Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di tempat yang kini menjadi Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil, Pewaris Tahta Kerajaan Johor yang mengasingkan diri ke Pagaruyung. Raja Kecil berdasarkan Hikayat Siak, merupakan Putra Sultan Mahmud Syah, Raja Kerajaan Johor yang dibunuh.

Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan.

Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

Siak di Riau tak hanya kental dengan budaya Melayu Islam saja, tapi juga rumah untuk beragam budaya. Kontak dengan pedagang Tiongkok dan Eropa menjadikan Siak didiami banyak warga. Bangunan bersejarah di Siak menjadi bukti fisik akan keragaman tersebut.

Dari bilboard yang terpampang di taman kota, di kabupaten Siak terdapat setidaknya 17 situs budaya yang bisa dikunjungi, sekaligus mendapatkan data tentang betapa beragamnya warisan budaya kerajaan ini. Situs budaya itu adalah Masjid Sultan Siak, Makam Pahlawan Nasional Sultan Syarif Kasim II, Balai Karapatan Tinggi, Makam Syekh Abdurrahman, Jembatan Agung Sulthanah Latifah.

Kemudian, Makam Raja Kecik (Pendiri Kerajaan Siak), Kolam Hijau, Danau Naga Sakti, Monumen Pompa Angguk, Danau Zamrud, Makam Marhum Mempura, Tangsi Belanda, Klenteng Tua (Hock Siu Kong), Kompleks Makam Koto Tinggi, Istana Sultan Siak (Asserayah Hasyimiyah), Kapal Kato dan Gereja Tua (HKBP Siak).

Klenteng Hock Siu Kiong dengan warnanya yang merah menyala, tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan lain di sekelilingnya. Kelenteng Hock Siu Kiong adalah yang tertua di Siak. Kelenteng Hock Siu Kiong ini dibangun pada tahun 1898.

Menurut keterangan pengurusnya, kelenteng ini akan selalu ramai dikunjungi oleh warga keturunan Tionghoa di Siak yang ingin bersembahyang. Apalagi saat Imlek, keramaian dan kemeriahannya bisa sampai membuat kelenteng penuh. Pada tanggal 15 setelah Imlek, alias Cap Go Meh kelenteng ini juga akan penuh. Di sekitar kelenteng, juga ada Chinatown alias Pecinan yang mencolok dengan warna merahnya yang khas. Warga sekitar pun menyebut bangunan ini sebagai Bangunan Merah Siak.

Masjid Raya Siak juga tampil sangat megah. Masjid dengan lima kubah dan satu menara itu, diperkirakan bisa menampung 1.000 jemaah. Terdiri dari ruang utama dan beranda, berhias ornamen dan ukiran Arab dan Melayu. Dilengkapi dengan perpustakaan, area parkir dan taman masjid. Selain itu ada pula masjid Syahbuddin yang terletak disamping makam Sultan Syarif Kasim II.

Bangunan-bangunan ini telah menjadi potret kerukunan yang diwujudkan dalam Kesultanan Siak yang lestari hingga kini.

Sumber detik.com

Komentar Anda

komentar