Berada di kaki Gunung Cikuray di wilayah Desa Sukamukti, Kabupaten Garut, Kampung Parakan Muncang memiliki pemandangan alam eksotis yang menghipnotis mata. Angin segar khas pegunungan bertiup dengan begitu sejuk. Namun, yang menyejukkan dari Parakan Muncang bukanlah sekedar suasana alamnya, tapi juka harmoni masyarakatnya.

Dihuni dua pemeluk agama berbeda, Islam dan Protestan, masyarakat disini bahu-membahu mengupayakan agar kerukunan tetap terwujud. Bukti kerukunan mereka terpampang nyata dari bangunan masjid dan gereja yang berdiri persis bersebelahan. Begitu pula masyarakat di kampung itu, hidup berdampingan tanpa menyakiti satu sama lain.

Kami, saat Idulfitri, umat Kristen bareng makan dengan yang Muslim. Saat Natal pun, warga Muslim ikut ‘ngaliwet’ bareng dengan yang Kristen. Kami hidup rukun, tidak membesar-besarkan perbedaan,” ucap Jojon (86), seorang warga sepuh Kampung Parakan Puncang yang menganut Protestan.

Jojon yang adalah anggota jemaat GKP Pos Parakan Muncang mengatakan, umat Islam dan Protestan di kampungnya kerap saling meminjamkan barang untuk keperluan tempat ibadah masing-masing. Saat masjid belum memiliki mimbar, umat Kristen meminjamkan mimbar dari dalam gereja. Sebaliknya, saat umat Nasrani membutuhkan pengeras suara, umat Muslim meminjamkan barang tersebut.

Kalau ada acara keagamaan yang berbarengan saat hari Minggu misalnya, kami mempersilahkan dulu umat Muslim berkegiatan di masjid, baru setelah itu kami kebaktian di gereja,” kata Jojon dengan wajah sumringah.

Sikap toleransi juga ditunjukkan umat Muslim. Saat kebaktian, warga Muslim yang rumahnya berdampingan dengan gereja tidak berisik. “Suara radio di rumah dimatiin dulu kalau di gereja lagi ada kebaktian,” ucap Siti, seorang warga Muslim.

Rasa kasih sayang antar warga kampung sudah tercipta dari jaman dahulu kala. Dikatakan Jojon, sejak kakeknya masih hidup, keluarganya sudah terbiasa dengan perbedaan.  Kakek Jojon sendiri memiliki tiga anak yang beragama Islam dan enam anak beragama Protestan. Perbedaan kebutuhan ibadah itu yang membuat sesepuh warga Kampung Parakan Muncang membangun gereja dan masjid yang lokasinya bersebelahan pada era 1930-an. Perbedaan agama di dalam keluarga terus terjadi turun-temurun hingga sekarang.

Masyarakat kampung ini menyadari pertalian darah diantara mereka memunculkan kesadaran untuk menjaga kerukunan hidup. Sikap yang demokratis pun menjadi ciri khas sikap setiap keluarga di Kampung Parakan Muncang. Setiap orangtua memberikan kebebasan kepada anaknya untuk memeluk agama yang diyakini.  Kepada anaknya, orangtua hanya berpesan untuk sungguh-sungguh mengamalkan ajaran agama yang dianut.

Sebagai saudara, masyarakat Kampung Parakan Muncang melewati susah dan senang bersama-sama. Ibarat peribahasa, susah sama dipikul, ringan sama dijinjing. Nining, seorang warga Kristen, menuturkan, saat ada warga Muslim yang meninggal, warga Protestan turut membantu menggali kubur. Warga pun tak segan berbagi lahan untuk keperluan penguburan jenazah.

Sikap tolong-menolong juga tampak saat renovasi gereja. Pada 2010, bangunan gereja yang semula dibangun dengan bambu, direnovasi dengan menggunakan semen. Pelaksanaan renovasi dikerjaan bersama-sama oleh warga. Di waktu 1990-an hal yang sama dilakukan untuk masjid kampung mereka.

Sumber: pikiran-rakyat.com

Komentar Anda

komentar