Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2020-2025 menjadikan moderasi beragama sebagai salah satu prioritas. Pemerintahan lima tahun kedepan, mau tidak mau harus berjibaku memasuki semua lini untuk mengampanyekannya. Ada sejumlah tantangan yang begitu menjulang untuk dihadapi dalam mengarusutamakan moderasi beragama.

Tantangan pertama, yakni cara beragama yang instan, praktis, dan tidak mau ribet. Ini bisa dilihat dari hasil riset terakhir, bahwa Literatur Keislamaman Generasi Milenial (Pasca UIN Suka Press, 2018) menempatkan buku-buku Islamisme popular sebagai nomor wahid yang paling banyak dibaca kalangan milenial, disusul buku-buku yang bernuansa pengerasan identitas Islam. Literatur-literatur ini hampir semuanya berbau ideologis dan menampilkan Islam sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Bahkan tak jarang, Islam digambarkan terasa kaku, eksklusif dan ekstrim.

Tantangan ini diikuti penetrasi media sosial, di mana hampir semua kalangan menjadikan medsos sebagai tempat mencari ilmu. Ustad-ustad dan sejumlah tokoh agama pun bermunculan dengan jumlah banyak. Dulu, dalam tradisi Islam misalnya, seseorang disebut ulama apabila mempunyai kompetensi mengakses kitab muktabarah dan keilmuwan mendalam. Di era digital ini, hanya bermodalkan retorika dan followers banyak serta publikasi yang massif, maka otoritas sebagai tokoh agama sudah diakui para milenial.

Sumber bacaan milenial dan pergeseran otoritas ini perlu mendapat catatan dari pemerintah. Mengampanyekan moderasi agama tidak bisa lagi dengan cara-cara konvensional-manual, sebab banyak sekali gagasan baru yang ideal, tetapi tidak diiringi dengan kebijakan yang fungsional-kontekstual. Literatur Islam moderat (gejala serupa juga di kalangan Kristiani) selama ini cenderung –kalau tidak mengatakan semuanya – masih memakai istilah-istilah lama, terlalu serius, kurang gaul, dan tidak memperhatikan audiensnya.

Secara konten dan materi, proyek digitalisasi merupakan hal yang mesti dikerjakn. Lebih jauh, ini harus menampilkan agama yang ramah dan menghargai perbedaan. Agama yang tidak eksklusif dan mengklaim keselamatan diri sendiri. Selama ini, materi yang berbasis kemanusiaan dan kebudayaan sangat minim dalam literatur buku agama di negeri ini.

Pendekatan bahwa belajar tentang ketuhanan bukan untuk Tuhan, tetapi lebih proses pembebasan yang melahirkan kedamaian dan  harmoni di tengan umat manusia. Etika-hukum adalah pengejawantahan agama yang tidak saklek, hitam-putih, mukmin-kafir, surga-neraka, tetapi lebih kepada sisi akhlak dalam menghargai sesama.

Hal yang sama dengan penekanan pada sisi sosial-humaniora, bahwa agama tidak melulu soal tuhan dan segala turunannya, tetapi ia adalah soal kemanusian dan bagaimana bergaul dan berintraksi dengan kosmos dan kosmis. Filsafat dapat digunakan sebagai alat untuk mempertajam daya kritis dan mendalam, tidak mudah termakan hoax dan ujran kebencian.

Poin-poin tantangan iniharus diformulasikan dengan cara-cara kekinian dengan bahasa ke-disini-an. Penghargaan terhadap sesama, budaya damai, dan saling asah dalam beragama dan saling asuh dalam kehidupan harus ada dalam setiap literatur digital yang diprogrankam.

Disarikan dari: Moderasi Agama dan Literatur Pro-Kebhinekaan oleh Hamka Husein Hasibuan (mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga)

Ilustrasi: Creatoz

Komentar Anda

komentar