Pesantren kilat (sanlat) sering menjadi ciri keislaman modern yang biasanya mengisi masa-masa Ramadhan. Momen selama bulan suci itu dipakai oleh sebagian kaum remaja dan pemuda perkotaan untuk menyempatkan diri belajar agama. Meski kadang dikritisi karena ada beberapa sanlat yang caranya yang dianggap instan, atau malah dianggap menguatkan fundamentalisme agama, namun pandangan itu tidak boleh disamaratakan.

Apa yang dikerjakan Milenial Islami adalah contoh unik, bagaimana pesantren kilat ternyata juga mendukung keberagaman dan mengajarkan wawasan beragama yang luas. Milenial Islami sendiri merupakan sebuah gerakan penyebarluasan nilai-nilai Islam yang moderat dan sejuk bagi generasi muda. Kali ini mereka hadir dengan program sanlat yang mengajarkan sikap toleransi beragama kepada para pesertanya. Program ini berlangsung dalam dua angkatan yakni tanggal 25-27 Mei dan 1-3 Juni 2018.

Para peserta yang terdiri dari 50 remaja usia sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang hadir dari wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat akan mendapatkan materi mengenai pentingnya pemahaman Islam yang moderat dan mengedepankan sikap toleransi di antara sesama manusia, tanpa memandang latar belakang agamanya.

Dalam salah satu sesi materinya, para peserta sanlat diajak untuk berkeliling ke wilayah Cilincing, Jakarta Utara, di mana di dalam wilayah yang sangat berdekatan dalam radius 1 kilometer terdapat 6 rumah ibadah dari berbagai agama yang berbeda. Sebuah cerminan bhineka tunggal ika sebagai nilai luhur bangsa Indonesia. Para pemeluk agama yang berbeda-beda ini hidup rukun bertetangga.

Dalam sesi ini, Co-Founder Milenial Islami, Ust. Aan Rukmana, memberikan pesan kepada para peserta bahwa perbedaan latar belakang termasuk perbedaan agama yang dianut oleh masyarakat di Indonesia merupakan sebuah sunnatullah dan harus dimaknai sebagai sebuah rahmah atau kasih sayang dari Allah.

Generasi muda Islam Indonesia harus bersyukur hidup di tengah-tengah keragaman. Ini sebuah nikmat dari Allah yang harus terus kita pelihara,” ujar Aan.

Sanlat Milenial Islami juga mengundang perwakilan remaja dari beragam latar belakang agama seperti Buddha, Hindu, Konghucu, Katolik dan Kristen Protestan untuk hadir di Pesantren Bayt Alquran dan berdiskusi santai sesama remaja mengenai perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka. Tujuannya untuk meruntuhkan persepsi negatif yang mungkin ada di antara para pemeluk agama yang berbeda. Sesi ini ditutup dengan berbuka puasa bersama di selasar Masjid Bayt Alquran.

Selain materi terkait keberagaman, para peserta juga dibekali materi-materi bermanfaat lainnya seperti aktualisasi makna salat dan puasa, praktik dzikir asmaul husna, dan Islam sebagai agama cinta serta pelatihan mengenai 12 nilai perdamaian.

Tak hanya soal agama, ada juga materi menarik yang berhubungan dengan anak milenial yakni bagaimana cara cerdas memanfaatkan gadget dan media sosial, cara membuat vlog yang keren serta menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang damai. Program pesantren kilat Milenial Islami ini merupakan kolaborasi antara Milenial Islami, Salamul Falah Institute, Pusat Studi Al-Quran dan Peace Generation dalam menjangkau kaum muda Islam di wilayah kota.

Sumber: merdeka.com

Komentar Anda

komentar