Penerbit Karaniya sampai saat ini telah menerbitkan 12 judul buku karya Thich Nhat Hanh. Sudah banyak yang mengetahui riwayat Biksu Thich Nhat Hanh. Namun kisah tentang beliau yang ditulis oleh Vajiramedhi masih menarik untuk disimak.

Dalam bukunya, The Miracle of Suffering (edisi Indonesia telah diterbitkan Penerbit Karaniya), Bhante Vajiramedhi berkisah tentang Thich Nhat Hanh dan apa yang dilihatnya di Plum Village, Perancis pada saat kunjungannya di tahun 2009. Berikut ini adalah beberapa petikannya.

Plum Village, yang lebih mirip sebuah desa daripada sebuah wihara, dibangun oleh seorang biksu dari Vietnam bernama Thich Nhat Hanh. Di sana, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Thich Nhat Hanh mengajar. Hanya kursus meditasi yang ditawarkan di sana. Di retret yang saya ikuti, ada hampir tujuh ratus peserta, sebagian besar orang Barat. Tidak ada amulet, jimat, aji, jampi sakti yang diberikan atau disarankan. Hanya meditasi dan pengembangan pikiran yang diajarkan. Hanya Dharma murni yang menarik orang Barat dari seluruh dunia ke wiharanya.

Saya adalah satu-satunya biksu Therawada Thailand di antara sekitar tujuh ratus orang Barat. Thich Nhat Hanh adalah seorang biksu Zen dari Vietnam dengan balutan jubah coklat tua. Saya adalah satu-satunya biksu yang memakai jubah jingga kunyit. Ketika berada di sana, saya terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa ini adalah Dharma yang sesungguhnya, pertunjukan sejati.

Selama latihan, di tengah-tengah orang asing, saya menoleh ke belakang, merenungkan negara saya sendiri, Thailand. Apakah di sana ada sebanyak ini orang yang tertarik dengan Dharma? Jika para biksu hanya memberikan khotbah mengajarkan Dharma, tanpa membagi amulet, aji, atau cindera mata, apakah umat akan tertarik dan berpartisipasi? Ini ada di pikiran saya sepanjang waktu.

Baca juga  Dosen Ekonomi Islam Bicarakan Toleransi Agama di Kampus Buddhis

Pikiran lain dalam benak saya adalah kenyataan menakjubkan bahwa seorang biksu dalam pengasingan, yang suatu ketika tidak memiliki tempat untuk menjejakkan kaki, diasingkan sendirian, telah menjadi sosok magnet spiritual dahsyat yang menarik orang dari seluruh penjuru dunia untuk pergi mengunjunginya. Perlu dicatat bahwa beliau pernah menjadi kandidat utama hadiah Nobel Perdamaian.

Kepulangan beliau ke negara asalnya sekarang seperti kedatangan seorang negarawan. Bepergian keliling dunia, beliau diperlakukan seperti seorang tokoh selebriti. Wiharanya telah memiliki cabang di seluruh dunia. Buku-buku beliau masuk dalam daftar buku laris internasional.

Pertanyaannya adalah: mengapa orang yang dijadikan korban dan dianiaya hingga terdampar jauh ke ujung dunia serta yang sungguh menderita seperti ini telah menjadi, melalui perjalanan waktu, seorang pemimpin yang karismatik dan penuh bahagia?

Thich Nhat Hanh sesungguhnya adalah simbol kesengsaraan dan penderitaan mengerikan, kesulitan ekstrem dan pengasingan tanpa tempat tinggal. Namun demikian, sekarang beliau telah menjadi seorang tokoh penting di mata dunia. Tak bisa dipungkiri, ini disebabkan oleh kontribusi besar dari apa yang disebut penderitaan.

Tanpa penderitaan yang menyiksa itu, akankah beliau berkelana keliling dunia? Tanpa penderitaan, mampukah beliau sedemikian memahami penderitaan umat manusia di seluruh dunia? Tanpa penderitaan, bisakah beliau berhasil berkampanye bagi perdamaian dunia? Tanpa penderitaan, akankah beliau memiliki pandangan terang yang sedemikian mendalam tentang Dharma seperti ini?

Thich Nhat Hanh telah bangkit ke garis terdepan pemimpin spiritual dunia karena beliau telah sangat menderita dalam hidupnya. Beliau pernah dimasukkan dalam daftar pencarian orang oleh pejabat berwenang dari rezim komunis. Untungnya, beliau melarikan diri tepat pada waktunya. Lihatlah bagaimana penderitaan menghampiri kita dan membuat kita memanen kebahagiaan? Sejak berada di sana, beliau menemukan Dharma mendalam dan telah menyebarkannya ke sebagian besar umat di dunia.

Baca juga  Pesan Dalai Lama Terkait Perilaku Rasisme di AS

Selama berhari-hari saya menghabiskan waktu dengannya, saya bertanya pada diri sendiri: apakah ini orang yang telah sangat menderita? Apakah ini orang yang pernah masuk daftar pencarian orang? Apakah ini orang yang dahulu tidak memiliki negara untuk tinggal? Mengapa beliau sekarang memancarkan aura yang begitu membahagiakan? Sinar matanya penuh belas kasih dan cinta kasih.

Setiap gerakannya meluap penuh dengan sadar-penuh, menjadikan orang waspada seketika bahwa seorang yang penuh kebahagiaan sedang bergerak di depannya. Seorang bahagia sedang berceramah di depan kita. Seorang bahagia sedang menjalani kehidupannya di depan kita. Beliau memancarkan kebahagiaan dalam keheningan. Dengan berada di dekatnya, seseorang akan seketika tahu bahwa inilah sosok kebahagiaan yang bergerak.

Pernahkah Anda melihat orang seperti kebahagiaan yang bergerak? Pejalan kaki yang kita lihat di jalan sebagian besar adalah ketidakbahagiaan yang bergerak. Kapankah kita bisa mengubah diri menjadi kebahagiaan yang bergerak seperti Thich Nhat Hanh? Kita akan mencapai keadaan itu hanya ketika kita dapat memahami kebahagiaan tersembunyi di balik penderitaan yang kita alami. Apabila memandang penderitaan sebagai guru, kita tidak akan lagi membenci atau takut atau menghindari penderitaan.

Sumber: Buddhazine

Bagikan

Komentar Anda

komentar