Selasa (26/6) di Baghdad, Irak.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mukhlis Hanafi yang mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan KH. Muhyiddin Junaidi dari MUI.

Kami mengakui bahwa Indonesia lebih maju dari kami dalam mengelola kehidupan umat beragama. Indonesia mampu menyatukan berbagai perbedaan agama, baik Islam, Hindhu, Buddha, Kristen dan lainnya. Kami sangat senang Indonesia bisa hadir dalam Konferensi Internasional tentang Islam Wasathiyah ini,” kata Abdul Sattar.

Khusus untuk internal Islam, menurut Abdul Sattar, seharusnya Islam bisa bersatu, khususnya menghadapi berbagai perbedaan internal. Perbedaan itu baik yang terkait Sunni dan Syiah, maupun perbedaan lainnya.

Islam seharusnya bisa mengelola segala perbedaan, menyatukan berbagai mazhab, aliran, seperti Sunni, Syiah dan lainnya di seluruh dunia. Tentu, semua itu bisa dilakukan dengan penerapan Islam wasathiyah yang mengedepankan al-i’tidal (keseimbangan) dan tasamuh (toleransi),” ujar Abdul Sattar.

KH Muhyiddin Junaidi memakai kesempatan itu untuk menjelaskan kehidupan umat beragama di Indonesia. Junaidi memulai dari kondisi Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, paham dan aliran. Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, lebih dari 215 juta. Umat Islam Indonesia dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lainnya.

Kami di Indonesia terdiri dari ragam agama, berbagai paham dan aliran, serta 79 Ormas Keagamaan. Kami yang mayoritas muslim bisa hidup berdampingan, bertoleransi terhadap beragam perbedaan,” tutur Junaidi. “Kami tetap ada perbedaan seperti aliran pemikiran keagamaan, mazhab fiqih, maupun cara berdakwah. Namun mayoritas mengikuti mazhab Syafii,” lanjutnya.

Mukhlis Hanafi menambahkan tentang banyaknya madrasah, pesantren, dan sekolah agama di Indonesia. Menurut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran ini, jumlahnya mencapai puluhan ribu, baik negeri maupun swasta. Keberadaan lembaga pendidikan agama dan keagamaan tersebut sangat membantu dalam penerapan moderasi Islam.

Konferensi Islam Wasathiyah akan berlangsung dua hari, 26 – 27 Juni 2018. Konferensi ini akan diikuti oleh para delegasi dari 20 negara.

Sumber: detik.com

Komentar Anda

komentar