Umat Kristiani-Indonesia mungkin kurang sadar hampir seluruh istilah yang dipakainya, punya persentuhan dengan keyakinan lain, sebab dipinjam dari berbagai bahasa. Kata keselamatan, anugerah, surga, dosa, persekutuan atau firman tidak diambil dari kata Ibrani atau Eropa. Selamat diserap dari Bahasa Arab. Anugerah, surga, dosa dari Sanskerta. Sekutu dari Tamil. Sementara firman dari Bahasa Parsi.

Sedikit pula umat Islam Indonesia yang ngeh sejumlah istilah keagamaannya yang sempat populer, bukan langsung dari Bahasa Arab.

Kata serapan Parsi firman dan langgar awalnya lebih kerap digunakan ketimbang kalam atau mushala. Sejumlah kata Arab pun melalui ‘jembatan Parsi’ saat diserap. Makanya kita dulu lebih kenal kata serapan berakhiran ‘-at’ ketimbang ‘-ah’ – jemaat  bidat, umat, bukan jamaah, bid’ah, ummah. Menandakan keislaman Nusantara lebih banyak disebar melalui jalur Persia.

Lucunya, Islam di Indonesia kini lebih suka yang lebih Arabik, sehingga lebih memakai yang berakhiran ‘-ah’. Sementara umat beragama lain, khususnya Kristen, tetap memakai bentuk Persia yang berakhiran ‘-at’ tadi. Maka jama’ah dan jemaat kini punya konotasi yang berbeda, yang pertama condong ke Islam, yang lain Kristen, meski sama-sama berarti kumpulan orang yang beribadah. Beda dengan kata umat. Kata ini masih dipakai dalam arti umum, meski ada yang lebih suka kata ummah.

Ada pula surau, kiai atau pesantren yang tidak ada padanan Arabnya. Agama Islam meminjam konsep dan istilah yang sudah ada terlebih dahulu. Atau menciptakan konsep baru dari bahasa lokal.

Boleh dibilang itu banyak membantu kekristenan Indonesia. Saat menerjemahkan, agama Kristen tinggal memakai sejumlah istilah Sanskerta yang sudah lebih dahulu di-Ibrahimik-kan Islam. Kekristenan juga tinggal memakai saja term-term Arab-Parsi seperti firman, nabi, rasul, ilah, injil. Atau memakai term Arab yang akhirnya jadi khas Kristen-Indonesia semisal Alkitab.

Meski demikian, dalam perkembangannya kekristenan punya gerak-menghindar dari istilah yang condong Arab, tapi cenderung tebang-pilih. Sebagai contoh, kata madrasah dulu bisa dipakai untuk menyebut sekolah Kristiani, namun sekarang tidak lagi. Kata injil, taurat tetap dipakai orang Kristen, tapi kata zabur kini diganti dengan mazmur.

Nama tokoh yang cenderung Arab di Alkitab Terjemahan Lama, kini lebih Yudeo-Gerika di Terjemahan Baru. Misalnya Ibrahim, Ismail, Ilyas, Sulaiman dan Isa al-Masih berganti menjadi Abraham, Ismael, Elia, Salomo dan Yesus Kristus. Namun, tidak berlaku untuk semua. Nuh, Yunus, Daud, tetap dalam bentuk Arabnya, tidak menjadi Noah, Yonah atau David.

Ada pula kata Allah, nabi, rasul, roh, yang di kekristenan Indonesia, artinya berbeda dengan yang digunakan umat Islam.

Hal selanggam terjadi saat Islam diterjemahkan ke Barat. Konsep agama suku Eropa semisal god, lord, sin, grace, telah lebih dahulu di-Ibrahimik-kan oleh tradisi Yudeo-Kristianitas, sebelum akhirnya dipakai oleh Islam. Bahkan istilah semacam antichrist untuk menerjemahkan dajjal, adalah contoh penyerapan yang sangat konseptual.

Belakangan, Islam pun memperkaya dengan istilah khasnya. Kecenderungan memakai kata hijab ketimbang veil, iftar ketimbang break a fast, imam ketimbang priest, adalah contoh kosa-kata Arab-Islam yang memperkaya Bahasa Inggris.

Tapi pinjam-meminjam ini, tidak selalu berlaku kronologis, soal agama mana duluan datang…

Remy Silado menunjukkan kata tuhan, berkembang menjadi istilah yang bermakna keilahian dan dibedakan dengan kata tuan, justru karena kekristenan.

Bahasa Melayu tidak punya istilah semacam lord atau gusti, yang bisa dipakai untuk menyebut Sang Ilahi, sekaligus manusia. Sehingga penerjemah Alkitab memilih istilah Melayu tuan/twan untuk disematkan pada Yesus.

Namun yang terjadi justru lain, kata itu bervariasi menjadi tuhan dan mengembang-makna, karena dalam keyakinan Kristiani, Yesus punya dimensi keilahian. Walhasil, kita menciptakan kata Melayu baru untuk menerjemahkan god/gott/deus, tidak mesti meminjam kata Arab ilah, atau kata Sanskerta deva, cukup dengan kata tuhan. Istilah yang kini dipakai hampir semua agama di Indonesia.

Lebih unik lagi kata paderi yang sempat dipakai di Sumatera menyebut ulama puritan-Islam. Kata itu malah diserap dari Bahasa Portugis padre, yang merupakan sebutan untuk para imam gereja Katolik.

Indonesia juga tak lepas dari pinjam-meminjam sebutan agama. Dulu umat Protestan/Katolik sering disebut Sarani/Nasrani, sebutan Islam untuk pengikut Al-Masih. Sama seperti di Kalimantan, umat Islam sering disebut Salam. Belakangan, nampaknya tiap umat lebih suka disebut dengan nama yang diyakini pas. Bahkan ada yang kelewatan, seperti sebagian umat Katolik yang justru mengelak disebut Kristen.

Yang lebih unik adalah hindu. Dalam Veda, tidak ditemui sebutan hindu untuk merujuk sistem kepercayaan yang mereka yakini. Istilah Sanatana Dharma lebih sering dipakai, termasuk di Umat Hindu-Nusantara. Atau bisa langsung menyebut mazhab berdasarkan personifikasi sembahan utama (Wisnu atau Shiwa).

Kata hindu merupakan kata Parsi (di Yunani: Indous), untuk menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Sindhu/Indus. Kemungkinan besar setelah datangnya pedagang Persia, Arab dan Eropa, istilah hindu baru dipakai untuk menyebut keyakinan Vedantik-Nusantara.

Hal senada terjadi pada sebutan Khonghucu. Indonesia mungkin satu-satunya negara yang menjadikan Khonghucu sebagai agama “resmi.” Meski secara asali sebutan yang pas untuk sistem keyakinan ini adalah Ru Jiao, namun konsep pemikiran Barat yang terlanjur menyebutnya sebagai Konfusianisme, telah membuat Agama Khonghucu jadi istilah yang lebih afdol di Indonesia.

Pusing? Nah, ternyata orang Indonesia amat banyak berkelindan dalam pinjam-meminjam istilah. Termasuk istilah keagamaan. Meski ada upaya untuk menegaskan identitas lewat istilah, fenomena ini takkan pernah bisa disangkali.**arms

Komentar Anda

komentar